Swedia Minati Pembangkit Tenaga Air dan Angin di Indonesia Timur

"Kerja sama ini memberikan jalan yang lebih maju untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), sehingga tercapai target EBT sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN)," kata Jonan.
Anggita Rezki Amelia
17 Februari 2017, 18:53
Pembangkit Listrik Tenaga Air, Kracak, Bogor
Arief Kamaludin|KATADATA

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Swedia terkait pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Dengan kerja sama ini, Swedia akan membangun pembangkit berbasis air (hidro) dan juga angin (Bayu) di Indonesia.

Penandatanganan itu dilakukan oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Koordinator Kebijakan dan Energi Swedia Ibrahim Baylan. "Kerja sama ini memberikan jalan yang lebih maju untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), sehingga tercapai target EBT sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN)," kata Jonan di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/2).

(Baca: Dua Aturan Baru Kementerian ESDM Bisa Hambat Investasi Panas Bumi)

Saat ini, lokasi pembangunan pembangkit listrik berbasis air dan angin tersebut masih belum ditentukan. Tapi, rencananya Swedia akan mencoba menyasar daerah timur untuk mengembangkan EBT.

Di sisi lain, Jonan mengaku belum mengetahui jumlah investasi yang akan dikeluarkan oleh Swedia. Namun, masuknya Swedia diharapkan membuat tarif listrik EBT di Indonesia lebih terjangkau dan murah, terutama jika penggunaan teknologi yang dipakai lebih efisien.

"Pak Menteri Swedia juga mengatakan renewable energi bisnisnya atau teknologinya cost-nya sudah makin baik sekarang," kata Jonan. (Baca: BP: Pertumbuhan Energi Terbarukan Naik Empat Kali Lipat)

Di tempat yang sama,  Ibrahim Baylan mengatakan salah satu alasan yang membuat negaranya tertarik berinvestasi di sektor EBT, yakni mengenai komitmen negaranya untuk melaksanakan perjanjian iklim di Paris (Conference of Parties/COP) ke-21. "Hari ini kami memiliki pangsa tertinggi energi terbarukan di Uni Eropa, pada saat yang sama kita memiliki harga terendah di Uni Eropa," kata dia.

Dalam kunjungan pertamanya ke Indonesia ini, Ibrahim juga membawa16 perusahaan di sektor lainnya. Alasannya Indonesia merupakan wilayah yang menarik untuk berinvestasi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kerja sama.

Program kerjasama pertama antara Indonesia dan Swedia bernama Initiative for Sustainable Energy Solutions (INSISTS), yang dimulai tahun 2013. INSIST adalah pusat keunggulan yang dibentuk oleh Dewan Energi Nasional (DEN) bekerjasama dengan Swedish Energy Agency (SEA).

Selain itu ada proyek Sustainable Energy Solution for Balikpapan City; Payakumbuh Sustainable Waste Management serta Denpasar and Yogyakarta Landfill Project. Studi kelayakan untuk proyek di kota Payakumbuh dan Balikpapan sudah selesai pada bulan November 2016. Hasilnya sedang dikaji Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian ESDM.  (Baca: DPR Desak Pemerintah Cantumkan Tenaga Nuklir ke Rencana Kerja PLN)

Kerja sama Indonesia-Swedia lainnya yang telah menghasilkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) yang terletak di Tempat Pembuangan Akhir Kawatuna, Palu pada tahun 2015. PLTBg ini memiliki kapasitas sebesar 50 KW. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait