PLN Luncurkan Smart and Green Building, Pasang PLTS Atap di Ratusan Gedung
PT PLN meluncurkan program Smart and Green Building pada Senin (11/5). Program ini mencakup pemasangan PLTS Atap dan sistem pemantauan energi secara bertahap pada ratusan gedung yang dikelola grup di seluruh Indonesia.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan perkembangan teknologi membuat pengelolaan energi di gedung semakin terintegrasi dan otomatis. “Dulu, paradigma PLN adalah menjual listrik dan mengoptimalkan biaya. Sekarang PLN bertransformasi menjadi Energy Digital Platform yang mengorkestrasi ekosistem energi melalui kolaborasi dan value creation,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers, Senin (11/5).
Dia menambahkan, perkembangan teknologi seperti PLTS Atap, kendaraan listrik, hingga otomasi bangunan membuat gedung dan rumah kini tidak lagi hanya menjadi pengguna tapi produsen energi. “Karena itu PLN harus siap menghadapi ekosistem energi yang semakin digital dan dua arah,” kata dia.
Executive Vice President Umum dan Aset Properti PLN Khairullah menjelaskan perusahaan telah memetakan sekitar 400 gedung yang layak dipasangi PLTS Atap dari total 1.300 gedung yang dikelola perusahaan di seluruh Indonesia.
"Dalam roadmap 2026-2035, PLN menargetkan kapasitas PLTS Atap mencapai 12 megawatt peak (MWp), penggunaan 7.251 unit IoT Smart AC, serta kontribusi pengurangan emisi karbon hingga 0,3 juta ton CO2 equivalent,” ujarnya.
Pada tahap awal, di tahun ini, program dilaksanakan di 10 gedung, dengan Gedung Trapesium di Kantor Pusat PLN sebagai percontohan. Pada 10 gedung ini, PLN menargetkan pemasangan PLTS Atap berkapasitas 1.100 kilowatt peak (kWp) dan 471 unit IoT Smart AC yang terhubung dengan sistem pemantauan energi digital.
Sistem ini memungkinkan pemantauan dan pengaturan penggunaan energi secara lebih efisien dan real time. Adapun Gedung Trapesium kini telah dilengkapi PLTS Atap berkapasitas 89,28 kWp yang terintegrasi dengan sistem pemantauan energi digital tersebut.
Komisaris Independen PLN Andi Arief menilai program ini menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan apa yang digaungkannya. “Kami ini perusahaan penjual energi. Tidak elok rasanya kalau bicara transisi energi kepada pelanggan, tetapi kantor kami sendiri masih boros. PLN harus menjadi etalase efisiensi energi itu sendiri,” ujar Andi.
Dia meyakini bahwa penerapan prinsip keberlanjutan bukan sekadar biaya tambahan. "Tetapi bagian dari efisiensi dan investasi masa depan perusahaan,” ucapnya.