Akuisisi Lazada, Alibaba Jadi Raja E-Commerce di Asia Tenggara

Nilai akuisisi seluruh saham Lazada berpotensi membengkak menjadi US$ 1,5 miliar atau hampir Rp 20 triliun dalam 12-18 bulan ke depan.
Maria Yuniar Ardhiati
12 April 2016, 19:28
Lazada e-commerce
Arief Kamaludin|KATADATA

Alibaba Group Holding Limited telah meneken kesepakatan pembelian saham Lazada Group S.A. dari tangan pemegang saham pengendalinya, Rocket Internet SE, senilai US$ 500 juta, pada Selasa (12/4). Selain itu, raksasa lapak online atau electronic commerce (e-commerce) asal Cina ini membeli sisa saham Lazada dari pemegang saham lainnya, sehingga total nilai transaksi akuisisi tersebut US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,2 triliun.  

Perincian transaksi akuisisi itu, seperti dilansir Bloomberg, adalah Alibaba membeli saham baru Lazada senilai US$ 500 juta dan 9,1 persen saham milik Rocket sebesar US$ 137 juta. Selain itu, membeli saham Lazada dari para pemegang saham lain, yaitu jaringan supermarket asal Inggris, Tesco Plc, dan Investment AB Kinnevik, senilai total US$ 1 miliar.

Pasca transaksi itu, Rocket masih memiliki 8,8 persen saham di Lazada, Tesco sebesar 8,3 persen, dan Kinnevik 3,6 persen. Alibaba juga mengantongi hak untuk membeli sisa saham Lazada itu sesuai dengan harga pasar dalam kurun 12-18 bulan pasca transaksi akuisisi ini. Alhasil, potensi nilai akuisisi Alibaba atas semua saham Lazada bisa mencapai US$ 1,5 miliar, sesuai nilai wajarnya yang sebelumnya dihitung oleh Rocket. 

(Grafik: 5 E-Commerce Terpopuler Indonesia)

Bloomberg mencatat, transaksi tersebut merupakan aksi akuisisi terbesar Alibaba di luar Cina. Sebelumnya, pada tahun lalu, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma ini mengakuisisi perusahaan layanan video asal Cina, Youku Tudou Inc., senilai US$ 5 miliar. "Alibaba menilai globalisasi sebagai bagian dari strategi penting untuk pertumbuhan saat ini dan di masa mendatang," kata Presiden Alibaba, Michael Evans, seperti dilansir Business Wire.

Dengan mengakuisisi Lazada, Alibaba memperoleh akses menuju konsumen yang besar dan tumbuh di luar Cina. Langkah ekspansi ini juga sejalan dengan strategi Alibaba menghubungkan merek-merek dagang, distributor serta konsumen sekaligus mendukung ekspansi di Asia Tenggara.

Lazada didirikan oleh Rocket tahun 2012, yang hingga kini telah menjaring pendanaan sekitar US$ 700 juta dari sejumlah investor, seperti Kinnevik, Temasek, Tengelmann Ventures & Verlinvest, dan Summit Partners. Dalam waktu singkat, Lazada menjelma menjadi lapak online terbesar di kawasan Asia Tenggara, yang menjajakan berbagai barang kebutuhan masyarakat. Kini, Lazada yang juga punya merek dagang Zalora, beroperasi di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, dengan total penduduk mencapai 560 juta orang. Di Indonesia, Lazada bersaing dengan Tokopedia dan MatahariMall.

Pada semester I-2015, penjualan kotor Lazada mencapai US$ 433 juta, melonjak empat kali lipat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pencapain itu ditopang oleh jumlah pembeli aktif online yang sebanyak 5,7 juta, naik empat kali lipat dari semester I-2014. Alhasil, pendapatan bersih Lazada pada paruh pertama tahun lalu mencapai US$ 121,1 juta, naik dua kali lipat dalam 12 bulan sebelumnya.

CEO Lazada Group Max Bittner menyambut baik masuknya Alibaba ke perusahaan tersebut. Ia berharap, kehadiran Alibaba bisa mendorong berbagai manfaat bagi para pelanggan di Asia Tenggara. Akuisisi tersebut juga membantu Lazada mencapai target penyediaan beragam produk kepada 560 juta konsumen di kawasan ini. Selain itu, teknologi Alibaba memungkinkan Lazada meningkatkan pelayanan secara cepat dan melahirkan pengalaman belanja dan berjualan yang lebih mudah bagi konsumen.

(Baca: Pemerintah Siapkan 30 Insentif Bagi Pelaku E-commerce)

Li Yujie, analis RHB Research Institute Sdn di Hong Kong, menilai aksi Alibaba mengakuisisi Lazada merupakan langkah yang tepat ketimbang membangun bisnisnya sendiri dari awal di Asia Tenggara. Sebab, bisnis e-commerce di kawasan ini membutuhkan dana investasi besar untuk membangun jaringan logistik. "Alibaba akan lebih lama membangun bisnis dari bawah ke atas," katanya.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait