Kolaborasi Perbankan dan Fintech Diharapkan Makin Kuat Usai Pandemi

Bank dan perusahaan fintech menilai pandemi corona menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kolaborasi karena usai pandemi era digital makin mendominasi.
Image title
16 Juni 2020, 06:30
Ilustrasi, financial technology (fintech). Bank dan perusahaan fintech menilai pandemi corona menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kolaborasi karena usai pandemi era digital makin mendominasi.
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi, financial technology (fintech). Bank dan perusahaan fintech menilai pandemi corona menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kolaborasi karena usai pandemi era digital makin mendominasi.

Pandemi virus corona atau Covid-19 dinilai menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara perbankan, dan perusahaan teknologi finansial atau financial technology (fintech).

Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Investree, Adrian Gunadi mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat kolaborasi dengan industri perbankan dan ekosistem lainnya. Alasannya, setelah memasuki era normal baru atau new normal usai pandemi corona, digitalisasi bakal menjadi tren di masa mendatang.

Ia menambahkan, lembaga keuangan, seperti perbankan maupun asuransi, harus melakukan akselerasi digitalisasi guna menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Termasuk, mencermati cara kerja perusahaan fintech. Terlebih, peran regulator mulai terbuka dengan hadirnya fintech.

“Sebanyak 161 perusahaan peer to peer landing (P2P lending) sudah terdaftar di Indonesia dan 33 di antaranya memiliki izin penuh di Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” katanya.

Pendapat senada juga diungkapkan Direktur Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Krisna Wijaya. Menurutnya, kolaborasi kini sangat penting dilakukan, baik bersifat bank to bank, maupun bank to fintech.

Kolaborasi antara bank dan fintech ia pandang penting, terutama soal inovasi. Pasalnya, bank cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang fintech dalam inovasi. Hal tersebut, salah satunya dipengaruhi adanya aturan yang ketat di sektor perbankan.

“Bank lebih ketat, ada peraturan yang diikuti. Kalau fintech hari ini punya ide, dua bulan sudah bisa diluncurkan,” ujar dia.

(Baca: Fintech Proyeksi Penyaluran Kredit Naik Saat Normal Baru)

Di sisi lain, fintech saat ini merupakan penantang potensial bagi perbankan, karena memiliki lini bisnis yang juga dilakukan oleh bank. Oleh sebab itu, dibutuhkan regulasi yang komprehensif untuk memayungi potensi ini.

Executive Vice President Digital Center of Excellence PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Kaspar Situmorang menyebut, kolaborasi antara bank dan fintech memang menjadi hal yang krusial dewasa ini. Alasannya, bank perlu memperkuat ekosistem keuangan agar lebih inklusif.

Ia menjelaskan, BRI sebagai bank yang fokus pada segmen mikro sejak 2017 mencanangkan slogan 'Digital First and Ecosystem First'. Tujuannya, untuk menjangkau pasar dan masyarakat seluas-luasnya, termasuk segmen ultra mikro, mempercepat pinjaman, dan memperluas penggunaan teknologi digital.

Oleh karena itu, pada 2018 BRI menggandeng fintech P2P lending, yakni investree, dan menyalurkan kredit sebesar Rp 50 miliar melalui Investree. Jumlah ini kemudian meningkat menjadi Rp 200 miliar pada 2019. Tahun ini, BRI berencana meningkatkan penyaluran kredit hingga Rp 1 triliun melalui Investree.

Kolaborasi BRI dan Investree ini, selain mengakselerasi inklusi keuangan sekaligus mempermudah proses pencairan dana kepada para pengusaha ultra mikro.

Kini pencairan dana bisa berlangsung 2 menit, dengan hanya men-scan KTP calon nasabah dan juga scan wajah. Padahal, sebelumnya pencairan kredit ultramikro paling cepat selama dua minggu.

“Dengan scan wajah, dan KTP dana pinjaman bisa cair. Kami pun tidak khawatir terkait kredit bermasalah, sebab hingga saat ini non performing loan (NPL) kredit melalui Investree masih 0%,” kata Kaspar.

(Baca: Bank Makin Serius Garap Layanan Online, Asosiasi Fintech Siap Bermitra)

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah
Video Pilihan

Artikel Terkait