Google Selidiki Kasus Kebocoran Data Suara di Layanannya

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

12/7/2019, 13.04 WIB

Google bermitra dengan ahli bahasa untuk mengkaji rekaman suara pengguna di Google Assistant. Data ini yang diduga bocor.

Google bakal menyelidiki kasus kebocoran data suara di Google Assistant.
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Ilustrasi, seorang pria membuka laman Google dari gawainya di Jakarta, Jumat (12/4/2019). Google bakal menyelidiki kasus kebocoran data suara di Google Assistant.

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google bakal menyelidiki kasus kebocoran data suara di Google Assistant. Hal ini menindaklanjuti laporan penyiar publik Belgia, VRT NWS yang menyebutkan bahwa Google memberi akses rekaman suara pengguna kepada kontraktor.

Product Manager for Search Google David Monsees menjelaskan, perusahaannya memang memberikan akses rekaman suara kepada kontraktor, dalam hal ini pakar bahasa. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan Google Assistant.

Itu pun hanya 0,2% dari semua rekaman suara di Google Assistant yang ditinjau oleh ahli bahasa. Namun, Monsees menyayangkan kontraktor membocorkan data ini ke VRT NWS. Hal ini termasuk tindakan yang melanggar kebijakan keamanan data di Google.

"Tim Respons Keamanan dan Privasi kami telah ditugaskan untuk menyelesaikan masalah ini, sedang menyelidiki, dan kami akan mengambil tindakan. Kami sedang melakukan tinjauan lengkap tentang perlindungan data kami untuk mencegah kesalahan seperti ini terjadi lagi, ” katanya dikutip dari TechCrunch, Jumat (12/7).

(Baca: Google Kembangkan 5 Fitur untuk Keamanan Data Pengguna)

Google mencatat, leaker atau ahli bahasa yang membocorkan data tersebut telah mendengarkan lebih dari 1.000 rekaman. Sebanyak 153 di antaranya bersifat tidak disengaja atau pengguna tidak bermaksud untuk meminta bantuan Google.

Perusahaan teknologi tersebut mengakui, ada rekaman suara di Google Assistant yang mengungkap identitas pengguna. Sebab, beberapa rekaman berisi informasi yang sangat sensitif, seperti percakapan di kamar tidur, pertanyaan medis, atau bahkan pengguna yang berada dalam situasi kekerasan rumah tangga.

Meski begitu, Monsees menegaskan bahwa tujuan dari peninjauan rekaman suara di Google Assistant untuk meningkatkan kualitas layanan. Lagipula, pengguna bisa mengatur layanan agar data audionya tidak disimpan dan menghapus rekaman secara otomatis setiap tiga atau 18 bulan.

"Kami selalu berupaya meningkatkan cara kami menjelaskan pengaturan dan praktik privasi kami kepada pengguna, dan akan meninjau peluang untuk lebih memperjelas bagaimana data digunakan untuk meningkatkan teknologi bicara," katanya.

(Baca: Sekarang Pesan Go-Jek Bisa Melalui Asisten Google )

Namun, Wired melaporkan, kebijakan privasi Google Home tidak menjelaskan bahwa Google menggunakan tenaga kontrak untuk meninjau atau menyalin rekaman audio. Alhasil, pengguna tidak mengetahui siapa saja pihak yang mendengar rekaman suaranya.

Selain Google, Amazon menyelidiki dugaan kebocoran data suara oleh kontraktornya, melalui smart assistant bernama Alexa. Sebab, koalisi kelompok privasi konsumen mengajukan pengaduan ke Komisi Perdagangan Federal AS terkait dugaan Alexa melanggar Undang-Undang Perlindungan Privasi Daring Anak-Anak (COPPA) di AS.

(Baca: Tiga Produk Baru Google Indonesia, Termasuk untuk Pencari Kerja)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha