Mobilitas Jakarta Meningkat seperti Sebelum PPKM, Kasus Covid-19 Naik

Mobilitas warga Jakarta di tempat kerja sudah mendekati ke periode pertengahan Juni saaat Indonesia belum memasuki gelombang II Covid-19.
Image title
23 September 2021, 10:54
Covid-19, Jakarta, mobilitas
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Suasana kemacetan saat jam pulang kerja pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (21/9/2021). Pemerintah memperpanjang PPKM level 3 di Jawa dan Bali hingga 4 Oktober dengan beberapa penyesuaian aturan salah satunya perkantoran non esensial dapat melakukan kegiatan bekerja di kantor dengan kapasitas 25 persen. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Mobilitas warga yang tinggal di wilayah DKI Jakarta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan mobilitas terutama terjadi di tempat kerja. Peningkatan mobilitas ini  dibayang-bayangi dengan naiknya kasus Covid-19 di Jakarta dalam dua hari terakhir.

Berdasarkan data  Google Mobility Report pada 18 September, mobiltas warga Jakarta sudah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan awal Juli saat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.  Mobilitas di tempat kerja bahkan sudah mendekati ke periode pertengahan Juni saaat Indonesia belum memasuki gelombang II.

Berdasarkan data Google Mobility Report terbaru, mobilitas di tempat kerja berada di level -18% dari dasar pengukuran.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pada awal Juli hingga pertengahan Agustus yang berada di kisaran -50% bahkan mendekati -60%. Di mana pada saat itu, Indonesia memberlakukan PPKM Darurat yang kemudian berganti menjadi PPKM Level 4.

Tidak hanya memberlakukan kebijakan work from home 100% bagi pekerja non-esensial dan kritikal,  pemerintah juga menyekat perbatasan, termasuk ke wilayah ibu kota. 
Mobilitas di tempat kerja pada 18 September mendekati periode pertengahan Juni yakni -18%. 

Seperti diketahui,  data Google Mobility Report menunjukkan perubahan kunjungan ke berbagai tempat, seperti toko bahan makanan dan taman, di setiap wilayah geografis.

Dasar pengukuran yang dilakukan Google untuk menentukan naik turunnya mobilitas adalah data nilai median periode 3 Januari - 6 Februari 2020 atau sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia.

 Selain di tempat kerja, mobilitas warga DKI Jakarta juga mengalami peningkatan di pusat transportasi umum. Data terbaru menunjukan mobilitas di pusat transportasi umum adalah -32% dibandingkan dasar pengukuran.

Pada awal Juli hingga pertengahan Agustus, mobilitas di pusat transportasi umum berada di level -40-(-60%). 

Mobilitas warga DKI Jakarta ke tempat kerja juga terekam dari jumlah penumpang moda mass rapid transit (MRT). Moda transportasi yang menghubungkan Bundaran Hotel Indonesia-Lebak Bulus di Jakarta itu mengangkut penumpang sebanyak 107.568 orang pada periode 15-21 September.

Artinya, dalam sepakan, rata-rata penumpang yang menggunakan MRT mencapai 15.367. Jumlah rata-rata penumpang MRT pada sepekan terakhir, naik drastis dibandingkan pada periode 30 Agustus-5 September yakni 11.599 atau periode 6-12 September yakni 12.386.

Kenaikan penumpang MRT merupakan salah satu indikasi naiknya mobilitas masyarakat ke tempat kerja mengingat moda tersebut menghubungkan simpul-simpul perkantoran di DKI Jakarta

Jumlah penumpang MRT pada periode 14-21 September mencapai puncaknya pada Jumat (17/9) yakni 17.314 penumpang. Bandingkan pada periode awal hingga Juli, di mana MRT hanya melayani 4.450 penumpang per hari.

Sementara itu, mobilitas warga di tempat retail dan rekreasi berada di level -20% dibandingkan dasar pengukuran, meningkat dibandingkan awal Juli hingga pertengahan Agustus yang berada di -30%- (-45%).

Mobilitas masyarakat ke toko bahan makanan dan apotek sudah berada di angka +6% dibandingkan dasar pengukuran. Pada awal PPKM Darurat, Juli lalu, angka tersebut berada di kisaran -5%.

Sementara itu, mobilutas warga DKI di taman masih berada di -37% dibandigkan dasar pengukuran. Pada awal Juli hingga pertengahan Agustus,angka tersebut bergerak di level mendekati -60%. Keputusan pemerintah membuka tempat wisata serta sarana olah raga outdoor turut mendukung kenaikan mobilitas di area tersebut.

Sebaliknya, mobilitas di area pemukiman kini berada di level +6%, jauh lebih rendah dibandingkan pada periode awal Juli hingga pertengahan Agustus yang berada di kisaran +20%.

Kasus Covid-19 di Jakarta Naik

Jakarta melaporkan adanya tambahan kasus sebanyak 227 pada Rabu (22/9), naik 114% dibandingkan Selasa (21/9). Ini adalah kali pertama ibu kota Indonesia itu melaporkan jumlah kasus di atas 200, sejak 18 September.

Pada 19 September, Jakarta melaporkan kasus sebanyak 155, angka itu turun menjadi 91 kasus pada 20 September.  Namun, pada Selasa (21/9), Jakarta mencatat tambahan kasus harian sebanyak 106 kemudian melonjak menjadi 227 pada Rabu (22/9).

Peningkatan kasus di Jakarta ini tentu saja menjadi kabar buruk di tengah perbaikan data kasus Covid-19 di Indonesia. Peningkatan ini juga bisa menjadi kekhawatiran mengingat sejumlah pelonggaran baru saja di berikan kepada Jakarta, seperti pembelajaran tatap muka, pembukaan bioskop, hingga diperbolehkannya anak usia di bawah 12 tahun masuk mal.

DKI Jakarta sudah mengizinkan 610 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan untuk mengadakan pembelajaran tatap muka sejak 31 Agustus.

Jakarta juga sudah membuka kunjungan mal sejak pertengahan Agustus. Bioskop sudah dibuka kembali sejak pekan lalu dan terakhir anak usia di bawah 12 tahun sudah diizinkan masuk mal pada pekan ini.

DKI Jakarta menjadi pusat pandemi Covid-19 pada awal penyebaran virus tersebut.  Sejak pandemi, Jakarta sudah melaporkan adanya kasus sebanyak 856.585, tertinggi di Indonesia.

Kasus tertinggi dilaporkan pada 12 Juli yakni 14.622 kasus. Namun, kasus di DKI terus turun. Sejak 2 September, DKI tidak pernah mencatatkan kasus di atas 500 per hari.

Penasihat Senior Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO Diah Saminarsih mengingatkan bukan berarti Indonesia telah keluar dari bahaya Covid-19. Mesekipun jumlah kasus positif menurun, angka kematian akibat Covid-19 terus bertambah.

"Artinya sama sekali belum keluar dari bahaya dan belum selesai," kata Diah dalam sebuah webinar, Rabu (22/9).
Dia mengingatkan potensi terjadinya gelombang ketiga virus corona. Apalagi, negara tetangga Indonesia sedang mengalami lonjakan kasus corona. Dia menyarankan penurunan kasus penularan dapat dimanfaatkan untuk membenahi vaksinasi masyarakat.

Vaksinasi perlu diutamakan kepada kelompok prioritas, yaitu lansia dan petugas kesehatan (nakes). "Kalau lansia dan nakes belum semua, maka yang tersisa membutuhkan upaya khusus," ujarnya.


News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait