Advertisement
Analisis | Siapkah Indonesia Hadapi Ancaman Penduduk Tua? - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Siapkah Indonesia Hadapi Ancaman Penduduk Tua?

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Struktur demografi Indonesia tengah mengarah ke penuaan penduduk (aging population). Hal ini dapat berdampak pada perekonomian karena beban yang ditanggung penduduk produktif semakin besar. Apa saja indikator penuaan penduduk dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia?
Vika Azkiya Dihni
20 Desember 2022, 08.45

Puncak bonus demografi Indonesia diprediksi terjadi pada 2030. Pada tahun itu, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 68,9% dari total penduduk. Setelahnya, proporsi penduduk produktif (15-64 tahun) cenderung turun, sedangkan penduduk lanjut usia (lansia) meningkat.

World Population Prospects: The 2022 Revision memprediksi jumlah lansia di Indonesia mencapai 15% dari total penduduk pada 2050. Angka ini naik dari 6,9% pada 2022. Meski belum seekstrem di Jepang, kenaikan jumlah lansia (65 tahun ke atas) dikhawatirkan menambah beban ekonomi di masa depan. Apalagi proporsi penduduk usia muda cenderung menurun. 

Situasi ini dalam istilah demografi dikenal sebagai penuaan penduduk atau aging population. Di sini ada pergeseran distribusi penduduk suatu negara menuju rata-rata usia yang lebih tua.

Dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 Hasil SUPAS 2015 terlihat perubahan struktur usia penduduk Indonesia. Pada 2015 dan 2025, piramida penduduk masih lebar di kelompok penduduk muda. 

Namun bentuk piramida semakin ramping dengan adanya penambahan komposisi penduduk dewasa dan tua, sementara kelompok penduduk muda mengecil. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat kelahiran yang rendah. Bersamaan dengan itu, usia harapan hidup yang semakin panjang.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan, salah satu cara untuk mengukur tingkat penuaan penduduk di suatu negara melalui rasio ketergantungan penduduk (dependency ratio), baik penduduk tua maupun muda. 

Rasio ketergantungan penduduk tua dihitung dari perbandingan jumlah penduduk lansia (65 tahun ke atas) per 100 penduduk usia kerja (15-64 tahun). Sementara ketergantungan penduduk muda, diukur dari jumlah penduduk usia 14 tahun ke bawah per 100 penduduk usia kerja. 

Menurut PBB, indikator suatu negara sedang mengarah ke penuaan penduduk jika tingkat ketergantungan penduduk tua meningkat. Di sisi lain, rasio ketergantungan penduduk muda mengalami penurunan. 

Dari grafik di bawah terlihat, ada kecenderungan Indonesia tengah mengarah ke situasi penuaan penduduk. Jika tidak dipersiapkan, situasi demografi ini akan berdampak terhadap perekonomian. 

Jepang adalah salah satu contoh negara yang perkembangan penduduk tuanya paling pesat di Asia. Saat ini di negeri sakura tersebut, proporsi lansia jauh lebih besar dibandingkan anak-anak. Kondisi ini sudah terjadi sejak dekade 1990-an. 

Merosotnya jumlah anak-anak berdampak pada kurangnya tenaga kerja di masa depan. Hal ini terlihat dari tren pertumbuhan ekonomi di Jepang yang cenderung turun, bahkan mengalami pertumbuhan negatif. Salah satu upaya yang dilakukan Jepang untuk menjaga perekonomiannya dengan tetap menjaga produktivitas penduduk lansia. 

Pemerintah Jepang menginisiasi program Healthy Japan 21 untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan sosial berkelanjutan, perbaikan gaya hidup, dan lingkungan sosial. 

Pemerintah juga mereformasi sistem ketenagakerjaan dengan menaikkan usia pensiun menjadi 65 tahun untuk pegawai negeri. Selain itu membuka ruang kerja bagi penduduk yang masih ingin aktif hingga usia 70 tahun. 

Data OECD menunjukkan, tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk berusia 65 tahun ke atas di Jepang mencapai 25,6% pada 2021.

Bagaimana dengan Indonesia? Dilihat dari data, hanya 5,3% penduduk berusia 60 tahun ke atas yang masih bekerja.

Persoalan lain adalah rendahnya tingkat pendidikan rata-rata usia kerja. Sebesar 23% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar (SD). Adapun sekitar 80,24 juta orang atau 59,31% dari pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal.

Konsekuensinya, tingkat penghasilan penduduk juga rendah. Penghasilan yang rendah menyebabkan mereka tidak mampu menyisihkannya sebagai tabungan untuk masa pensiun. 

Pada akhirnya, beban anggaran pemerintah akan bertambah untuk alokasi kebutuhan dana pensiun, perawatan dan pelayanan kesehatan khusus dan intensif, serta perlindungan sosial. 

Data BPS menyebutkan, terdapat 28,15% lansia yang tidak memiliki jaminan kesehatan, baik itu jaminan kesehatan nasional maupun swasta pada 2021. Kepemilikan jaminan kesehatan penting bagi lansia, karena tantangan terbesar lansia adalah menurunnya tingkat kesehatan. Kondisi lansia yang sering sakit, menyebabkan mereka membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk biaya kesehatan.

BPS juga mencatat bahwa, hanya 8,7% lansia yang memiliki jaminan pensiun. Jaminan pensiun mencegah lansia tidak menjadi kelompok miskin yang disebabkan tidak adanya pendapatan. Padahal data menunjukkan, sekitar 43,3% lansia berada di kelompok termiskin atau 40% pengeluaran terbawah.

Menyikapi permasalahan kependudukan di masa depan, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hanya populasinya yang bertambah, tetapi struktur demografinya yang juga berubah. 

“Itu dari sekarang harus mulai dipikirkan. Jangan sampai, kalau dalam ilmu ekonomi, ada negara yang penduduknya sudah mulai menua tetapi mereka masih belum juga kaya. Mereka masih miskin,” katanya dalam acara Mofest 2022, Kamis 1 Desember 2022.

Editor: Aria W. Yudhistira