Pemerintah Jajakan Tiga Sektor Bisnis ke Investor Eropa

“Kami menempatkan prioritas pada (sektor) pertanian, manufaktur dan pariwisata,” kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.
Desy Setyowati
2 Februari 2017, 18:24
Pantai wisata
Agung Samosir (Katadata)

Pemerintah tengah berupaya menggaet lebih banyak dana investasi dari pemodal asal Eropa. Ada tiga sektor peluang investasi yang ditawarkan dan diklaim bakal tetap menguntungkan di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik dunia. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro menyebutkan, tiga sektor yang dimaksud yaitu pertanian, manufaktur, dan pariwisata. “Kami menempatkan prioritas pada (sektor) pertanian, manufaktur dan pariwisata. Kami ingin memastikan jika Anda ingin kesempatan di Indonesia silahkan lihat di tiga sektor,” katanya kepada investor Uni Eropa yang menghadiri acara Eurocham Investment Outlook 2017 di Jakarta, Kamis (2/2).

Ia mengatakan, pemerintah optimistis sektor pertanian bakal tumbuh 3,4-3,7 persen tahun ini. Adapun peluang bisnis di industri perikanan masih terbuka lebar.

Potensi besar juga dimiliki sektor pariwisata. Apalagi, tahun ini, pemerintah fokus mengembangkan 10 tujuan wisata terintegrasi dengan membangun infrastruktur pendukungnya. (Baca juga: Dukung Pemerintah Genjot Pariwisata, Pelni Siapkan Kapal Pesiar)

Bambang mengklaim, pariwisata Indonesia banyak dilirik wisatawan Eropa, utamanya asal Perancis, Spanyol, dan Italia. Tahun lalu saja, Indonesia kedatangan 80 juta wisawatan asal Perancis dan 60 juta wisatawan Italia. (Baca juga: Indonesia Kedatangan 10,41 juta Turis Asing, Terbanyak dari Cina)

Di sisi lain, pemerintah terus berkomitmen memperbaiki kemudahan berbisnis (Ease of Doing Bussines/EODB) agar investor tak kesulitan dalam menjalankan bisnisnya. Komitmen itu terbukti dari kenaikan peringkat kemudahan berbisnis Indonesia sebanyak 15 poin ke posisi 91 dunia.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, selama ini investor Uni Eropa menaruh minat pada industri manufaktur seperti alas kaki dan garmen. Selain itu, industri ritel dan jasa. Namun, investor-investor tersebut kerap mengeluhkan soal kualitas tenaga kerja Indonesia.

“Kemampuan SDM ini memang memprihatinkan. Tetapi sekarang, kami melakukan reformasi dari dalam negeri dengan melakukan pelatihan vokasional atau kejuruan, untuk mengatasi persoalan the bottle necking tersebut,” ujar Lembong.

Sejalan dengan Bambang, Lembong juga menjajakan peluang investasi di sektor pariwisata kepada investor Uni Eropa. Ia mengajak investor asal Eropa untuk berinvestasi di sektor ini sebab kunjungan wisatawan asal Eropa ke Indonesia diyakininya bakal meningkat.

“Kalau mau buat resort yang cocok untuk orang Eropa, yaa harus datangkan ahli dan investor dari Eropa. Begitu juga kuliner ataupun produk jasa lainnya,” tutur Lembong. (Baca juga: BKPM: Trump dan Pilkada Jakarta Bisa Jadi Kendala Investasi 2017)

Lebih jauh, Lembong menyebut penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah juga bisa menjadi kesempatan bagi pengembangan bisnis pariwisata di Indonesia. Ia pun mencontohkan kejadian ketika yen Jepang dan won Korea menguat terhadap rupiah. “Wisatawan Jepang dan Korea Selatan (Korsel) datang ke Bali bukan ke Hawai,” kata dia. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait