Pungutan Emisi Global Pertama di Dunia Segera Terwujud

Hari Widowati
25 Maret 2024, 15:04
Ilustrasi emisi sektor perkapalan
ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/foc.
Kapal pesiar Genting Dream melintas di dekat Kapal patroli Singapore Police Coast Guard (SPCG) di perbatasan laut Singapura dan Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/7/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengadakan putaran negosiasi terakhir untuk membahas regulasi iklim industri pelayaran, yang menyumbang sekitar 3% dari emisi karbon global. Sebanyak 34 negara dari negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah menyatakan dukungannya terhadap harga gas rumah kaca universal.

Para aktivis mengaitkan momentum pembangunan kebijakan ini dengan dukungan dari negara-negara Kepulauan Karibia dan mengatakan bahwa pungutan emisi global tersebut akan diadopsi oleh IMO tahun depan.

Putaran pembicaraan terbaru ini menandai konvensi pertama IMO sejak negara-negara maritim menyepakati strategi gas rumah kaca yang baru pada Juli tahun lalu. Kebijakan yang telah direvisi, yang didukung oleh 175 negara, menargetkan untuk memangkas emisi pelayaran hingga 30% pada tahun 2030. Target ini akan ditingkatkan menjadi 70% pada tahun 2040 dan mencapai titik nol pada pertengahan abad ini.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, IMO setuju untuk menerapkan beberapa bentuk harga emisi pada tahun 2025. Harga emisi ini bertujuan untuk membantu menutup kesenjangan harga antara bahan bakar fosil dan energi ramah lingkungan serta menggunakan pendapatan yang dihasilkan untuk mendanai transisi yang adil.

Namun, ada beberapa proposal lain untuk memasukkan pungutan potensial sebagai bagian dari langkah-langkah lain. Setidaknya ada 14 negara yang terus mendukung pendekatan ini.

"PBB hampir mengadopsi harga emisi global yang pertama di dunia, tetapi kebijakan ini hanya akan berhasil jika negara-negara menerapkannya," ujar Sandra Chiri, Manajer Penjangkauan Internasional Emisi Pelayaran di Ocean Conservancy, kelompok advokasi yang berbasis di Amerika Serikat, seperti dikutip CNBC.

Menurutnya, pembicaraan di IMO pada bulan ini memberikan harapan bahwa mayoritas negara-negara-negara di Karibia, Pasifik, Afrika, serta Uni Eropa dan Kanada telah melihat peluang besar dalam menetapkan harga emisi pelayaran untuk transisi bersih industri ini. Negosiasi ini juga memastikan bahwa semua negara berkembang menjadi bagian dan mendapatkan manfaat darinya.

Chiri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sangat disesalkan bahwa sebagian kecil minoritas yang gigih berusaha untuk mengecilkan proposal tersebut.

Dekarbonisasi Sektor Perkapalan

Sektor perkapalan, yang mengangkut lebih dari 90% perdagangan global, dianggap sebagai salah satu industri yang paling sulit untuk didekarbonisasi. Salah satu penyebabnya adalah karena banyaknya bahan bakar fosil kotor yang dibakar oleh kapal-kapal tersebut setiap tahunnya.

Beberapa pendukung terbesar biaya emisi gas rumah kaca global untuk industri pelayaran termasuk negara-negara Kepulauan Pasifik, seperti Fiji, Kepulauan Marshall, dan Vanuatu. Selain itu, ada negara-negara Kepulauan Karibia, termasuk Barbados, Jamaika, dan Grenada.

Sebuah proposal yang diajukan oleh Belize dan beberapa negara Kepulauan Pasifik dalam perundingan tersebut menyerukan pungutan sebesar US$150 (Rp 2,34 juta) per ton karbon. Menurut para aktivis, usulan ini merupakan proposal paling ambisius yang pernah diajukan.

Proposal lainnya termasuk dorongan untuk menggabungkan harga emisi pelayaran dengan standar emisi internasional untuk bahan bakar maritim.

"Negosiasi minggu ini di Organisasi Maritim Internasional berhasil memajukan pembicaraan perdagangan global yang tahan iklim," kata Panos Spiliotis, manajer senior transportasi Uni Eropa untuk pelayaran global di Environmental Defense Fund.

Panos mengatakan, dengan meningkatnya dukungan untuk harga gas rumah kaca universal, para delegasi negara-negara anggota IMO harus mengembangkan rincian kebijakan yang tepat untuk memberikan insentif bagi dekarbonisasi pelayaran. Para delegasi IMO selanjutnya diharapkan untuk mengadakan pembicaraan pada musim gugur mendatang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...