Avtur Bergejolak, Jalan Panjang Bioavtur Jelantah Jadi Penolong

Ajeng Dwita Ayuningtyas
1 April 2026, 20:09
Pertamina memproduksi bioavtur berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. Produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) Pertamina ini sudah digunakan oleh maskapai asing, selain oleh maskapai terafiliasi, Pelita Air.
ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/foc.
Pertamina memproduksi bioavtur berbahan baku Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. Produk Sustainable Aviation Fuel (SAF) Pertamina ini sudah digunakan oleh maskapai asing, selain oleh maskapai terafiliasi, Pelita Air.

Bioavtur alias bahan bakar pesawat berbasis minyak nabati seperti minyak jelantah sejatinya bisa jadi solusi untuk menekan emisi sekaligus alternatif bahan bakar di tengah meningkatnya risiko pasokan dan harga minyak dunia. Namun realitanya tidak sesederhana itu. Kenapa?  

Data menunjukkan, harga bahan bakar berkelanjutan alias sustainable aviation fuel (SAF) jauh lebih mahal dari harga avtur biasa. Penyebabnya, proses produksinya yang lebih kompleks, pasokan bahan baku yang terbatas, hingga fasilitas produksi yang masih kecil. 

Mengutip S&P Global, harga SAF ikut melonjak bersama bahan bakar lain seiring meluasnya perang di Timur Tengah. Meskipun perang tidak mengganggu fasilitas produksi bioavtur, tapi menganggu jalur distribusi berbagai komoditas. Perang juga membuat biaya pengiriman dengan kapal tanker menjadi lebih mahal. 

"Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan tarif kapal tanker, yang secara tidak langsung berdampak pada biaya pengangkutan biofuel dan ketersediaan kapal, karena biofuel diangkut dengan jenis kapal yang serupa," kata CEO Stena Bulk Erik Hanell seperti dikutip dari S&P Global. 

Sebagian bioavtur Eropa yang dipasok dari Asia harus mengarungi rute yang lebih panjang karena Laut Merah masih berisiko. Harga SAF di Eropa, mencapai US$ 2.640 atau sekitar Rp44,8 juta per ton pada 11 Maret lalu. Sedangkan pada 27 Februari atau sebelum pecahnya perang Amerika-Israel dan Iran, SAF dibanderol US$ 2.294,5 atau sekitar Rp38,9 juta per ton.

Meski begitu, kenaikan harga SAF dilaporkan lebih lambat dibandingkan dengan avtur biasa, sehingga selisihnya menyempit. Sebagai gambaran, data dari International Air Transport Association (IATA), rata-rata harga bahan bakar pesawat per 27 Maret mencapai US$ 195,19 atau sekitar Rp3,3 juta per barel. Artinya, harganya sekitar US$ 1.500 atau 25,5 juta per ton.

Pertamina Dapat Pesanan SAF dari Maskapai Asing

Di Indonesia, SAF telah diproduksi oleh perusahaan pelat merah, Pertamina, melalui anak usahanya, Kilang Pertamina Internasional. Sejauh ini, produksinya belum masif dan difokuskan untuk mendukung upaya sukarela maskapai dalam mengurangi emisi dan kemandirian energi transportasi dalam negeri. Meskipun, perusahaan juga mendapatkan pesanan dari maskapai asing. 

“Implementasi SAF saat ini lebih menitikberatkan pada komitmen airliner untuk menurunkan emisi karbon, penggunaan secara sukarela dapat memberi keuntungan dalam kemandirian energi,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun kepada Katadata, pada Selasa (31/3). Pertamina Patra Niaga adalah distributor produk bahan bakar Pertamina, termasuk SAF.  

Maskapai milik Pertamina, Pelita Air, telah menggunakan SAF sebesar 2.000 kiloliter pada 2025 dan sedang melakukan pembicaraan dengan tim Pertamina Patra Niaga untuk komitmen penggunaan sukarela di tahun 2026. 

Tahun ini, Pertamina berencana memproduksi SAF sebesar 27.500 kiloliter secara co-processing dengan memanfaatkan limbah, terutama used cooking oil atau minyak jelantah. 

“Pertamina telah mendapat komitmen dari airliner luar untuk membeli SAF dengan perkiraan 3.000-5.000 kiloliter selama tahun 2026,” ucap Roberth. Namun, dia tidak memerinci identitas maskapai tersebut.

Sebagai informasi, Pertamina pernah menjual SAF-nya kepada Virgin Australia Airlines pada 2024 lalu, melalui aviation fuel terminal Ngurah Rai, Bali.

Video Pilihan
Loading...

Artikel Terkait