Bahkan sebelum strategi ini dirumuskan, upaya transisi untuk mengurangi ketergantungan terhadap gas dari Rusia sudah berjalan. Di Italia, masyarakat didorong untuk mengganti pemanas air gas dengan yang listrik.

Kemudian di Prancis, Presiden Emmanuel Macron mengumumkan rencana ambisius untuk membangun lebih dari selusin pembangkit listrik tenaga nuklir yang jika benar-benar dibangun akan membatasi penjualan gas alam Rusia ke utilitas Prancis.

Serta langkah Jerman untuk membekukan proyek pipa gas Nord Stream 2 meskipun memiliki kedekatan yang sangat erat dengan sektor energi Rusia. Bahkan mantan Kanselir Gerhard Schroder merupakan chairman perusahaan minyak terbesar Rusia, Rosneft.

Jerman juga telah menyetujui anggaran sebesar US$ 68 miliar pada bulan Desember 2021 untuk mengebut proyek infrastruktur hijau dan iklimnya.

Belum Bisa Lepas dari Pasokan Gas Rusia

Meski demikian tak dapat dipungkiri upaya ini akan berbiaya besar dan membutuhkan waktu. Sebab mengembangkan energi terbarukan dan membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk untuk mengalirkan pasokan alternatif gas membutuhkan biaya yang sangat mahal.

“Rusia masih menjadi sumber gas termurah Eropa. Jadi Eropa harus rela membayar lebih mahal," kata kepala pendiri Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, Jason Bordoff, yang bekerja pada isu-isu energi dan iklim di pemerintahan Barack Obama.

Artinya Eropa masih akan bergantung pada Rusia untuk kebutuhan energinya selama krisis geopolitik saat ini. Apalagi jika Rusia memotong gas sepenuhnya menjelang musim dingin berikutnya, itu akan menjadi pukulan telak bagi Eropa.

Georg Zachmann, seorang ahli energi di Bruegel, sebuah lembaga pemikir kebijakan yang berbasis di Brussels, mengatakan Eropa dapat mengalami kekurangan gas 20%. "Meskipun semua alternatif pasokan gas Rusia mengalir pada kapasitas penuh hingga musim dingin mendatang," ujarnya.

Halaman: