Putusan Final Investasi Tercapai, Kilang 3 Tangguh Siap Dibangun

Sebanyak 75 persen produksi gas dari Train III Tangguh ini nantinya akan disalurkan kepada PLN. Ini untuk mendukung megaproyek listrik 35 ribu megawatt.
Anggita Rezki Amelia
1 Juli 2016, 22:22
Blok Tangguh
Katadata

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) akhirnya memberikan persetujuan atas keputusan final investasi proyek pembangunan kilang gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) Tangguh Train III yang diajukan oleh BP Tangguh Berau Ltd. Persetujuan ini menandai bisa dimulainya pembangunan salah satu megaproyek sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia tersebut.

Persetujuan keputusan final investasi ini ditandai dengan penyerahan empat dokumen dari Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi kepada BP Regional President Asia Pacific Christina Verchere. Acara ini juga disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, serta sejumlah representasi pemangku kepentingan dan pemerintah daerah terkait.

Empat dokumen tersebut yakni persetujuan nilai autorization for expenditure (AFE) untuk pembangunan kilang LNG Train 3 baik untuk fasilitas darat dan lepas pantai. Kedua, persetujuan penunjukan pelaksana proyek (EPC Award) untuk pembangunan kilang LNG dan fasilitas gas lepas pantai (platform dan pipa penyalur). Ketiga, persetujuan pasokan gas untuk pabrik pupuk di Papua. Keempat, persetujuan pembiayaan kilang LNG.

Amien mengatakan, jumlah investasi untuk proyek tersebut mencapai US$ 8 miliar. Angka ini lebih rendah dari rencana sebelumnya yakni US$ 12 miliar. Ini karena penurunan harga jasa, seperti pekerjaan Engineering Procurement Construction (EPC), akibat harga minyak dunia yang rendah. (Baca: Gara-Gara Harga Minyak, Investasi Kilang Tangguh Ikut Menyusut)

Advertisement

Dalam menggarap proyek ini, BP juga memakai skema pinjaman "trustee borrowing shceme”.

Tapi porsinya tidak mencapai 50 persen dari nilai investasi atau sekitar US$ 3,745 miliar. 

Meski jumlah investasi menurun, Amien memastikan proyek tersebut akan berjalan lancar dengan kualitas yang bagus. Sebab dalam proses tendernya para calon kontraktor diadu untuk dicari siapa yang paling bagus penawarannya. "Harga yang rendah tapi kualitas bagus," kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (1/7).

Beberapa paket pekerjaan konstruksi untuk proyek Train III Tangguh ini akan mulai dikerjakan pada kuartal empat tahun ini.

Paket pertama adalah paket konstruksi konstruksi di darat untuk gas alam cair. Kontraktor yang menjadi pemenang dalam tender proyek konstruksi ini adalah perusahaan konsorsium yang terdiri atas Chiyoda, Saipem, Suluh Ardi, dan PT Tripatra Engineering and Construction yang juga sebagai pemimpin konsorsium. Nilai kontraknya mencapai US$ 2,43 miliar. 

Untuk proyek EPC lepas pantai, perusahaan yang memenangkan tender adalah Saipem Indonesia dengan nilai kontrak US$ 448 juta. Selain itu ada juga proyek pekerjaan pipa, dengan Kontraktor PT Aksia Pertiwi dengan nilai kontrak US$ 60 Juta.  

Jika sesuai target, pengoperasian kilang ini bisa dimulai 2020. Dengan begitu, proyek ini diproyeksikan menyumbang tambahan 3,8 juta ton per tahun atau million tons per annum (mtpa) terhadap kapasitas produksi Kilang LNG Tangguh. Jadi, total kapasitas kilang akan mencapai 11,4 mtpa.

Proyek Kilang LNG Tangguh mencakup tiga blok wilayah kerja, yakni Berau, Muturi dan Wiriagar. Train 3 menambah 2 anjungan lepas pantai, 13 sumur produksi baru, dermaga LNG baru, dan infrastruktur pendukung lainnya. 

Sebanyak 75 persen produksi gas dari Train III ini nantinya akan disalurkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN). Ini untuk mendukung megaproyek listrik 35.000 megawatt. Itu setara dengan 3.000 MW listrik bagi Indonesia. (Baca: BP Turunkan Harga, PLN Borong Gas Tangguh Train 3)

Selain itu, gas dari Proyek ini juga untuk memenuhi kebutuhan gas bagi kelistrikan di Provinsi Papua Barat hingga 20 mmscfd atau setara 100 megawatt. Sedangkan untuk pupuk 180 mmscfd.

Nantinya sekitar US$ 1,3 miliar kandungan dalam negeri dari barang dan jasa dipasok oleh perusahaan Indonesia.

Hal ini tentu meningkatkan pendapatan perusahaan nasional/lokal. Di sisi lain proyek ini akan menggunakan kandungan lokal sebesar 35 persen, antara lain dari sektor pekerjaan sipil, mesin, elektro, hingga kelautan.

Sementara itu, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan menyambut baik persetujuan keputusan akhir investasi tersebut. “Ini sebuah milestone bagi industri hulu migas Indonesia. Terlebih-lebih, ini sejalan dengan visi ‘Membangun Indonesia dari Timur’-nya Nawacita,” kata dia. (Baca: Fokus Penggunaan LNG untuk Wilayah Timur)

Proyek Kilang LNG Tangguh Train-3 dioperasikan oleh BP Berau Ltd sebagai kontraktor mitra utama SKK Migas yang memegang saham mayoritas, yakni 37,16%. Terdapat enam kontraktor mitra Tangguh lainnya yang digandeng BP,  yakni: MI Berau BV (16,30%), CNOOC Muturi Ltd (13,90%), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23%), KG Berau/KG Wiriagar (10,00%), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35%), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,06%). 

“Keputusan investasi ini merupakan titik puncak dari kerja keras Pemerintah Indonesia bersama BP dan para mitra kami selama bertahun-tahun. Tujuan kami adalah mewujudkan potensi sepenuhnya dari aset strategis nasional di kawasan timur Indonesia ini,” ujar Christina Verchere.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait