Target Serapan Beras Turun, Bulog Sebut Stok di Gudang Masih Cukup

Menurut direksi Bulog, rendahnya target serapan 2019 dikarenakan perusahaan masih memiliki simpanan beras dalam volume cukup besar di gudang.
Michael Reily
2 Januari 2019, 20:00
Beras bulog
ANTARA FOTO/Rahmad
Tumpukan beras di Gudang Bulog di Lhokseumawe, Aceh, 31 Januari 2018.

Perum Bulog menargetkan penyerapan gabah dan beras petani  pada 2019 sebesar 1,8 juta ton. Angka itu lebih rendah daripada target yang dipatok pada  2018 yang mencapai 2,72 juta ton, meskipun realisasi penyerapannya hanya sekitar 1,5 juta ton.  Menurut direksi perseroan, rendahnya target serapan 2019 dikarenakan Bulog masih memiliki simpanan beras dalam volume cukup besar di gudang.

"Kami masih punya stok sekitar 2,1 juta ton, itu cukup sampai pertengahan tahun," kata  Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh kepada Katadata.co.id, Rabu (2/1).

(Baca: Bulog Operasi Pasar 500 Ribu Ton pada 2018, Terbesar dalam 5 Tahun)

Namun, target penyerapan itu tetap akan sejalan dengan operasi pasar yang Bulog gelontorkan pada 2019.

Advertisement

Berdasarkan data penyerapan gabah dan beras Bulog oleh Kementerian Pertanian, kinerja pengadaan dalam negeri Bulog baru mencapai 1,48 juta ton per 15 Desember 2018. Alhasil, persentase penyerapan baru sebesar 54,5% dari target 2,72 juta ton.

Namun, atas minimnya capaian target serapan beras tersebut, perseroan berdalih ada  penugasan impor beras sebanyak 1,8 juta ton. Sehingga, penyerapan tak harus mengacu pada target pemerintah.

(Baca: Harga Beras Naik, Jokowi Instruksikan Bulog Gelar Operasi Pasar)

Tahun 2017, penyerapan beras petani oleh Bulog hanya mencapai 2,16 juta ton. Padahal, target pengadaannya sebesar 3,7 juta ton dan pemerintah tidak melakukan penugasan impor beras.

Tri mengungkapkan stok sebesar 2,1 juta ton berdasarkan pengadaan dalam negeri juga hasil impor beras. "Kami menggelontorkan beras operasi pasar sebanyak 500 ribu ton juga ada distribusi Rastra (Beras Sejahtera)," ujarnya.

 

 

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait