Analisis | Rapor Keuangan Shopee di Tengah PHK Pegawai - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Rapor Keuangan Shopee di Tengah PHK Pegawai

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Shopee pada kuartal kedua 2022 mencetak pendapatan tertinggi sejak awal berdiri, yaitu US$1,6 miliar atau 89% secara tahunan (year-on-year). Sedangkan rasio rugi usaha terhadap pendapatan Shopee membaik dari kuartal-kuartal sebelumnya. Namun, mengapa Shopee Indonesia melakukan PHK pegawai?
Reza Pahlevi
23 September 2022, 05.50

Kabar pahit berhembus dari Shopee Indonesia. Perusahaan lokapasar berlogo keranjang oranye tersebut akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah karyawannya. Meski sebelumnya Shopee Indonesia tidak termasuk dalam program pengurangan karyawan yang diumumkan pada Juni lalu.

Langkah tersebut dilakukan setelah Sea Group—Induk bisnis Shopee, Garena, dan SeaMoney—melakukan upaya efisiensi dengan mengevaluasi prioritas bisnis. “Ini merupakan keputusan yang sangat sulit,” ujar Radynal Nataprawira, Head of Public Affairs Shopee Indonesia, dalam keterangan pers Senin, 19 September 2022.

Ada apa dengan Shopee?

Kinerja Shopee masih mencatat pertumbuhan

Gelombang PHK ini sebenarnya sudah dapat diprediksi ketika Sea Group mengumumkan kinerja kuartal II-2022. Untuk pertama kali, perusahaan berbasis di Singapura itu tidak mengungkap prediksi kinerja Shopee tahun penuh 2022. Penyebabnya, ketidakpastian ekonomi!

“Kami secara proaktif mengubah strategi untuk lebih fokus terhadap efisiensi dan optimasi demi keberlangsungan dan profitabilitas bisnis e-commerce,” ujar Forrest Li, Chairman sekaligus CEO Sea Group, pada 16 Agustus 2022.

Sebenarnya pada kuartal II-2022, Shopee berhasil mencatatkan pendapatan tertinggi sejak awal berdiri. Pendapatan Shopee meningkat 89% secara tahunan (year-on-year) menjadi US$1,6 miliar.

Meski masih mencatat rugi, Shopee dapat memperbaiki rasio rugi usaha terhadap pendapatannya dari kuartal-kuartal sebelumnya.

Lantas, mengapa Shopee masuk dalam krisis sehingga harus melakukan PHK massal? Jawabannya ada di kinerja Sea Group secara keseluruhan.

Rugi bersih Sea Group membengkak lebih dua kali lipat, kendati pendapatannya meningkat berkat pertumbuhan Shopee dan SeaMoney.

Garena selalu menopang “bakar uang” Shopee

Konsumen Shopee sepertinya harus berterima kasih kepada pemain gim Free Fire besutan Garena. Garena adalah lini bisnis video gim milik Sea Group yang arus kasnya selama ini dipakai untuk menopang “bakar uang” Shopee.

Meski pendapatannya kalah dari Shopee, Garena adalah satu-satunya lini bisnis Sea Group yang dapat menghasilkan laba usaha. Apesnya, laba usaha ini terus turun dalam tiga kuartal terakhir.

Ke Yan, analis DZT Research di Singapura, mengatakan kepada Reuters strategi bakar uang menggunakan arus kas Garena ini sudah tidak berkelanjutan.

Turunnya pendapatan Garena disebabkan oleh turunnya jumlah pengguna berbayar pada tiga kuartal terakhir. Selain itu, diblokirnya Free Fire di India pada Februari lalu memperparah keadaan ini.

Efek menurunnya laba Garena terhadap kinerja Sea Group secara keseluruhan diperparah tambahan tanggungan “bakar uang” dari SeaMoney. SeaMoney mengelola bisnis keuangan Sea Group seperti ShopeePay, SPayLater, dan SeaBank. Ini juga yang membuat rugi bersih Sea Group membengkak.

Ongkos terlalu fokus pada pertumbuhan

COO Momentum Works Yorlin Ng mengatakan, PHK massal ini adalah ongkos terlalu fokusnya perusahaan teknologi Asia Tenggara mengejar pertumbuhan. Momentum Works adalah perusahaan pengembang kerja sama strategis bagi perusahaan teknologi di Asia.

“Adalah hal alami, terjadi banyak inefisiensi ketika pertumbuhan menjadi prioritas utama. Perusahaan teknologi juga sering harus melakukan trial and error di mana kebanyakan percobaan berujung gagal,” ujar Yorlin dikutip dari The LowDown, Selasa 20 September 2022.

Yorlin menambahkan, pertumbuhan ini juga menjadi prioritas investor. Bahkan, ada pandangan mengatasi inefisiensi justru dinilai jelek oleh investor.

Sayangnya, kondisi makro ekonomi yang krisis seperti saat ini membuat kebanyakan investor beralih ke perusahaan-perusahaan yang memiliki profitabilitas. Ini pula yang menyebabkan banyak harga saham perusahaan-perusahaan teknologi anjlok.

Kapitalisasi pasar Sea Group anjlok 74% sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Valuasi perusahaan teknologi Singapura ini “hanya tersisa” US$32,04 miliar pada penutupan perdagangan Rabu, 21 September 2022.

Padahal kapitalisasi pasar Sea Group mencapai US$124,55 miliar pada awal tahun. Kapitalisasi pasar bahkan sempat mencapai US$202,64 miliar pada Oktober 2021.

Yorlin menganggap neraca kas Sea Group seharusnya dapat bertahan untuk 3-4 tahun ke depan, terlebih jika burn rate dapat ditekan mulai tahun depan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana Sea Group dan Shopee “menurunkan gigi” atau mengatasi inefisiensi ini ke depan

“Menurunkan gigi untuk perusahaan besar adalah hal yang tidak mudah–hal ini membutuhkan kerja sama yang sinkron antara pimpinan, pegawai, dan organisasi,” katanya.

Editor: Aria W. Yudhistira