Gaikindo Dorong Pemanfaatan Bioetanol untuk Turunkan Emisi Karbon

ANTARA FOTO/Siswowidodo/wsj.
30/11/2021, 14.58 WIB

Namun ia menilai tren tersebut sulit terealisasi setidaknya hingga 10 tahun, bahkan 20 tahun ke depan, karena kendala pada keekonomian kendaraan listrik. Di samping itu, suplai listriknya pun masih didominasi dari energi fosil seperti batu bara dan gas alam. Sehingga tak ideal dari perspektif perubahan iklim.

"Sebelum menuju ke tren EV (kendaraan listrik) dalam 10 hingga 20 tahun ke depan bioetanol dapat menjadi alternatif dekarbonisasi di sektor transportasi," ujarnya dalam Webinar secara virtual “Etanol: Dekarbonisasi Bahan Bakar Kendaraan dalam Bioekonomi”, Rabu (25/8).

Beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia merupakan negara yang sukses dalam menerapkan etanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan.

Sharp menuturkan, di Australia implementasi program bioetanol pada 6 pabrik bioetanol berkapasitas masing-masing 100 juta liter, memiliki dampak yang sangat positif. Misalnya gas emisi berkurang hingga 2,6 juta ton per tahun dan membuka hingga 4.000 lapangan pekerjaan.

Kemudian meningkatkan modal investasi daerah hingga US$ 720 juta (sekitar Rp 10,4 triliun) dan pendapatan tahunan sebesar US$ 500 juta (Rp 7,2 triliun), serta meningkatkan kapasitas produksi baru etanol negeri Kanguru yang diproyeksikan sekitar 550 juta liter per tahunnya.

Sedangkan di AS, berdasarkan studi Environmental Health & Engineering, Inc pada 2020, program E10 (etanol 10%) dalam campuran bensin dapat meningkatkan nilai oktan hingga 3-4 tingkatan. Program E10 juga menurunkan 46% gas emisi karbon dibandingkan dengan bensin murni, dari hulu ke hilir.

Berdasarkan laporan Climate Transparency Report 2020 tentang perkembangan upaya pengurangan emisi di negara G20 berdasarkan target Nationally Determined Contribution (NDC). Transportasi menyumbang 27% emisi sektor energi. Simak databoks berikut:

Halaman:
Reporter: Verda Nano Setiawan