Advertisement
Analisis | Dari Bar ke Gym: Ketika Gaya Hidup Sehat Memutar Ekonomi Baru - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Dari Bar ke Gym: Ketika Gaya Hidup Sehat Memutar Ekonomi Baru

Foto: Katadata/ Bintan Insani
Tren gaya hidup sehat anak muda Indonesia semakin menguat, ditandai dengan pergeseran minat dari hiburan malam menuju olahraga seperti gym, lari, pilates, dan padel. Perubahan ini membuka peluang pertumbuhan bisnis kebugaran dan industri olahraga di Indonesia.
Reza Pahlevi
24 Juli 2026, 12.00
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Setahun lalu, Silvy Permata (29) merasa pola hidupnya semakin tidak sehat. Berkarier sebagai pengacara korporat di ibu kota membuat jam kerjanya panjang dan melelahkan. Kesehatan tidak pernah menjadi prioritas, dan pola makannya pun tidak teratur.

Tak jarang, di tengah padatnya pekerjaan dia suka melipir ke bar. Biasanya, dia minum minuman beralkohol untuk bersosialisasi atau sekadar melepas penat dari pekerjaannya yang penuh tuntutan.

Hingga suatu hari pada akhir 2025, dia memutuskan untuk berhenti.

“Minum-minum memang seru, tapi bangunnya selalu capek. Badan rasanya berat dan kembung,” kata Silvy kepada Katadata, Kamis, 16 Juli.

Sejak itu, dia mendaftar keanggotaan di pusat kebugaran atau gym. Dia rutin memanfaatkan kelas pilates yang diadakan gym. Tak hanya di gym, dia juga menjajal lari untuk meningkatkan kebugaran di luar aktivitas nge-gym.

Dia mengaku bisa menghabiskan lebih dari Rp1 juta per bulan untuk kebiasaan barunya berolahraga. Ini terdiri dari biaya berlangganan dan kebutuhan penunjang, seperti suplemen, aksesoris, alat, dan pakaian olahraga. Meski terlihat mahal, Silvy bercerita, pengeluaran tersebut lebih murah daripada uang yang dia habiskan untuk minum.

“Dulu minum bisa seminggu sekali, habis Rp500.000 sekali keluar. Jatuhnya gym jadi lebih murah. Apalagi kini tidur lebih nyenyak dan perasaan lebih happy,” katanya.

Perubahan gaya hidup yang dialami Silvy adalah bagian dari tren global beberapa tahun terakhir. Orang-orang dewasa muda mulai meninggalkan bar, klub, dan alkohol, menggantikannya dengan sepatu lari, raket padel, atau ransel Hyrox.

“Sober Curious”, Ketika yang Muda Tinggalkan Alkohol

Di Amerika Serikat (AS), lembaga survei Gallup menemukan hanya 54% penduduk dewasa yang mengonsumsi alkohol pada 2025. Turun dari 67% pada 2022. Tingkat konsumsi terendah sejak Gallup pertama kali melakukan survei pada 1939.

Kekhawatiran soal dampak alkohol pada kesehatan adalah alasan utama turunnya konsumsi di AS. Kelompok umur termuda (18-34 tahun) menunjukkan kekhawatiran lebih tinggi dari kelompok umur lebih tua.

Sinyal serupa terjadi di Inggris, di mana jumlah klub malam berkurang sekitar 400 unit dalam lima tahun terakhir. 

Budaya minum minuman beralkohol di Indonesia memang tidak sebesar di kedua negara tersebut. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan volume konsumsi alkohol, dari 0,37 liter per kapita pada 2023 menjadi 0,3 liter per kapita pada 2025.

Fenomena ini bahkan sudah punya nama. Penulis asal Inggris, Ruby Warrington, memperkenalkan istilah “sober curious” untuk menjelaskan pergeseran gaya hidup tersebut. Dalam bukunya yang berjudul sama, dia mempertanyakan peran alkohol dalam kehidupan dan apakah kebahagiaan benar-benar perlu budaya minum.

“Satu-satunya hal yang hilang saat Anda tidak minum hanyalah kondisi mabuk itu sendiri,” tulisnya dalam buku tersebut.

Ruby menekankan pentingnya kesadaran penuh (sober) demi mencapai kesejahteraan hidup yang lebih bermakna. Dia memanfaatkan yoga untuk mencapainya dan merasakan dampak positif untuk kesehatan diri, baik secara fisik maupun mental.

Peralihan Gaya Hidup dan Pengeluaran untuk Olahraga

Perubahan gaya hidup yang lebih sehat membuka ceruk pasar olahraga. Di Indonesia, popularitas beberapa jenis kegiatan olahraga meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Jejaring pusat kebugaran terus berekspansi. Lapangan padel, klub yoga, maupun studio pilates juga bermunculan di kota-kota besar.

Pergeseran minat ini turut terekam dalam data pencarian Google Trends. Pencarian untuk topik “bar” dan “gym” cenderung bersaing pada 2021-2023. Namun, pencarian untuk “gym” melesat pada 2024, menunjukkan ketertarikan jauh lebih besar dibanding “bar”.

Populernya olahraga padel dalam waktu singkat juga menggeser ketertarikan pencarian untuk “bar”. Meski pencariannya mulai meningkat pada awal 2025, ketertarikan untuk “padel” sudah bersaing dengan “bar” pada 2026.

Data pencarian ini sejalan dengan survei Populix pada 2026, yang menunjukkan 81% pekerja kantoran rutin berolahraga di tengah kesibukan mereka. Sebagai informasi, sampel survei adalah kaum muda perkotaan Indonesia dengan mayoritas rentang usia 18-36 tahun dan kelompok pendapatan menengah dan atas.

Olahraga lari dan jalan kaki masih menjadi pilihan paling populer karena kemudahannya dan biaya yang relatif minim. Meski begitu, olahraga yang membutuhkan biaya keanggotaan seperti gym, yoga, dan pilates juga mulai meraih popularitas.

Mulai populernya olahraga berbayar sejalan dengan temuan Populix lainnya, yaitu semakin banyak orang memiliki biaya tetap untuk olahraga. Sebagian responden mengeluarkan biaya berlangganan untuk gym, kelas, atau aplikasi olahraga dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp391.844 per bulan.

Di luar biaya tetap tersebut, responden juga mengeluarkan uang untuk perlengkapan olahraga seperti pakaian, sepatu, aksesoris, perangkat pintar, dan peralatan.

Populix menyimpulkan tren olahraga saat ini tidak terbatas pada kegiatan fisik, tetapi juga pelepasan stres, pencarian koneksi sosial, dan ekspresi gaya hidup. Ini turut terlihat dari 64,8% responden yang mengaku mengikuti acara olahraga besar seperti maraton.

“Orang Indonesia semakin sadar kesehatan, termotivasi, dan bersedia mengeluarkan uang untuk kesehatan,” tulis tim peneliti Populix.

Bisnis Olahraga Ikut Menuai Berkah

Besarnya kesediaan orang Indonesia membayar untuk aktivitas olahraga turut menggerakkan roda bisnis. Salah satunya terlihat dari waralaba gym yang terus berekspansi dalam beberapa tahun terakhir.

Waralaba gym Fit Hub, misalnya, bertumbuh dari 71 lokasi pada 2023 menjadi 116 lokasi per Juli 2026. Waralaba lain, Anytime Fitness, menambah lokasinya dari sembilan pada 2020 menjadi 54 lokasi pada 2026.

Di luar industri gym, acara lari juga menjamur. Basis data Jadwal Lari Indonesia menunjukkan jumlah acara lari yang terjadwal meningkat dari 474 acara pada 2024 menjadi 638 acara sepanjang 2026, dengan lokasi yang masih terpusat di Jawa.

Acara lari mendatangkan dampak ekonomi cukup besar, salah satunya lewat pariwisata di lokasi acara. Jakarta International Marathon, misalnya, diestimasikan memberi dampak ekonomi sebesar Rp255 miliar pada 2026.

Pertumbuhan pesat juga terlihat di olahraga padel, meski popularitasnya cenderung baru. Laporan Core & Court menunjukkan jumlah lokasi klub padel diproyeksi meningkat 146% pada 2026, didorong basis pasar yang terus berekspansi.

Pertumbuhan ini juga menjadi berkah untuk produsen perlengkapan olahraga lokal. Survei Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2024 menunjukkan tiga jenama lokal—Specs, Eagle, dan Mills—masuk 10 besar merek sepatu paling banyak dipakai. Specs dan Mills juga masuk daftar untuk kategori pakaian olahraga.

Uang yang berputar di industri ini pada akhirnya berjalan beriringan dengan mesin yang membuat orang-orang terus datang: media sosial.

Dari Latihan Fisik Menjadi Kompetisi di Medsos

Media sosial (medsos) bisa dibilang menjadi pemicu utama dari semakin populernya gaya hidup berolahraga, sekaligus yang membuat bisnis di sekitarnya terus kebanjiran pelanggan baru. Di medsos, orang-orang berbagi konten terkait tips, panduan, atau hasil dari olahraga yang mereka tekuni.

Survei YouGov di 17 negara (2024) menemukan 59% pengguna medsos menilai konten olahraga dan kebugaran bermanfaat. Di Indonesia, penerimaan konten kebugaran ini bahkan jauh lebih tinggi, 92% pengguna menilai konten kebugaran bermanfaat.

Kemunculan aplikasi pelacak kebugaran seperti Strava, Garmin Connect, dan Nike Run turut membantu popularitas gaya hidup baru ini. Tidak hanya berfungsi mencatat latihan, platform ini menggabungkan pelacakan aktivitas dengan fitur media sosial.

Di aplikasi, pengguna dapat mengunggah hasil latihan, memberi komentar pada teman, mengikuti tantangan bulanan, membandingkan pencapaian, hingga membangun komunitas berdasarkan rute atau jenis olahraga.

Penelitian Russell dkk. (2026) menemukan kombinasi pencatatan data dan interaksi sosial tersebut menciptakan bentuk gamifikasi olahraga. Olahraga tidak lagi sekadar aktivitas fisik, tetapi juga soal memperoleh motivasi, pengakuan, dan rasa memiliki dalam komunitas.

Di sisi lain, elemen sosial ini memiliki risiko terutama akibat rasa takut ketinggalan atau yang sering disebut “fear of missing out” (FOMO). Pelari, misalnya, bisa saja tetap berlari saat mengalami cedera demi mengimbangi catatan teman-temannya di platform.

“Paparan pada kesuksesan orang lain membuat penggunaan Strava secara berbarengan memotivasi, tapi memicu rasa rendah diri,” tulis Russell dkk. dalam penelitiannya.

Masalah serupa juga ditemukan pada konten olahraga di TikTok. Analisis Curry dkk. (2026) menemukan video-video TikTok yang menggambarkan tubuh berotot dan perilaku berisiko, seperti penggunaan steroid cenderung mendapat interaksi lebih tinggi.

Peneliti menilai temuan ini membuktikan sistem rekomendasi TikTok memicu proses perbandingan antara diri sendiri dan orang lain. Sementara itu, objektifikasi membuat tubuh berotot menjadi penanda status, maskulinitas, dan nilai sosial seseorang.

“Kedua dinamika ini dapat berkontribusi pada risiko masalah citra tubuh di anak dan laki-laki muda,” tulis Curry dkk.

Editor: Aria W. Yudhistira


Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk