Pengacara: Baasyir Jalani Pemeriksaan Kaki di RSCM

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi organ dalam yang menyebabkan kaki Baasyir membengkak.
Image title
29 Januari 2019, 10:43
Abu Bakar Baasyir
ANTARA FOTO/RENO ESNIR
Abu Bakar Baasyir tiba di RSCM untuk pemeriksaan kesehatan.

Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir hari ini akan menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi organ dalam yang menyebabkan kaki Baasyir membengkak.

Ketua Pembina Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendradatta, mengatakan Baasyir akan menjalani serangkaian pemeriksaan. "Ini sudah berangkat dari (Lapas) Gunung Sindur karena kaki Pak Kiai alami pembengkakan dan sudah cukup lama bengkaknya," kata Mahendradatta seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (29/1).

Ia mengatakan, usia Baasyir sudah lanjut sehingga kondisi kesehatannya semakin menurun. Pemeriksaaan tersebut diperlukan untuk mengetahui pemicu pembengkakan kaki Baasyir.

Hingga kini belum ada perkembangan terbaru terkait rencana pembebasan Baasyir. Seperti diketahui, rencana pembebasan Baasyir mengemuka ketika pengacara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra, bertemu dengan Baasyir di LP Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia mengatakan, ada pertimbangan Baasyir akan dibebaskan demi kemanusiaan karena usianya yang sudah tua dan kondisi kesehatan yang menurun.

Advertisement

Namun, rencana ini masih terkendala oleh persyaratan yang belum dipenuhi oleh Baasyir. Presiden RI Joko Widodo mengatakan, pemerintah akan menaati hukum dan peraturan yang berlaku terkait rencana pembebasan bersyarat Baasyir. Salah satu persyaratan mendasar dalam pembebasan bersyarat itu adalah ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

(Baca: Kuasa Hukum Baasyir Diminta Tak Berkelit Penuhi Syarat Pembebasan)

Mahendradatta mengatakan, soal setia pada Pancasila dan NKRI, Baasyir beralasan belum ada argumentasi yang memuaskan mantan pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki tersebut. Yusril sempat membujuk Baasyir dengan mengatakan Islam dan Pancasila tidak bertentangan. Namun, Baasyir tetap berkukuh dengan pendapatnya.

Sedangkan untuk poin penyesalan, Baasyir tidak mau mengakuinya. "Biarpun beliau dipenjara, namun tidak mau mengakui pidana," kata Mahendradatta saat konferensi pers di Jakarta, Senin (21/1).

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Polisi Suhardi Alius menyatakan, Ba'asyir enggan menandatangani surat pernyataan setia pada NKRI dan ikut menjalani program deradikalisasi.

Meski demikian, BNPT terus berupaya menjalankan program deradikalisasi tersebut kepada Baasyir dengan membawa ulama yang dianggap memiliki ilmu agama lebih tinggi. Setidaknya agar paham radikal yang dimiliki Baasyir bisa tereduksi. "Jadi ini yang kami mainkan, mudah-mudahan ini menjadi treatment juga," kata Suhardi.

Lebih lanjut, upaya deradikalisasi juga dilakukan dengan memberikan pelayanan khusus bagi Baasyir. Ia mencontohkan pelayanan yang diberikan berupa pendampingan bagi Baasyir yang sudah berusia lanjut. Baasyir pun dimudahkan aksesnya untuk mendapatkan layanan kesehatan mengingat Baasyir kerap sakit selama menjalani masa hukuman di LP Gunung Sindur.

(Baca: BNPT Sebut Baasyir Tak Mau Ikut Program Deradikalisasi)

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait