Rugi Triliunan Selama Pandemi, Pengusaha Mal Mengaku Sulit Balik Modal

Kerugian mal ditaksir mencapai Rp 12 triliun dan sulit dikembalikan seperti semula karena tingkat kunjungan yang masih relatif sepi dan daya beli melemah.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
15 Juli 2020, 16:58
Rugi Triliunan Selama Pandemi, Pengusaha Mal Mengaku Sulit Balik Modal.
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Pengunjung menggunakan pelindung wajah saat berbelanja di Pondok Indah Mall, Jakarta. Pengusaha mal mengaku sulit mengembalikan modal usai merugi triliunan rupiah akibat corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pandemi corona memberi pukulan berat kepada pengusaha retail, mal atau pusat belanja. Sempat mengalami penutupan hampir tiga bulan akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kini pengusaha mengaku sulit membalikan modal setelah merugi sekitar Rp 12 triliun. 

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia atau APPBI memperkirakan setidaknya butuh waktu selama 15 tahun untuk dapat mengembalikan kerugian yang ditimbulkan saat penutupan mal selama PSBB.

Kerugian mal ditaksir mencapai Rp 12 triliun dan sulit dikembalikan seperti semula karena tingkat kunjungan yang masih relatif sepi dan daya beli melemah. 

Ketua Umum APPBI, Stefanus Ridwan mengatakan, dalam sebulan kerugian dari biaya operasional yang ditanggung  pihak mal mencapai Rp 4,9 triliun. Jumlah ini dapat meningkat menjadi Rp 6 triliun jika ditambah dengan beban biaya gaji karyawan yang rata-rata bisa mencapai 6.000 orang pada satu unit mal.

(Baca: Pengunjung Sepi, Hanya 80% Gerai di Mal Sudah Beroperasi)

"Balik modalnya tidak jelas, sekarang saja mal yang bisnisnya bagus butuh waktu antara 11-15 tahun. Sekarang sangat rugi. Sedangkan untuk mal yang baru dan saat ini masih bayar cicilan ke bank, untuk bayar bunganya saja mungkin belum tentu bisa," kata Stefanus kepada Katadata.co.id, Rabu (15/7).

Menurut dia, untuk membayar gaji 6.000 karyawan dalam satu unit mal, pengusaha setidaknya membutuhkan pemasukan sekitar Rp 30 miliar setiap bulannya. Namun saat ini, dengan tingkat kunjungan mal masih rendah karena daya beli masyarakat yang masih lemah, situasinya masih sulit. 

Terlebih lagi belum ada kejelasan pemberian insentif pemerintah dan adanya penerapan protokol kesehatan, itu berarti artinya ada biaya lebih yang harus dikeluarkan untuk pengadaan fasilitas kesehatan. 

"Sampai sekarang ini tidak jelas bantuannya, pajaknya juga tidak jelas. Kami tidak tahu tepat sasaran apa tidak, tapi yang jelas dibantu itu masyarakat kecil hanya saja dengan bantuan itu tanpa mendapatkan penghasilan tetap tidak akan cukup," kata dia.

Hal senada juga diungkapkan pengusaha retail. Dikonfirmasi secara  terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menjelaskan, kerugian yang disebutkan APPBI baru berkisar 45-50% dari jumlah kerugian di sektor retail di seluruh Indonesia. 

(Baca: Pembukaan Mal Jakarta: Pengunjung Toko Sepi, Restoran Mulai Ramai)

Pasalnya, gerai retail tidak hanya berlokasi di dalam mal, tetapi juga banyak yang berdiri sendiri di luar mal.  Roy menjelaskan, situasi pengusaha retail juga sama sulitnya dengan yang dialami pemilik mal. 

"Pertumbuhan kami tahun lalu 8% dari Rp 245 triliun. Artinya ada 8% pendapatan tahun lalu yang kemungkinan hilang, jadi kerugiannya sekitar Rp 19,6 triliun atau Rp 20 triliun. Jadi kerugian yang dikatakan oleh APPBI merepresentasikan sekitar 45-50% dari total kerugian retail keseluruhan di Indonesia," kata dia.

Tak hanya itu, Roy juga menyebut pembukaan mal saat ini tidak akan berdampak banyak meningkatkan transaksi. Pasalnya, sejak pusat perbelanjaan dibuka kembali pertengahan Juni lalu, pengunjung yang datang hanya sekitar 30-40% dibandingkan saat kondisi normal sebelum pandemi.

"Ini betul-betul merupakan pukulan bagi peretail di dalam mal karena pengunjungnya hanya 30% dibandingkan masa normal. Yang berbelanja pun di bawah 50% dan nilai transaksinya kecil karena mereka hanya mengutamakan belanja kebutuhan pokok saja," kata dia.

Seperti diketahui, sejumlah mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta diperbolehkan kembali beroperasi 15 Juni lalu setelah tutup sementara sejak April 2020. Hanya beberapa tenant atau penyewa psat belanja seperti supermarket, apotek, toko yang menyediakan bahan pokok dan ATM di area mal saja yang diperbolehkan beroperasi selama pandemi.

APPBI pun memperkirakan kondisi usaha pusat perbelanjaan baru akan mulai beranjak normal pada 2021. Perkiraan ini mempertimbangkan proses penemuan vaksin yang membutuhkan waktu paling cepat satu tahun sejak dimulai pada Januari 2020.

Menurut catatan asosiasi, saat ini ada lebih dari 80 mal beroperasi di Jakarta. Adapun detilnya bisa dilihat dalam databoks berikut:

 

 

 

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait