Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia di saat ancaman fenomena “Super” El Niño yang diperkirakan membawa kemarau panjang dan kekeringan meningkat. Salah satu kawasan yang terdampak adalah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Karhutla di kawasan ini terjadi sejak 3 Agustus 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan telah menginstruksikan Kepala Balai untuk menutup sementara seluruh kawasan TNBTS. “Agar semua bisa fokus memadamkan api sekaligus mengantisipasi terjadinya kebakaran lagi di tempat lain,” ujarnya, 10 Agustus 2026.
Berdasarkan analisis Katadata menggunakan Fire Information for Resource Management System (FIRMS), sistem pendeteksi titik api milik National Aeronautics and Space Administration (NASA), via Google Earth Engine, jumlah titik api di kawasan TNBTS pada 1-9 Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Adapun menurut Kementerian Kehutanan (Kemenhut), luas kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran kini telah mencapai 520 hektare, setara dengan 728 lapangan sepak bola.
Selain TNBTS, karhutla dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain, antara lain Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua, dan Jawa Tengah.
Skala karhutla juga tercermin dari meningkatnya jumlah titik panas di berbagai wilayah Indonesia. Hingga 10 Agustus 2026, menurut Sistem Informasi Peringatan dan Deteksi Dini Karhutla (SiPongi), terdapat 1.306 titik panas (hotspot) di seluruh Indonesia. Ini melonjak 160% dibandingkan Agustus tahun lalu, yang mencapai 502 hotspot. Agustus tahun ini baru berjalan selama 11 hari.
Hotspot merupakan area dengan suhu lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Dalam pemantauan karhutla, hotspot menjadi indikasi awal adanya aktivitas pembakaran atau kebakaran yang masih perlu diverifikasi di lapangan.
Peningkatan tersebut mulai terlihat sejak Juli 2026. SiPongi mencatat 758 hotspot, atau meningkat 357% dibandingkan bulan sebelumnya, yakni Juni 2026.
Secara kumulatif, terdapat 3.157 hotspot sepanjang Januari hingga 10 Agustus 2026. Ini meningkat 79% dibandingkan periode yang sama tahun 2025, yakni 1.753 hotspot.
Ancaman Kekeringan
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dampaknya berbeda-beda di setiap kawasan.
Sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, Filipina, dan sebagian India, cenderung mengalami kondisi lebih kering akibat berkurangnya curah hujan. Sebaliknya, beberapa wilayah seperti bagian selatan Amerika Serikat dan Peru berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi.
El Niño 2026 diperkirakan memiliki intensitas yang sangat kuat, sehingga oleh sejumlah riset iklim terbaru dikategorikan sebagai “Super”, meski ini bersifat informal.
Kuat-lemahnya El Niño ditentukan berdasarkan tingkat anomali suhu muka laut. Ia dikategorikan lemah ketika anomali berada pada kisaran +0,5 hingga +1 derajat Celsius; sedang +1 hingga +1,5 Celsius; dan kuat +1,5 hingga +2 Celsius. Anomali di atas +2 Celsius masuk kategori sangat kuat.
Merujuk pada data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bergerak di bidang cuaca, iklim, laut, dan atmosfer, anomali suhu akibat El Niño pada Juli 2026 telah melampaui level yang tercatat pada tiga episode El Niño terkuat sebelumnya, yakni 1982, 1997, dan 2015.
Pada Juli 2026, suhunya sudah melampaui +2 Celsius. Ini belum pernah terjadi dalam dekade-dekade krusial sebelumnya. Pada 2015-2016 dan 1997-1998, suhu +2 Celsius baru terjadi pada September. Lalu terus menanjak hingga mencapai puncaknya pada Januari, di sekitar +2,5 Celsius.
Dengan kenaikan drastis yang lebih awal, El Niño tahun ini, menurut European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), anomali suhunya dapat mendekati +4 Celsius.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan hasil pemantauan BMKG pada akhir Juni mencatat indeks bulanan Niño telah menembus angka 1,56, yang mengindikasikan intensitas yang telah melampaui ambang batas kategori kuat (>1,5).
“Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” ujar Ardhasena.
Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM), sekitar 54% dari total luas daratan Indonesia, telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM (11,8%) masih dalam musim hujan, dan sisanya 113 ZOM (33,7%) berada di area tipe satu musim. BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus yang melingkupi 49% wilayah, serta pada September mencakup 25% wilayah daratan.
Inflasi Pangan
Ancaman Super El Niño juga berpotensi menekan produksi pertanian dan pada akhirnya meningkatkan harga pangan. Dampak El Niño terhadap inflasi Indonesia berpotensi menjadi yang terbesar dibandingkan sejumlah negara lain.
Analisis Bloomberg Economics, menggunakan Consumer Price Index (CPI) sebagai ukuran inflasi, memperkirakan El Niño berpotensi menambah inflasi Indonesia sebesar 1,87 poin persentase. Ini berasal dari kekeringan yang diperkirakan meningkatkan inflasi sebesar 2,18 poin, sementara curah hujan berlebih justru berpotensi menekan inflasi sebesar 0,31 poin.
Perkiraan di Indonesia lebih tinggi ketimbang Filipina yang mencapai sekitar 1,85 poin. Sementara dampaknya terhadap Malaysia sekitar 1,11 poin, Thailand 0,79 poin, India 0,73 poin, dan Amerika Serikat hanya sekitar 0,09 poin persentase.
Dampak ini menjadi lebih signifikan bagi Indonesia lantaran porsi pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pangan masih relatif besar. Badan Pusat Statistik pada 2024, misalnya, mencatat sekitar 50% dari pengeluaran rata-rata orang Indonesia dialokasikan untuk pangan. Dengan porsi sebesar itu, kenaikan harga pangan berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap daya beli dan inflasi.
Selain itu, kondisi cuaca ekstrem dapat mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya distribusi. Bloomberg mencatat tarif pengiriman kontainer laut global sempat menembus US$4.600 per kontainer berukuran 40 kaki, antara lain akibat gangguan pelayaran di Timur Tengah dan ancaman kekeringan di Terusan Panama.
Editor: Muhammad Almer Sidqi

