Advertisement
Analisis | Danantara Masuk Ekspor Batu Bara: ESG Menguat, Dekarbonisasi Melambat - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Danantara Masuk Ekspor Batu Bara: ESG Menguat, Dekarbonisasi Melambat

Foto: Katadata/Yana
Riset Katadata ESG Insight (KESGI) menunjukkan penguatan ESG sektor tambang batu bara belum sepenuhnya diikuti transformasi bisnis dan penurunan emisi yang konsisten menuju transisi energi.
Tim Publikasi Katadata
Oleh Tim Publikasi Katadata
12 Juni 2026, 12.27
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Di tengah langkah pemerintah menata ekspor komoditas strategis melalui skema satu pintu di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), sorotan terhadap kesiapan industri batu bara menghadapi transisi energi kembali menguat. 

Batu bara menjadi salah satu komoditas yang akan dikelola melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), anak usaha Danantara yang ditunjuk untuk mengelola ekspor komoditas strategis.

Pada saat yang sama, riset Katadata ESG Insight (KESGI) menunjukkan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor tambang batu bara terus membaik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penguatan ESG tersebut belum sepenuhnya diiringi percepatan dekarbonisasi maupun transformasi bisnis menuju energi rendah karbon.

Dalam riset bertajuk Analisis ESG Transisi Tambang: Implementasi ESG untuk Transisi Energi dan Akselerasi Dekarbonisasi Industri Batu Bara, median skor ESG sektor batu bara meningkat dari 40 pada 2021 menjadi 49 pada 2023. Namun skor tersebut turun menjadi 47,9 pada 2024.

Pada saat yang sama, indikator yang paling dekat dengan agenda dekarbonisasi justru menunjukkan pelemahan. Median skor strategi transisi iklim naik signifikan dari 25 pada 2021 menjadi 66,67 pada 2024. Namun median skor manajemen emisi turun dari 59,88 pada 2023 menjadi 41,71 pada 2024. Median skor manajemen energi juga turun dari 76,67 pada 2023 menjadi 58,61 pada 2024.

ESG Data Analyst Katadata Green, Fitria Purnamasari, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa komitmen perusahaan berkembang lebih cepat dibanding implementasi operasionalnya.

“Banyak perusahaan sudah menunjukkan komitmen ESG melalui laporan, kebijakan, dan strategi transisi iklim. Namun implementasi operasionalnya belum konsisten,” kata Fitria dalam Media Workshop & Kolaborasi Liputan bertema Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan yang digelar Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) bersama Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5).

Temuan itu menjadi salah satu gambaran bagaimana ESG mulai berkembang di sektor batu bara Indonesia. Akan tetapi, ESG belum sepenuhnya menjadi pendorong transformasi bisnis menuju energi rendah karbon.

Media Workshop KESGI
Media Workshop KESGI (Katadata/Fauza)

Batu Bara Masih Menjadi Penopang Energi Nasional

Posisi sektor batu bara di Indonesia memang berada dalam situasi yang kompleks. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan batu bara menyumbang sekitar 64% pembangkitan listrik Indonesia pada 2023. Produksi batu bara nasional juga tetap tinggi. Data Minerba One Data Indonesia Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara Indonesia mencapai sekitar 830 juta ton pada 2024, melampaui target pemerintah.

Ketergantungan tersebut membuat transisi energi tidak dapat dilakukan secara instan. Batu bara masih menjadi sumber devisa ekspor, penyedia lapangan kerja, sekaligus penopang ekonomi daerah penghasil tambang.

Pemangkasan produksi batu bara 2026
Tambang Batu Bara (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar)

Chief Content Officer Katadata, Heri Susanto, mengatakan Indonesia saat ini berada di persimpangan dalam pembangunan energi nasional.

“Batu bara masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun di sisi lain, Indonesia juga telah berkomitmen terhadap pengurangan emisi karbon dan target net zero emission,” ujar Heri dalam Media Workshop Katadata Green bertajuk Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan di Jakarta, Rabu (13/5).

Di tengah tekanan global terhadap energi fosil, sebagian perusahaan tambang mulai melakukan penyesuaian strategi bisnis. PT Indika Energy Tbk misalnya, secara terbuka menyatakan target untuk menurunkan ketergantungan pada batu bara dan memperbesar porsi bisnis non-batu bara dalam portofolionya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa sebagian perusahaan mulai merespons tekanan transisi tidak hanya melalui laporan keberlanjutan, tetapi juga melalui perubahan arah bisnis secara bertahap.

ESG Menjadi Instrumen Transisi, Bukan Tujuan Akhir

Riset KESGI menekankan bahwa ESG bukan tujuan akhir dari transisi energi, melainkan instrumen untuk mengukur kesiapan perusahaan menuju transformasi bisnis yang lebih rendah karbon. Karena itu, peningkatan skor ESG tidak otomatis berarti perusahaan telah melakukan dekarbonisasi secara mendalam.

Menurut Fitria, ESG di sektor batu bara saat ini masih lebih banyak berfungsi sebagai alat pengelolaan risiko, kepatuhan regulasi, dan penguatan tata kelola.

“Belum terlihat kuat bahwa ESG sudah menjadi dasar utama keputusan investasi, diversifikasi energi, perubahan portofolio, atau pengurangan ketergantungan pada batu bara,” kata dia. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar perusahaan masih berada pada tahap efisiensi operasional dibanding transformasi bisnis yang lebih mendasar.

Riset KESGI menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan analisis data sekunder dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan.

Analisis dilakukan menggunakan dashboard Katadata ESG Insight yang menghimpun data dari sustainability report, annual report, public expose, dan berbagai publikasi perusahaan terbuka yang kemudian diverifikasi melalui kuesioner.

Dalam Media Workshop bertema Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan yang digelar Yayasan Bicara Data Indonesia bersama Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5), Deputy Head Katadata Green, Jeany Hartriani, mengatakan salah satu tantangan terbesar ESG di Indonesia adalah data yang tersebar di banyak dokumen sehingga sulit dianalisis secara menyeluruh.

“Melalui Katadata ESG Insight, data-data tersebut dihimpun dan dianalisis agar lebih mudah dipahami,” kata Jeany.

Framework KESGI dibangun menggunakan tiga pilar utama, yakni lingkungan, sosial, dan tata kelola yang diturunkan menjadi lebih dari 100 indikator ESG. Dalam sektor pertambangan, bobot aspek lingkungan dibuat lebih besar karena materialitas dampak lingkungannya lebih tinggi.

ESG Sektor Tambang Menguat, tetapi Melambat pada 2024

Hasil riset menunjukkan praktik ESG sektor batu bara mengalami penguatan pada 2021–2023 sebelum memasuki fase perlambatan pada 2024. Dengan pendekatan median dan lebih dari 100 indikator, tren tersebut menunjukkan ESG mulai terintegrasi dalam praktik bisnis perusahaan, meski belum menjadi fokus utama transformasi sektor.

Fitria mengatakan kondisi tersebut menunjukkan ESG sektor batu bara masih berada pada tahap awal penguatan.

“Implementasinya sudah mulai berjalan, tetapi belum menjadi fokus utama. ESG juga masih banyak digunakan sebagai instrumen pelaporan, kepatuhan, dan mitigasi risiko perusahaan,” ujar dia.

Pilar Lingkungan: Strategi Iklim Naik, Implementasi Emisi Melemah

Salah satu temuan penting riset KESGI terlihat pada pilar lingkungan. Perusahaan mulai lebih aktif memasukkan isu transisi energi dan strategi iklim ke dalam kebijakan perusahaan. Hal itu tercermin dari median skor strategi transisi iklim yang meningkat tajam dari 25 pada 2021 menjadi 66,67 pada 2024.

Namun peningkatan tersebut belum diikuti penguatan implementasi operasional. Median skor manajemen emisi turun dari 59,88 pada 2023 menjadi 41,71 pada 2024. Skor manajemen energi juga turun signifikan dari 76,67 menjadi 58,61 pada periode yang sama.

Menurut riset KESGI, perusahaan batu bara masih lebih siap mengelola dampak operasional langsung seperti air dan limbah dibanding melakukan perubahan pada sistem energi dan emisi. Kondisi tersebut menunjukkan ESG di sektor batu bara masih lebih kuat pada pengendalian dampak lingkungan lokal dibanding transformasi energi rendah karbon.

Riset ini juga mencatat aspek keanekaragaman hayati dan manajemen lingkungan masih relatif lemah. Skor median biodiversitas hanya meningkat tipis dari 17,18 pada 2021 menjadi 18,16 pada 2024.

Pilar Sosial dan Tata Kelola Belum Merata

Pada aspek sosial, perusahaan batu bara umumnya lebih fokus pada program ketenagakerjaan dan pengembangan masyarakat sekitar tambang. Median skor dampak terhadap masyarakat meningkat cukup signifikan dari 26,75 pada 2021 menjadi 46,79 pada 2024. Skor ketenagakerjaan juga meningkat stabil.

Namun isu yang lebih mendalam seperti hak asasi manusia, rantai pasok, pemasok, dan tanggung jawab produk masih sangat minim dilaporkan perusahaan. Kondisi itu menunjukkan praktik sosial perusahaan tambang masih dominan pada program komunitas dan hubungan masyarakat.

Pada aspek tata kelola, perusahaan relatif lebih kuat dalam kepatuhan regulasi, transparansi, dan tata kelola keberlanjutan. Namun aspek etika bisnis dan antikorupsi masih stagnan dengan median skor 25 selama empat tahun terakhir.

Perusahaan Besar Cenderung Lebih Siap

Riset KESGI menunjukkan kesiapan ESG perusahaan tambang masih timpang. Kelompok perusahaan dengan skor ESG tertinggi umumnya memiliki kombinasi skor lingkungan, sosial, dan tata kelola yang lebih seimbang.

Sebaliknya, perusahaan dengan skor ESG rendah menunjukkan kelemahan mendasar hampir di seluruh pilar ESG. Menurut tim penyusun riset KESGI, kapasitas kelembagaan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi implementasi ESG.

Perusahaan besar cenderung memiliki sumber daya lebih kuat untuk membangun sistem ESG dan pengelolaan data yang lebih matang.

Selain itu, tekanan pasar dan investor juga memengaruhi perkembangan ESG perusahaan. Perusahaan dengan eksposur global yang lebih besar umumnya lebih aktif memperkuat pelaporan keberlanjutan dan strategi iklim.

Risiko Stagnasi Transisi Energi

Riset KESGI menilai sektor batu bara Indonesia masih berada pada tahap awal penguatan ESG, belum memasuki fase transformasi energi yang kuat. Peningkatan ESG yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak didorong penguatan pelaporan, tata kelola, dan pengelolaan risiko dibanding perubahan model bisnis.

Karena itu, jika tren saat ini terus berlanjut, sektor batu bara berisiko mengalami stagnasi transisi di tengah tekanan global yang semakin besar terhadap energi fosil.

Fitria mengatakan transisi energi baru dapat disebut kredibel jika ESG terhubung langsung dengan penurunan emisi, perubahan bauran energi, investasi rendah karbon, dan diversifikasi bisnis.

“ESG memang membaik, tetapi sektor ini baru berada pada tahap [awal] penguatan ESG, belum transisi yang kuat,” kata dia.

Dalam konteks tersebut, ESG menjadi instrumen penting untuk membaca arah transformasi sektor tambang Indonesia. Namun masa depan transisi energi sektor batu bara akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh ESG diterjemahkan menjadi perubahan operasional dan investasi nyata di tingkat perusahaan.

Target net zero emission Indonesia pada 2060 masih membutuhkan percepatan yang signifikan, sementara kapasitas energi terbarukan belum tumbuh cukup cepat untuk menggantikan peran batu bara dalam bauran energi nasional.

Karena itu, perbaikan ESG yang terjadi saat ini perlu diiringi tekanan regulasi, kebijakan pembiayaan yang lebih tegas, serta kejelasan arah transisi dari pemerintah agar ESG benar-benar mendorong transformasi, bukan sekadar meningkatkan kualitas pelaporan.

ESG & Transisi Batu Bara: Seberapa Siap Industri Bergerak?
ESG & Transisi Batu Bara: Seberapa Siap Industri Bergerak? (Katadata)

Editor: Septiani Teberlina


Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk