Inflasi Maret Capai 0,1% Disumbang Kenaikan Harga Emas dan Gula

Inflasi pada Maret terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan, telur ayam ras, dan gula pasir.
Agustiyanti
1 April 2020, 11:30
inflasi, harga pangan, bps, emas perhiasan, gula pasir
antara foto/ADITYA PRADANA PUTRA
Ilustrasi. Inflasi pada Maret 2020 terutama disumbang oleh kenaikan harga emas.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Maret 2020 mencapai 0,10% secara bulanan, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya sebesar 0,28%. Inflasi disumbang kenaikan harga emas perhiasan dan bawang merah. 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, inflasi secara tahun kalender mencapai 0,76 %, sedangkan secara tahunan tercatat 2,96%. Inflasi terjadi di 43 kota indeks harga konsumen, sedangkan 47 kota IHK mengalami deflasi. 

"Dari angka ini, saya mengambil kesimpulan bahwa inflasi pada Maret cukup terkendali," ujar Suhariyanto dalam konferensi video, Rabu (1/4).

Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,64%, sedangkan terendah berada di Surabaya, Surakarta, dan Lhokseumawe sebesar 0,01%. Sementara deflasi tertiggi terjadi di Timika sebesar 1,91% dan deflasi terendah di Tangerang 0,01%.

Advertisement

(Baca: Harga Emas Perhiasan Naik, BI Prediksi Inflasi Maret 0,13%)

Dari 11 kelompok pengeluaran yang ada, dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi yakni kelompok transportasi dan kelompok informasi komunikasi, dan jasa keuangan.

Adapun kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi dengan kenaikan tertinggi terjadi pada perawatan probadi dan jasa lainnya sebesar 0,06%. Sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi 0,03%.

Berdasarkan komoditasnya, harga emas perhiasan memberikan andil paling besar yakni sebesar 0,05%. Kemudian, kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan rokok juga masih memberikan andil pada inflasi.

Kenaikan harga telur ayam ras menyumbang 0,03%, bawang bombay 0,03%,  gula pasir 0,02%, serta rokok kretek putih dan filter masing-masing sebesar 0,01%.  "Sedangkan penghambat utama inflasi atau deflasi karena penurunan harga cabai merah, cabai rawit, dan tarif angkutan," kata dia. 

(Baca: Marak Corona, Industri Minuman Masih Genjot Produksi Jelang Puasa)

Berdasarkan komponennya, inflasi inti mencapai 0,29% dengan andil 0,19%. Sementara komponen harga diatur pemerintah dan harga bergejolak mengalami deflasi masing-masing 0,19% dan 0,38% dengan andil 0,03% dan 0,06%

Suhariyanto mengingatkan, agar pemerintah bersiap menjaga pasokan pangan dan kelancaran distribusi. Pasalnya, bulan depan sudah mulai memasuki bulan puasa.

"Dengan apa yang sudah dicapai pemerintah tahun lalu, kami berharap inflasi Ramadan dan Lebaran akan terkendali," ungkap Suhariyanto. 

Sebelumnya Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam memperkirakan inflasi pada Maret lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya karena penurunan permintaan akibat pandemi corona. Sementara ketersediaan suplai barang-barang tertentu seperti bawang putih cukup baik. 

Senada, Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai inflasi lebih rendah pada bulan ini karena penurunan pada kelompok harga barang yang bergejolak. Inflasi inti juga relatif stabil. 

Wabah virus corona sebelumnya diperkirakan dapat berdampak pada pergerakan inflasi di tahun ini. Tahun lalu, Indonesia berhasil mencatatkan inflasi terendah dalam 20 tahun terakhir, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini. 

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait