Diduga Siarkan Kampanye, MNC Grup Mangkir dari Pemeriksaan Bawaslu

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

Kamis 8/3/2018, 19.43 WIB

Bawaslu rencana akan memberikan panggilan kedua untuk mengkonfirmasi dugaan pelanggaran aturan kampanye.

Televisi Bursa Efek Indonesia, IDX Channel
Katadata
Ilustrasi siaran televisi.

Tiga lembaga penyiaran milik MNC Group, yakni RCTI, iNews TV, dan Global TV mangkir dari pemeriksaan yang diagendakan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) hari ini, Kamis (8/3). Bawaslu meminta konfirmasi dari ketiga stasiun TV karena menemukan dugaan pelanggaran kampanye di luar jadwal yang ditentukan.

Ketiga lembaga penyiaran mangkir dari pemeriksaan dengan alasan akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebelum menghadiri panggilan klarifikasi. "Mereka hendak konsultasi ke KPI," kata Komisioner Bawaslu Mochammad Afifuddin di kantornya, Jakarta, Kamis (8/3).

Afifuddin mengatakan, pemanggilan terhadap ketiga lembaga penyiaran terkait pantauan Bawaslu dari siaran ketiga televisi tersebut pada 2 Maret 2018. "Kami ambil kasus yang terakhir di tanggal 2 Maret. Meskipun di tanggal sebelumnya juga ada siaran yang kami kategorikan masuk kampanye di luar jadwal," kata Afifuddin.

(Baca juga: KPI Peringatkan MNC Group karena Gencar Kampanye Perindo

Menurut Afifuddin, Bawaslu bersama KPI, KPU, dan Dewan Pers melalui gugus tugas sebenarnya sudah memberikan sosialisasi terhadap partai politik maupun lembaga penyiaran untuk tidak melakukan kampanye di luar jadwal. Lembaga penyiaran hanya boleh menyiarkan konten kampanye partai politik peserta pemilu mulai 23 September 2018 hingga 21 hari sebelum masa tenang.

"Sejak awal kami ingatkan sebenarnya," tambah Afifuddin.

Sebelum sosialisasi, terdapat 12 televisi yang diduga melakukan kampanye partai politik di luar jadwal. Mereka menggunakan 105 spot iklan dengan masing-masing berdurasi 15 detik. Rata-rata lembaga penyiaran memasang sembilan spot iklan.

Dari keduabelasnya, salah satu lembaga penyiaran menayangkan paling banyak 20 spot iklan, sementara paling sedikit empat spot iklan. Namun pada 22 Februari 2018, delapan lembaga penyiaran telah menghilangkan iklan berbau kampanye partai politik. Adapun sisanya, yakni MNC TV, RCTI, iNews, dan Global TV masih belum berhenti menyiarkan konten yang diduga berbau kampanye.

"Setelah kami ingatkan masih ada yang berjalan di empat stasiun televisi itu. Tapi pada 2 Maret menurut jejak yang dilihat teman-teman, tiga (televisi) ini yang ditemukan. Jadi objeknya adalah iklan kampanye yang disiarkan di luar jadwal yang disiarkan tiga televisi," kata Afifuddin.

(Baca juga: Usai Dapat Nomor Urut, Parpol Ajukan Capres-Cawapres Enam Bulan Lagi)

Karenanya, Bawaslu pun memanggil ketiganya untuk dimintai klarifikasi. Menurut Afifuddin, klarifikasi dilakukan untuk mencari tahu siapa pihak yang meminta adanya penyiaran kampanye. "Ujungnya kami berharap agar ada peta jalan untuk pemanggilan selanjutnya, misalnya partai politiknya," kata dia.

Dengan absennya RCTI, iNews, dan Global TV dalam pemanggilan saat ini, Bawaslu berencana melakukan pemanggilan kedua. Panggilan tersebut akan dilakukan terhadap direktur utama ketiga lembaga penyiaran tersebut.

"Segera ini (dipanggil). Tadi saya telepon untuk segera dilayangkan, tidak kepada pimpinan redaksi, tapi kepada direktur utama atau sejenisnya," kata dia.

Jika RCTI, iNews, dan Global TV tak hadir setelah tiga kali panggilan dilakukan, Bawaslu akan menyikapinya melalui mekanisme pleno. "Sebenarnya skenario untuk panggil partainya juga sudah ini, cuma kan mau meminta informasi dulu," ucapnya.

Sebelumnya, MNC Group juga telah mendapatkan surat peringatan dari KPI terkait penayangan iklan kampanye Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Padahal, Perindo sudah ditetapkan sebagai salah satu peserta Pemilu 2019.

"Masih terdapat iklan kampanye partai politik di lembaga penyiaran sejak penetapan," kata Komisioner KPI Hardly Stefano di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (26/2).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha