Kementan Dorong Pengembangan Jagung Rendah Aflatoksin

Kebutuhan akan jagung rendah aflatoksin (di bawah 20 ppb) dalam negeri setiap tahun diperkirakan sebesar 15.000 ton.
Image title
Oleh - Tim Publikasi Katadata
30 Maret 2019, 12:53
Kementan
Katadata

Lombok Barat - Kementerian Pertanian melepas pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin (substitusi impor) dari Koperasi Dinamika Juara Agrobisnis ke PT Greenfields Surabaya serta melepas ekspor corn cobs (janggel jagung) ke Korea Selatan. Pelepasan dilakukan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) dan Wakil Bupati Lombok Timur di Gudang Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis, Kamis (28/3/2019).

Direktur PPHTP, Gatut Sumbogodjati dalam sambutannya memaparkan jagung merupakan komoditas strategis utama terpenting setelah padi. Jagung juga merupakan palawija utama di Indonesia yang kegunaannya relatif luas, terutama untuk konsumsi manusia dan kebutuhan bahan pakan ternak. Menurutnya, agrobisnis jagung memiliki berbagai keuntungan di antaranya sebagai pakan untuk unggas, dan usaha taninya mudah. 

"Berdasarkan data ARAM I (angka ramalan) produksi jagung Indonesia pada 2018 seberat 30,56 juta ton dengan luas lahan panen 5,73 juta hektar. Alhasil, produktivitas jagung nasional tahun lalu seberat 52,41 kuintal/hektar," jelas Gatut. Dari total Produksi Jagung Nasional tersebut, produksi jagung Provinsi Nusa Tenggara Barat pada ARAM I mencapai 2.058 juta ton dengan luas lahan panen 306.000 hektar. Sementara, dari total produksi tersebut sebanyak dipekirakan  2,92 juta ton per tahun digunakan untuk memenuhi pakan peternak dalam negeri.

Peningkatan produksi jagung dalam negeri, kata Gatut membuat petani jagung dalam negeri makin bergairah. Namun, lonjakan produksi jagung nasional tenyata masih belum dimbangi dengan peningkatan kualitas/ mutu dari jagung karena kadar aflatoksinnya masih tinggi. 

“Untuk memproduksi jagung rendah aflatoksin memerlukan penanganan khusus mulai dari budidaya, penanganan pasca panen sampai distribusi kepada peternak, di samping itu perlu insentif harga yang memadai” ujar Gatut.

“Jagung rendah aflatoksin digunakan sebagai bahan pakan sapi perah agar dapat menghasilkan susu segar dengan persyaratan aflatoksin maksimal 0,5 ppb” lanjut Gatut. 

Kebutuhan akan jagung rendah aflatoksin (di bawah 20 ppb) dalam negeri setiap tahun diperkirakan sebesar 15.000 ton. Ini mendorong Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis berinovasi sehingga mampu menyediakan jagung rendah aflatoksin dengan kapasitas produksi sebesar 30 ton per hari.

“Kemampuan Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis untuk menyediakan jagung rendah aflatoksin yang dibutuhkan oleh industri seperti PT. Greenfilds patut kita dukung dan kita dorong untuk dapat meningkatkan kapasitas produksinya sehingga mampu mensuplai kebutuhan industri dalam negeri” ujar Gatut.

Selain menghasilkan jagung rendah aflatoksin, Koperasi Dinamika Nusra Agrobisnis juga telah mampu meningkatkan nilai tambah dengan inovasinya untuk menghasilkan corn cob (janggel). 

Corn Cobs merupakan produk samping produksi jagung rendah aflatoksi dengan pemipilan tersentralisasi menggunakan corn sheller yang diolah  dalam bentuk compact dan digunakan sebagai salah satu media untuk budidaya jamur merang. Korea Selatan telah meminta corn cobs sebanyak 300 ton/ bulan, namun Koperasi NA baru bisa merealisasikan 150 ton dan sisanya 150 ton dalam tahap produksi.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Timur, Rumaksi mengatakan sebagai bahan pakan ternak, cemaran aflatoksin pada jagung merupakan salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen jagung. Selain kadar air, aflatoksin cukup signifikan dalam meningkatkan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan.

Rumaksi mengatakan, "Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI)."

Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb.

Harapannya  pengiriman perdana jagung rendah aflatoksin dari Koperasi Produksi Syariah Dinamika Nusa Agribisnis (DNA) ke PT. Greenfields dan ekspor Corn Cobs (janggel jagung) ke Korea Selatan tersebut akan berkelanjutan dan jumlahnya meningkat. Hal tersebut untuk menjaga kepercayaan dunia industri terhadap jagung asal Lombok Timur.

Produksi jagung nasional dalam lima tahun terakhir meningkat 12,49 persen tahun. Pada periode 2018 produksi jagung mencapai 30 juta pipilan kering (PK). Sementara itu untuk luas panen per tahun naik 11,06 persen dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen. Di Lombok Timur, berdasarkan data capaian RPJMD 2013-2018, produksi jagung 2017 mencapai 185.432 ton.

Editor: Arsip

Video Pilihan

Artikel Terkait