Bank Mandiri Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun ini Bisa Capai 5,22%

Sejumlah sektor ekonomi akan tumbuh semakin baik, didukung oleh peningkatan konsumsi domestik seiring datangnya musim panen, serta Ramadan dan Idul Fitri.
Image title
Oleh Rizky Alika
16 Mei 2019, 06:51
pertumbuhan ekonomi, bank mandiri, prediksi pertumbuhan ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Mandiri

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan ekonomi Indonesia tahun ini masih akan tumbuh positif sebesar 5,22%, walaupun masih di bawah target pemerintah sebesar 5,3%. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan akan didorong oleh membaiknya sejumlah sektor domestik.

"Beberapa sektor masih tumbuh tinggi, seperti communication serta makanan dan minuman akan tumbuh baik. Sektor tourism juga didorong oleh pemerintah," kata Andry dalam paparan Macro Economic Outlook di Plaza Mandiri, Jakarata, Rabu (15/5).

Selain itu, lanjut Andry, pertumbuhan ekonomi juga akan didukung oleh dimulainya musim panen pada April 2019, meningkatnya konsumsi masyarakat pada Ramadan dan Idul Fitri, masa libur sekolah dan tahun pendidikan baru, serta pemberian THR serta gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil (PNS).

Konsumsi kelas bawah juga akan meningkat ditopang oleh bantuan sosial yang dianggarakan sebesar Rp 70 triliun pada tahun ini. Sementara kelas menengah atas, konsumsi diperkirakan juga akan meningkat seiring dengan naiknya tingkat keinginan membayar (willingness to pay) pada sektor properti.

(Baca: Ekonomi Kuartal I 5,07%, Tren Melambat Diramal Berlanjut Selama 2019)

Selain konsumsi, investasi juga diperkirakan membaik pada paruh kedua tahun ini. Andry memperkirakan aliran masuk Penanaman Modal Asing (PMA) akan kembali tumbuh. "Ini seiring dengan semakin meredanya ketidakpastian akibat tahun politik dan pengumuman kabinet kerja yang baru," ujarnya.

Sementara realisasi belanja pemerintah diperkirakan akan meningkat pada semester kedua. Kendati demikian, risiko penurunan permintaan global diperkirakan akan terjadi seiring dengan meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Hal tersebut juga dapat menjadi risiko bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya.

Adapun pada triwulan I 2019, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,07% (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 5,06% (yoy). Pertumbuhan didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,01% (yoy), atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh sebesar 4,95% (yoy).

Namun, seiring dengan melemahnya permintaan dunia, pertumbuhan ekspor turun menjadi -2,08% (yoy) di kuartal I 2019, lebih rendah dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama sebesar 5,94% (yoy). Sementara, impor tercatat sebesar 7,75% (yoy). Hal ini menyebabkan neraca perdagangan Indonesia membengkak menjadi US$ 2,56 miliar pada April 2019.

"Pelemahan permintaan dunia akibat menurunnya pertumbuhan negara-negara besar seperti Tiongkok dan Uni Eropa menyebabkan neraca perdagangan barang dan jasa terkoreksi," kata Andry.

(Baca: Perang Dagang Memanas, Darmin: Ekonomi Dunia Bisa Semakin Lambat)

Reporter: Rizky Alika

Video Pilihan

Artikel Terkait