Pasien Covid-19 Cenderung Alami Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis pasien dan penyintas Covid-19 berupa cemas, depresi hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
21 Februari 2021, 15:16
DONOR PLASMA KONVALESEN DI BEKASI
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Pasien dan penyintas Covid-19 punya kecenderungan untuk mengalami distorsi atau gangguan kejiwaan. Hal ini disampaikan oleh Secretary General-Asian Federation of Psychiatric Asociations, Nova Riyanti Yusuf menanggapi dampak Covid-19 yang tidak hanya dirasakan secara fisik tapi juga secara psikis.

“Jadi memang pada pasien covid-19 itu bisa dipastikan ada distorsi psikologis yang dialami,” ujarnya membuka diskusi dalam dalam talkshow bertajuk Psychological Long Covid Syndrome: Atasi Stres Pasca Pandemi yang diselenggarakan BNPB, Rabu (17/2).

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) wilayah Jakarta ini memaparkan kalau hal tersebut terbukti dari temuan langsung di masyarakat. PDKSJ sempat melakukan swaperiksa secara random terhadap orang-orang yang telah terinfeksi maupun yang belum terinfeksi Covid-19.

"Dari 4.010 yang mengisi swab periksa tersebut, 64,8 persennya mengalami masalah psikologis dan yang menarik itu adalah ada 65 persen cemas, 62 persen depresi," kata Nova.

Sementara gangguan psikologis yang dialami para penyitas Covid-19 juga banyak ditemukan. Nova mengungkapkan, berdasarkan penelitian di China yang dilakukan terhadap 730 pasien di rumah sakit khusus penanganan Covid-19, terdapat prevalensi gejala-gejala stres pascatrauma yang berhubungan dengan Covid-19 mencapai 96,2 persen.

Penelitian lainnya di Korea Selatan menunjukkan tingginya tingkat gangguan psikologis oleh penyintas Covid-19. “Begitu dia pulang, diwawancara via telepon, 20,3 persen yang sudah pulang dari rumah sakit ternyata masih mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD),” ucap Nova.

PTSD ini adalah gangguan psikologis jangka panjang yang dirasakan lebih dari satu bulan oleh orang yang sebenarnya sudah melalui satu tahap penyakit.

Senada dengan Nova, Pakar Pendamping dan Dukungan Psikososial Kebencanaan Relawan Satgas Covid-19, Endang Mariani menjelaskan berdasakan penelitian lainnya, sekitar 30-50 persen penyintas Covid-19 mengalami PTSD.

Umumnya mereka yang mengalami PTSD kerap merasa sendirian atau tersisih, sulit untuk berpikir, merasakan sesuatu yang menakutkan akan terjadi, sering merasa lelah, dan mengalami gangguan tidur.

“Hal ini bisa berdampak ketika mereka bersosialiasi dan menurunkan produktivitas,” ujar Endang dalam kesempatan yang sama.

Oleh karena itu, Endang mengatakan, baik pasien maupun penyitas Covid-19, benar-benar perlu mendapat perhatian khusus dan pendampingan sejak dini. Di sisi lain keterbukaan pasien juga diperlukan untuk mengidentifikasi treatment seperti apa yang diperlukan.

“Tidak ada kasus yang sama antara satu orang dengan orang yan lain. Sehingga butuh pendekatan personal dan pendampingan insentif untuk tahu permasalahan di mana dan jalan keluarnya seperti apa,” tutur dia.

Endang memaparkan, upaya-upaya yang dilakukan praktisi pendampingan psikologis pada dasarnya berupaya untuk membangkitkan potensi dalam diri pasien. “Karena bagaimana pun juga penyembuh utama itu adalah diri sendiri, sehingga kita mencari potensi dirinya apa dan bagaimana meningkatan reseliensi dalam diri,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Nova penyedia layanan kesehatan bisa mengambil peran dengan memberikan terapi psikologis pada minggu pertama saat pasien Covid-19 menjalani perawatan.

Selain itu, komunikasi dengan orang dekat juga tidak kalah pentingnya. Oleh sebab itu, sebisa mungkin para pasien Covid-19 diberi akses untuk berkomunikasi dengan keluarga, secara virtual misalnya, agar dapat membantu proses pemulihan psikologis.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait