Selama lebih dari tiga dekade, industri telekomunikasi bertumbuh melalui satu rumus yang relatif sederhana: memperluas jaringan dan menambah pelanggan. Kini, rumus itu tak lagi cukup. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), komputasi awan (cloud), pusat data, dan keamanan siber, perusahaan telekomunikasi dituntut mengambil peran baru sebagai penyedia infrastruktur digital yang menopang ekonomi masa depan.
Perubahan tersebut juga menggeser sumber pertumbuhan industri. Pendapatan dari layanan suara dan pesan singkat telah lama mengalami penurunan, sementara lonjakan trafik data tidak lagi otomatis meningkatkan keuntungan. Persaingan tarif yang semakin ketat membuat operator telekomunikasi di berbagai negara dituntut mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis konektivitas tradisional.
Tren ini terjadi secara global. Banyak operator telekomunikasi mulai bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur digital, pengelola pusat data, hingga mitra transformasi digital bagi dunia usaha. Kebutuhan terhadap cloud, analitik data, otomatisasi berbasis AI, dan layanan digital yang semakin kompleks menjadi pendorong utama perubahan tersebut.
Di Indonesia, PT Telkom Indonesia Tbk memilih menjawab tantangan itu melalui transformasi menyeluruh bertajuk TLKM 30, sebuah perubahan yang menyentuh struktur organisasi sekaligus mengubah cara perusahaan menciptakan nilai jangka panjang.
Menariknya, transformasi tersebut dilakukan ketika fundamental bisnis Telkom masih mencatatkan kinerja keuangan yang relatif solid. Pada kuartal I 2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp37,2 triliun, mempertahankan margin EBITDA 48,3%, serta meningkatkan arus kas operasional sebesar 3,1% secara tahunan menjadi Rp17,3 triliun.
Kinerja tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan transformasi tanpa mengabaikan disiplin keuangan.
Kualitas Pertumbuhan Jadi Prioritas
Bagi banyak perusahaan, pertumbuhan pendapatan masih menjadi indikator utama keberhasilan. Namun, bagi Telkom, indikator tersebut tidak lagi cukup untuk menggambarkan kesehatan bisnis di tengah perubahan industri digital yang berlangsung sangat cepat.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan perusahaan kini lebih menitikberatkan kualitas pertumbuhan, dibanding sekadar mengejar kenaikan pendapatan jangka pendek.
“Dalam fase transformasi seperti yang sedang dijalani Telkom saat ini, pertumbuhan yang sehat harus mampu menghasilkan profitabilitas yang berkelanjutan, arus kas yang kuat, serta memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus berinvestasi pada masa depan tanpa mengorbankan kesehatan finansial," ujar Dian kepada Katadata, Senin (6/7).
Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan paradigma di industri teknologi global. Ketika pasar semakin matang, investor tidak lagi hanya melihat besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, menjaga margin, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Karena itu, imbuh Dian, Telkom tidak hanya mengukur keberhasilan dari sisi pendapatan atau sebatas angka revenue semata.
Pada Kuartal I 2026, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp37,2 triliun, menjaga margin EBITDA di level 48,3% dan meningkatkan arus kas operasional sebesar 3,1% YoY menjadi Rp17,3 triliun.
“Ini menunjukkan bisnis tetap mampu menghasilkan cash flow yang kuat meskipun industri berada dalam fase kompetisi yang ketat dan perusahaan sedang menjalankan transformasi besar," tandas direktur utama perempuan pertama di Telkom Group Indonesia ini.
Pendekatan serupa juga tercermin dalam pengelolaan operasional. Telkom saat ini lebih selektif dalam mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/CAPEX). Perusahaan memprioritaskan investasi yang mendukung penciptaan nilai jangka panjang melalui penyederhanaan portofolio, peningkatan kualitas pelanggan, disiplin harga, serta efisiensi investasi dan operasional.
Capex Breakdown Fiscal Year 2025 (%)
Alih-alih mengejar ekspansi di semua lini secara bersamaan, Telkom memilih memastikan setiap investasi memiliki kontribusi yang jelas terhadap penciptaan nilai jangka panjang.
"Keberhasilan TLKM 30 bukan lagi diukur dari seberapa besar pendapatan tumbuh setiap kuartal, tetapi dari seberapa kuat Telkom membangun fondasi bisnis yang lebih sehat, lebih efisien, dan siap menghadapi perubahan industri digital ke depan," harap Dian.
AI Mengubah Peta Persaingan Telekomunikasi
Perubahan strategi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Salah satu pendorong terbesarnya adalah perkembangan kecerdasan buatan (AI), yang dalam beberapa tahun terakhir mengubah lanskap industri telekomunikasi secara fundamental.
Jika satu dekade lalu operator telekomunikasi berlomba memperluas jaringan 4G, kini persaingan bergeser pada kemampuan menyediakan infrastruktur digital yang mampu menopang ekosistem AI.
Berbeda dengan aplikasi digital konvensional, model AI generatif membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar. Proses pengembangan model AI memerlukan ribuan unit pemrosesan grafis (GPU), pusat data berkapasitas besar, jaringan serat optik berkecepatan tinggi, layanan cloud, serta sistem keamanan siber yang andal. Semakin luas adopsi AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur digital.
Perubahan inilah yang menjadi salah satu dasar Telkom mengubah arah investasinya. Menurut Dian, kendati kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian, digitalisasi tetap menjadi tren jangka panjang yang akan terus berkembang.
"Kami tetap melihat bahwa digitalisasi merupakan tren jangka panjang yang tidak akan berhenti. Justru dalam kondisi ekonomi yang menantang, banyak perusahaan dan institusi semakin terdorong untuk meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi," ulasnya.
Karena itu, Telkom memusatkan investasi pada infrastruktur digital yang diproyeksikan menjadi fondasi ekonomi berbasis AI, mulai dari konektivitas digital, digital infrastructure, data center, cloud, cybersecurity, serta layanan digital enterprise.
“Kebutuhan terhadap jaringan yang andal, kapasitas data yang semakin besar, cloud adoption, dan solusi digital korporasi terus meningkat dari tahun ke tahun,” ukurnya.
Lebih lanjut Dian mengatakan, perkembangan AI justru memperkuat relevansi aset yang selama ini dimiliki Telkom. Infrastruktur seperti jaringan fiber backbone, kabel bawah laut (subsea cable), pusat data, dan konektivitas berkapasitas tinggi dipandang sebagai fondasi utama yang dibutuhkan berbagai industri dalam mengembangkan teknologi AI.
Dengan demikian, nilai bisnis tidak lagi berasal dari bertambahnya pelanggan telekomunikasi, tetapi juga dari meningkatnya permintaan berbagai sektor terhadap layanan infrastruktur digital yang semakin kompleks.
Dari Operator Telekomunikasi Menuju Penyedia Infrastruktur Digital
Transformasi industri digital turut mengubah cara Telkom melihat sumber pertumbuhan jangka panjang. Selama bertahun-tahun, segmen business-to-consumer (B2C) melalui layanan seluler dan fixed broadband menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan. Basis pelanggan yang besar tetap menjadi kekuatan utama TelkomGroup.
Namun, menurut Dian, masa depan pertumbuhan tidak lagi hanya bergantung pada bisnis konektivitas.
"Benar bahwa saat ini segmen B2C masih menjadi kontributor terbesar pendapatan Telkom, terutama melalui layanan mobile dan fixed broadband. Basis pelanggan yang besar dan bisnis digital lifestyle yang unggul pada segmen ini merupakan kekuatan utama TelkomGroup dan akan tetap menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan ke depan."
Di sisi lain, perusahaan melihat kebutuhan enterprise terhadap AI, cloud computing, data analytics, cybersecurity, hingga digitalisasi proses bisnis tumbuh jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.
Karena itu, melalui transformasi TLKM 30, Telkom mulai menyeimbangkan portofolio bisnis dengan memperkuat kontribusi Digital Infrastructure, B2B ICT, International Business, serta berbagai platform digital bernilai tambah tinggi.
Menyiapkan Mesin Pertumbuhan Baru
Bergesernya kebutuhan pelanggan juga mengubah fokus investasi Telkom. Jika sebelumnya pertumbuhan didominasi bisnis konsumer, kini perusahaan mulai membangun sumber pendapatan baru yang diproyeksikan tumbuh lebih cepat dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Salah satu fokus utamanya adalah bisnis business-to-business (B2B), khususnya layanan digital enterprise. Segmen ini dinilai memiliki prospek besar seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, perbankan, kesehatan, pendidikan, logistik, energi, hingga layanan publik.
Dian mengatakan, kebutuhan perusahaan terhadap cloud, AI, cybersecurity, data analytics, hingga solusi digital end-to-end akan terus meningkat seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor.
"Melalui TLKM 30, kami sedang membangun struktur bisnis yang lebih seimbang dengan memperkuat kontribusi dari Digital Infrastructure, B2B ICT, International Business, serta berbagai platform digital seperti data center, cloud, dan layanan digital enterprise."
Salah satu pilar utama strategi tersebut adalah InfraNexia, operating company yang akan mengelola bisnis fiber connectivity. Menurut Telkom, meningkatnya kebutuhan kapasitas jaringan akibat perkembangan AI membuat infrastruktur serat optik memiliki potensi monetisasi yang semakin besar.
Pada segmen Digital Infrastructure, InfraNexia sebagai OpCo yang berfokus dalam menggarap bisnis fiber connectivity diproyeksikan sebagai next growth engine TelkomGroup.
Saat ini, kontribusi bisnis fiber terhadap pendapatan Telkom masih berada di kisaran 15 persen. Setelah proses pemisahan aset dan optimalisasi utilisasi jaringan selesai pada kuartal III, kontribusinya ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25 persen.
Tak berhenti pada konektivitas, Telkom juga membidik berbagai sektor industri yang tengah mempercepat digitalisasi, mulai dari manufaktur, perbankan, kesehatan, pendidikan, logistik, energi hingga sektor publik.
Harapannya, perusahaan ingin mengambil peran lebih besar sebagai penyedia solusi digital, bukan sekadar penyedia jaringan.
Mesin Pertumbuhan Telkom Bergeser
| 2026 | Lini Bisnis | 2030 (Target) |
| 72% | B2C (Mobile & Fixed Broadband) | 45% |
| 6% | Enterprise ICT | 15% |
| 3% | Cloud | 10% |
| 2% | Data Center | 7% |
| 2% | lainnya (AI & Digital Service) | 3% |
Dari Operating Holding Menjadi Strategic Holding
Perubahan strategi bisnis tidak akan berjalan efektif tanpa diikuti perubahan cara perusahaan dikelola. Karena itu, TLKM 30 tidak hanya mengubah arah investasi, tetapi juga merombak struktur organisasi Telkom.
Selama bertahun-tahun, Telkom menerapkan model operating holding, di mana perusahaan induk masih terlibat cukup jauh dalam operasional anak usaha. Model tersebut dinilai efektif ketika portofolio bisnis perusahaan masih relatif sederhana.
Namun, kondisi industri kini telah berubah. Portofolio Telkom mencakup layanan seluler, fixed broadband, pusat data, cloud, infrastruktur digital, hingga solusi enterprise. Kompleksitas tersebut menuntut proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan struktur organisasi yang lebih lincah.
Atas dasar inilah Telkom mengubah paradigma menjadi strategic holding. Menurut Dian, perubahan tersebut merupakan salah satu transformasi paling mendasar dalam program TLKM 30.
Dalam model baru ini, perusahaan induk (holding company) lebih berperan sebagai penentu arah strategis dan pengelola investasi, sementara operasional bisnis dijalankan oleh masing-masing operating company.
Dengan pembagian peran tersebut, proses pengambilan keputusan diharapkan menjadi lebih cepat, organisasi lebih adaptif, dan alokasi modal lebih efektif.
| Sebelum TLKM 30 | Setelah TLKM 30 |
| Operating Holding | Strategic Holding |
| Holding ikut operasional | Holding fokus strategi |
| Pengambilan keputusan lebih panjang | Pengambilan keputusan lebih cepat |
| Alokasi modal tersebar | Capital allocation lebih disiplin |
| Portofolio kompleks | Portofolio lebih fokus |
Transformasi organisasi kemudian diikuti langkah yang tidak kalah penting, yakni penyederhanaan jumlah anak usaha. Saat ini Telkom memiliki sekitar 69 entitas anak usaha. Melalui program streamlining, jumlah tersebut ditargetkan berkurang menjadi sekitar 20 perusahaan.
"Upaya streamlining penyederhanaan portofolio bukan semata-mata program efisiensi, tetapi bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih fokus dan lebih efektif dalam menciptakan nilai serta mendukung program Asta Cita Pemerintah dan Program Strategis Danantara,” jelas Dian.
Secara lebih rinci, Peraih penghargaan Perempuan Inspiratif Awards 2025 ini mengatakan, semakin banyak entitas justru meningkatkan kompleksitas koordinasi dan memperlambat pengambilan keputusan.
Alasannya, jumlah entitas terlalu banyak sering kali memunculkan tantangan berupa tumpang tindih usaha, kompleksitas koordinasi, serta alokasi sumber daya yang kurang optimal. Dengan melakukan streamlining, Telkom dapat memperjelas akuntabilitas, mempercepat proses pengambilan keputusan, dan memastikan setiap entitas memiliki peran yang jelas dalam strategi grup.
Menjaga Keseimbangan Investasi dan Imbal Hasil
Transformasi skala besar tentu membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Di sisi lain, Telkom juga dituntut tetap memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
Pertanyaan tersebut mengemuka setelah perusahaan membagikan dividen sebesar Rp21,9 triliun di tengah pelaksanaan TLKM 30.
Bagi sebagian investor, kombinasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai ruang investasi perusahaan ke depan. Namun, Dian memastikan, keduanya justru dapat berjalan bersamaan karena didukung fundamental bisnis yang kuat serta disiplin dalam pengelolaan modal.
Pertimbangan utamanya adalah kekuatan pada fundamental bisnis. Telkom memiliki arus kas operasional yang sehat, posisi keuangan yang terjaga, serta pendekatan investasi yang semakin disiplin dan selektif.
Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan tetap memberikan imbal hasil terbaik kepada pemegang saham tanpa mengorbankan agenda transformasi jangka panjang.
Karena itu, perusahaan memilih mengoptimalkan aset yang telah dimiliki melalui efisiensi, streamlining, dan pembukaan nilai (value unlocking), alih-alih terus meningkatkan belanja modal secara agresif.
Selain membagikan dividen, Telkom juga menjalankan program pembelian kembali saham (buyback). Kebijakan tersebut, menurut Dian, merupakan bagian dari strategi meningkatkan alokasi modal untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
"Program buyback ini bukan hanya untuk mendukung harga saham, tetapi juga merupakan bagian dari strategi alokasi modal Telkom untuk mengoptimalkan nilai pemegang saham dan meningkatkan total shareholder return,” paparnya.
Lebih dari Transformasi Korporasi
Sejatinya, TLKM 30 dirancang bukan sekadar sebagai proyek restrukturisasi perusahaan. Transformasi ini menunjukkan strategi Telkom dalam menatap masa depan industri digital secara lebih adaptif dan berkelanjutan.
Jika sebelumnya keberhasilan perusahaan lebih banyak diukur dari jumlah pelanggan dan pertumbuhan pendapatan, kini fokusnya mulai bergeser pada kemampuan membangun infrastruktur digital yang kuat dan andal. Infrastruktur inilah yang diharapkan dapat mendukung perkembangan teknologi berbasis AI serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa mendatang.
Dian menuturkan, ukuran keberhasilan kepemimpinannya bukan semata diukur dari laba yang lebih besar, namun lebih kepada transformasi yang menghasilkan perusahaan adaptif, lebih bernilai, dan lebih siap menghadapi perubahan teknologi.
"Ukuran keberhasilan bagi saya adalah ketika Telkom mampu menjadi perusahaan yang lebih agile, lebih kompetitif, dan lebih bernilai, serta tetap relevan dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk era AI dan ekonomi digital. Telkom dapat terus memberikan manfaat dan berkelanjutan bagi pemegang saham, pelanggan, karyawan, mitra, masyarakat, dan bangsa,” tukas Dian.
Pertaruhan tersebut hadir pada momentum yang tepat. Perkembangan AI, cloud, dan kebutuhan komputasi diperkirakan akan terus mendorong permintaan terhadap jaringan fiber, pusat data, serta layanan digital enterprise dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah perubahan itu, industri telekomunikasi memasuki fase baru yang menuntut pelaku usaha mampu mengambil peran strategis dalam ekosistem digital yang terus berkembang.
Dari perspektif Telkom, TLKM 30 merupakan jawaban dari tantangan. Keberhasilannya bertumpu pada kemampuan perusahaan menjaga kinerja keuangan jangka pendek sekaligus menjalankan transformasi secara konsisten.
Dengan eksekusi yang terarah, Telkom berpeluang memperkuat posisinya sebagai operator telekomunikasi terbesar di Indonesia dan menjadi salah satu fondasi penting bagi infrastruktur ekonomi digital nasional menuju 2030.
Editor: Septiani Teberlina



