Konsensus Ekonom: Inflasi April Makin Rendah Dipicu Masa Panen

Pemerintah diperkirakan tetap mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sehingga inflasi administered price stabil.
Rizky Alika
2 Mei 2018, 11:30
Petani
ANTARA FOTO/Rahmad
Petani memanen butiran padi (gabah) di Desa Kandang, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/3).

Sejumlah ekonom memprediksi inflasi April akan lebih rendah dibandingkan Maret 2018. Seluruh komponen diperkirakan berkontribusi pada inflasi. Untuk laju harga bergejolak atau volatile food, kemungkinan cenderung stabil seiring turunnya beberapa harga komoditas pangan memasuki masa panen raya seperti beras, cabe merah keriting, dan cabe rawit merah. 

Ekonom Permata Bank Josua Pardede menghitung inflasi bulan lalu 0,13 persen secara bulanan atau 3,45 persen secara tahunan (yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Maret yang mencapai 0,2 persen secara bulanan dan 3,4 persen yoy. “Meskipun lebih tinggi dari rata-rata inflasi bulan sepanjang 2013-2017 yakni 0,006 persen,” kata Josua kepada Katadata.co.id, Rabu (2/5).

Menurut Josua, beberapa komoditas pangan yang cenderung naik antara lain bawang merah, bawang putih, daging ayam, dan cabai merah besar. Di sisi lain, inflasi harga diatur pemerintah (administered price) didorong oleh dampak parsial dari kenaikan harga Pertalite dan Solar nonsubsidi Rp 200 per liter yang mencapai 2,5 persen. 

Untuk inflasi inti, Josua memperkirakan naik menjadi 2,72 persen secara tahunan dari bulan sebelumnya 2,67 persen. Kali ini, pemicunya didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang April sebesar 0,3 persen. (Baca: Rupiah Diprediksi Masih Lemah hingga Pengumuman Data Ekonomi).

Adapun puncak inflasi diperkirakan terjadi pada Mei-Juni yang berpotensi mendorong kenaikan permintaan. Walau demikian, pemerintah diperkirakan tetap mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sehingga inflasi administered price stabil.

Advertisement

Sedangkan inflasi inti pada tahun ini diprediksi terkendali yang dipengaruhi ekspektasi terjangkarnya inflasi oleh tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia. Secara keseluhan, Josua meramal inflasi akhir 2018 akan terkendali di level 2,5 – 4,5 persen.



Sementara itu, ekonom Bank Mandiri Andy Asmoro memperkirakan inflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan. “Secara tahunan, asumsi kami masih 3,61 persen,” kata Andy. (Baca: Bawang hingga Ayam Pengaruhi Inflasi Pekan Ketiga April 0,12 %).

Inflasi April yang rendah diperkirakan karena adanya musim panen yang mendorong harga turun. Untuk menjaga risiko inflasi menjelang bulan Ramadhan, Andry mengatakan pemerintah perlu memastikan pasokan atau distribusi makanan agar tidak terganggu di tengah intensitas mudik maupun liburan.

Mengacu pada data Bloomberg, ekonom Bank Central Asia David Sumual memperkirakan inflasi April sebesar 0,17 persen. Sementara ekonom Bank Danamon  Wisnu Wardana 0,10 persen, ekonom Bank Tabungan Negara Winang Budoyo 0,18 persen, ekonom Danareksa Research Institute Damhuri Nasution 0,10 persen, dan ekonom Goldman Sachs Singapore Reza Siregar 0,60 persen.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait