Investor Makin Aktif, Analis Nilai Pasar Modal Tak Terpengaruh PSBB

Investor mulai masuk ke pasar modal karena saham-saham undervalued. Sehingga transaksi di bursa tak akan terpengaruh PSBB.
Image title
7 April 2020, 12:04
bursa, saham, pasar modal, investasi, psbb
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Ilustrasi, pekerja melintas di depan layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (31/3/2020). Sejumlah analis menilai pemberlakuan PSBB tidak aka mempengaruhi transaksi saham di pasar modal.

Pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB untuk mencegah penyebaran Covid-19. Meski begitu, sejumlah analis menilai transaksi saham di pasar modal tak akan terganggu. 

Pasalnya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tetap memperbolehkan layanan pasar modal. Bursa Efek Indonesia pun telah mengatur pelaksanaan transaksi saham di tengah pandemi corona.

Di sisi lain, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penetapan status PSBB tidak berdampak pada kinerja indeks saham. Sebab, pelaku pasar mulai terbiasa dengan pembatasan aktivitas meski pemerintah belum menetapkan PSBB.

Hal itu terlihat dari indeks saham beberapa waktu terakhir yang ditutup di zona hijau. "Tentu hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa investor mulai masuk ke dalam pasar. Saham-saham yang undervalued menjadi alasannya," kata Nico, Selasa (7/4).

Lebih lanjut dia mengatakan investor sudah dapat menerima kondisi ekonomi yang tertekan. Biarpun pandemi corona belum mencapai puncaknya di Indonesia.

Begitu pula dengan analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama yang menilai bahwa pembatasan aktivitas tidak berpengaruh banyak kepada kinerja di pasar modal. Pasalnya, banyak industri yang masih berjalan, seperti logistik dan perbankan.

"Pengaruhnya tidak signifikan, itu hanya kebijakan parsial saja, kebijakan dari pemerintah daerah saja," kata Nafan pada kesempatan yang berbeda.

(Baca: IHSG Kuartal I Anjlok 28%, Saham Emiten Baru Malah Meroket Hingga 288%)

Sektor Saham yang Berpengaruh PSBB

Meskipun tak berpengaruh banyak terhadap pasar modal, namun PSBB bisa berdampak pada sejumlah perusahaan. Nico menyampaikan sektor ritel, terutama bisnis fesyen, akan tertekan dengan penerapan PSBB.

Namun, dampak penetapan PSBB terhadap sektor ritel akan tergantung pada diversifikasi bisnis perusahaan. Dia pun mencontohkan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang secara bisnis bergerak di sektor penjualan pakaian, namun memiliki lini usaha lain.

Melalui PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), MAPI memiliki dan mengoperasikan gerai Starbucks dan Krispy Kreme. MAPI pun bisa mempertahankan kinerja melalui anak usaha tersebut. 

Sedangkan Nafan menilai sektor konsumsi yang berhubungan dengan gaya hidup bakal berpengaruh negatif pada PSBB. Pasalnya, masyarakat tidak memikirkan gaya hidup dalam kondisi krisis corona.

"Kecuali kebutuhan pokok, misalnya supermarket dan apotek masih oke. Farmasi dan consumer good masih bagus. Tapi mengenai gaya hidup, itu yang termasuk dirugikan," kata Nafan.

Harga saham emiten yang bergerak di sektor ritel dan fokus pada penjualan busana, seperti PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) telah anjlok dalam sebulan terakhir. Harga saham Ramayana turun 31,82% menjadi di Rp 600 per saham. Sedangkan harga saham Matahari turun 47,88% ke level Rp 1.355 per saham.

(Baca: IHSG Rawan Koreksi di Masa Window Dressing, Berikut Saham Pilihannya)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait