KPK Tetapkan Eks Direktur Jasindo Tersangka Kasus Komisi Fiktif

Image title
20 Mei 2021, 19:05
kpk, korupsi, jasindo, bumn
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.
Ketua KPK Firli Bahuri melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (29/4/2020). Firli mengumumkan mantan Direktur Keuangan Jasindo Solihah sebagai tersangka kasus dugaan komisi fiktif, Kamis (20/5).

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengembangkan penyidikan kasus korupsi terkait komisi kegiatan fiktif PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Mereka menetapkan mantan Direktur Keuangan dan Investasi Jasindo, Solihah sebagai tersangka tindak pidana korupsi.

Ia diduga terlibat dalam kasus pembayaran komisi kegiatan fiktif agen Jasindo dalam penutupan (closing) asuransi oil & gas di BP MIGAS-KKKS pada 2010-2012 serta 2012-2014.

"Setelah melakukan penyelidikan yang kemudian ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup, KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan pada bulan Oktober 2020," kata Ketua KPK Firli Bahuri di Gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (20/5).

 

Selain Solihah, KPK menetapkan tersangka pada pemilik PT Ayodya Multi Sarana Kiagus Emil Fahmy Cornain. Keduanya disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Setelah memeriksa 46 orang saksi, tim penyidik melakukan penahanan pada Kiagus untuk 20 hari ke depan. Penahanan dimulai sejak tanggal 20 Mei 2021 sampai dengan 8 Juni 2021 di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur.

Sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19, Kiagus akan dilakukan isolasi mandiri selama 14 hari pada Rutan KPK Kavling C1. Sedangkan, KPK telah melakukan pemanggilan pada Solihah, mamun tidak bisa hadir karena sakit.

"Tim penyidik segera melakukan penjadwalan dan pemanggilan ulang dan nantinya akan kembali kami informasikan lebih lanjut," ujar Firli.

Konstruksi perkara kasus tersebut bermula pada Kiagus yang melakukan lobi kepada beberapa pejabat BP Migas. Lobi dilakukan untuk memenuhi keinginan mantan Direktur Utama Jasindo Budi Tjahjono yang menginginkan perusahaan tersebut menjadi pimpinan konsorsium dalam penutupan asuransi proyek dan aset BP Migas-KKKS Tahun 2009-2012.

Atas bantuan yang diberikan Kiagus, selanjutnya Budi Tjahjono memberikan sejumlah uang dengan memanipulasi cara mendapatkan pengadaannya seolah-olah menggunakan jasa agen asuransi yang bernama Iman Tauhid Khan, anak buah Kiagus.

Dengan begitu, terjadi pembayaran komisi agen dari Jasindo kepada Iman sebesar Rp 7,3 miliar. Padahal, terpilihnya Jasindo sebagai leader dalam konsorsium penutupan asuransi di BP Migas tidak menggunakan agen.

Advertisement

Hal ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 angka (9) dan Pasal 19 angka (2) Surat Keputusan Direksi PT Asuransi Jasa Indonesia Nomor SK.024 DMA/XI/2008 tanggal 17 November 2008 tentang Pola Keagenan Marketing Agency PT Asuransi Jasa Indonesia.

"Jumlah uang Rp 7,3 miliar tersebut, lalu diserahkan oleh KEFC (Kiagus) kepada Budi Tjahjono sebesar Rp 6 miliar dan sisa Rp 1,3 miliar dipergunakan untuk kepentingan KEFC," ujar Firli.

Melanjutkan perintah Budi, direksi lalu menggelar rapat yang dihadiri Solihah. Rpaat memutuskan tidak lagi menggunakan agen Iman dan diganti dengan Supomo Hidjazie serta menyepakati pemberian komisi agen dari Supomo yang dikumpulkan melalui Solihah.

Dalam proses pengadaan penutupan asuransi proyek dan aset tersebut, Budi Tjahjono menggunakan modus seolah-olah pengadaan didapatkan atas jasa agen asuransi Supomo dengan pembayaran komisi agen sejumlah US $600 ribu. Uang itu diberikan secara bertahap oleh Supomo kepada Budi melalui Solihah.

Uang tersebut lalu digunakan untuk keperluan pribadi Budi Tjahjono sekitar sejumlah US$ 400 ribu serta keperluan pribadi Solihah sekitar sejumlah US$ 200 ribu. "Terkait fakta dugaan ini, KPK akan mengembangkan lebih lanjut dalam proses penyidikan perkara ini," kata Firli.

 

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait