Colin Powell Meninggal Usai Kena Covid-19, Vaksin Tetap Efektif?

Sebelumnya mantan Menteri Luar Negeri AS tersebut telah mendapatkan vaksin Covid-19 dosis lengkap. Ahli mengatakan vaksinasi tetap mampu mengurangi kematian pasien corona
Ameidyo Daud Nasution
19 Oktober 2021, 15:56
vaksin, colin powell, covid-19
U.S. Department of State/twitter
Mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Colin Powell meninggal di usia 84 tahun pada Senin (18/10) karena komplikasi Covid-19. Padahal, ia telah menerima vaksin dengan dosis lengkap.

Lalu apakah vaksinasi dosis lengkap akan membuat seseorang terhindar dari kematian akibat Covid-19?

 Analis medis dari CNN yang juga dr. Leana Wen mengatakan vaksin tak akan 100% melindungi seseorang. Meski demikian, mereka yang menjalani vaksinasi enam kali lebih rendah tertular Covid-19 dan 11 kali mengurangi kematian.

Dalam kasus Powell, Wen mengatakan bahwa individu yang lebih tua dan memiliki riwayat kesehatan lainnya dapat mengakibatkan kondisinya lebih parah usai positif Covid-19. Apalagi penyakit yang diderita sebelumnya menyerang kekebalan tubuh.

Powell juga  menderita multiple myeloma, salah satu jenis kanker darah yang berkembang di sel plasma sumsum tulang. Jenderal bintang empat tersebut juga menderita penyakit parkinson.

“Memiliki multiple myeloma akan menempatkan Jenderal Powell ke dalam kategori ini (rentan) selain usianya yang lebih tua,” kata Wen dikutip dari CNN, Selasa (19/10).

Studi yang dilakukan Nature, Juli lali, menunjukan hanya 45% penderita multiple myeloma yang mampu merespon dengan baik vaksin Covid-19 sementara 22% lainnya menunjukan hasil yang beragam, dan sepertiga lainnya tidak mampu memberikan respon.

Sejumlah ahli kesehatan di AS juga khawatir kematian Powell akan menjadi alasan sejumlah pihak menolak vaksinasi. Wen lalu mengingatkan bahwa tidak ada satupun obat yang benar-benar efektif untuk menyelamatkan seluruh manusia. “Ada obat untuk mengobati penyakit jantung, tetapi tidak 100% efektif..tidak ada,” katanya.

Wen lalu merujuk studi yang didukung National Institutes of Health bahwa vaksin mencegah 139 ribu kematian di AS dalam lima bulan pertama 2021. Adapun, angka kematian pasien corona di Negeri Abang Sam hingga 9 Mei lalu mencapai 570 ribu orang. “Tanpa vaksin, 709 ribu kematian bisa saja terjadi,” ujarnya.

Dia juga menganalogikan vaksin sebagai jas hujan yang dipakai di kala hujan. Jas tersebut akan menghindarkan seseorang dari basah ketika terkena gerimis. Namun orang tersebut bisa jadi akan basah kuyup jika berjalan di kala badai.

“Masalahnya bukan pada vaksin, tetapi terlalu banyak virus di sekitar anda,” ujar dia.

Oleh sebab itu, kunci untuk mengurangi kematian pasien adalah melakukan vaksinasi sebanyak mungkin. Selain itu masyarakat perlu menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker dengan sangat ketat.

Selain itu Pemerintah AS juga telah merekomendasikan pemberian dosis tambahan vaksin. Wen mengatakan booster ini diperlukan bagi orang dengan gangguan kekebalan. “Pada akhirnya, kunci mengurangi risiko dan mengakhiri pandemi Covid-19 adalah agar kita semua divaksinasi,” ujarnya.

Sedangkan profesor kedokteran dan bedah di George Washington University, Jonathan Reiner meminta anak muda dan berisiko rendah menjalani vaksinasi. Hal ini untuk mencegah orang berusia lanjut dan rentan seperti Powell tertular.

"Anda mungkin berusia 25 tahun dan cukup kuat menahan virus tetapi  Anda tertular, Anda bisa menyebarkan virus ke orang-orang rentan seperti Powell," kata Reiner.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait