Pidato Game of Thrones, Tim Kampanye: Kapasitas Pemimpin Dunia Jokowi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Muchamad Nafi

Jum'at 12/10/2018, 16.54 WIB

Jokowi dinilai berupaya mengubah paradigma antara negara maju, berkembang, dan tertinggal.

Kemeriahan Rangkaian Annual Meeting IMF-WB 2018
Arief Kamaludin | KATADATA
Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo mengibaratkan keadaan ekonomi dunia saat ini bagaikan kisah Game of Thrones. Layaknya houses dalam serial tersebut memerebutkan iron throne, negara-negara pun memperebutkan kekuasaan di bidang ekonomi, antara lain melalui perang dagang.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengapresiasi pidato Presiden ketika membuka Sidang Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Bali, Jumat (12/10). Pidato yang mengkaitkan serial populer Game of Thrones itu menunjukkan Jokowi mampu mengambil simbolisasi persoalan dunia dengan baik.

Alhasil, pidatonya dengan mudah diterima oleh masyarakat dunia. “Pak Jokowi telah menunjukkan kapasitasnya tidak hanya sebagai pemimpin Indonesia, tapi juga pemimpin dunia,” kata Karding di Posko Cemara, Jakarta, Jumat (12/10).

Selain itu, Jokowi dianggap mampu menonjolkan ciri khas kelompok milenial melalui analogi Thrones. Serial tersebut cukup populer disaksikan oleh anak muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (Baca: Pidato Lengkap Jokowi yang Menyedot Perhatian di Sidang IMF-Bank Dunia).

Karding menafsirkan pidato Jokowi menunjukkan bahwa negara-negara besar di dunia saat ini kerap berkelahi terkait masalah ekonomi. Beberapa negara maju bertindak seperti great houses dalam serial tersebut.

Mereka berperang satu sama lain untuk memperebutkan tahta besi, atau Iron Throne. Perebutan kehidupan antara great houses bagai roda besar yang berputar. Sementara house yang satu berjaya, lainnya akan mengalami kesulitan.

Sementara, mereka lupa bahwa ada masalah serius tengah terjadi yang dianalogikan sebagai Evil Winter, yakni perubahan iklim. Kondisi ini ditandai dengan gejala topan yang terus terjadi di berbagai belahan dunia, baik Amerika, Eropa, Jepang, hingga Filipina.

Ada pula persoalan limbah plastik di laut yang dapat mencemari makanan masyarakat dunia. “Itu bahaya bagi masa depan bangsa-bangsa dunia, warga dunia,” kata Karding. (Baca juga: IMF: Perang Dagang Bisa Turunkan 1% PDB Dunia dalam 2 Tahun).

Karenanya, Karding menilai Jokowi tengah berupaya mengubah paradigma antara negara maju, negara berkembang, dan tertinggal. Jokowi mengajak negara-negara di dunia untuk berkolaborasi dan bekerja sama mengatasi persoalan yang ada bersama-sama.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha