Istana Digeruduk Demonstran, Jokowi Bagikan BLT di Kalimantan

Bantuan sebesar Rp 2,4 juta bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) itu merupakan bagian dari program pemulihan ekonomi nasional.
Image title
8 Oktober 2020, 16:54
Pekerja menyusun paket sembako bantuan dari Presiden Joko Widodo di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (8/5/2020). Sebanyak 10 ribu paket bantuan itu dibagikan kepada warga kurang mampu guna mengurangi beban ekonomi mereka di tengah wabah COVID-19.
ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/pras.
Pekerja menyusun paket sembako bantuan dari Presiden Joko Widodo di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (8/5/2020). Sebanyak 10 ribu paket bantuan itu dibagikan kepada warga kurang mampu guna mengurangi beban ekonomi mereka di tengah wabah COVID-19.

Massa dari elemen buruh dan mahasiswa menggelar unjuk rasa untuk menolak UU Cipta Kerja. Karena sekeliling Istana Kepresidenan diblokade polisi, kericuhan sempat terjadi di kawasan Harmoni, Jakarta.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo tidak sedang berada di Istana. Setelah pagi tadi meninjau kawasan lumbung pangan atau food estate, ia kemudian membagikan bantuan presiden produktif atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). "Bantuan yang diberikan Rp 2,4 juta. Ini bisa memperbanyak dagangan atau produk yang Bapak/Ibu jual sehingga bisa menaikkan omzet kembali," kata Jokowi di Gedung Pertemuan Umum Handep Hapakat, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dikutip dari siaran pers, Kamis (8/10).

Menurutnya, pandemi virus corona telah membuat perekonomian pengusaha dihadapi tantangan. Hal ini berlaku bagi seluruh pengusaha, baik pengusaha besar, menengah, dan kecil.

Advertisement

Jokowi pun meminta, para pengusaha mikro tetap bertahan di tengah pandemi hingga vaksin covid-19 didistribusikan ke masyarakat. "Semua semangat kerja. Jangan sampai kendor. Jangan sampai usaha tutup," ujar dia.

Mantan Walikota Solo itu berharap, bantuan tersebut dapat membantu pengusaha bertahan di tengah pandemi. Ia juga berpesan kepada pengusaha, masih ada peluang di tengah pandemi.

Sebagai contoh, pengusaha UMKM dapat mengalihkan produk penjualannya menjadi masker. "Kalau bisa, produksi barang yang banyak dicari," kata Jokowi.

Gelombang Demo Buruh Tolak RUU Cipta Kerja
Gelombang Demo Buruh Tolak RUU Cipta Kerja (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/hp.)

 

Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law

Sebagaimana diketahui, kunjungan kerja tersebut dilakukan saat mahasiswa menuntut cabut omnibus law. Dikutip dari akun Instagram Aliansi BEM Seluruh Indonesia, mahasiswa melakukan aksi ke Istana Negara, Jakarta sejak pukul 10.00 WIB. 

Selain itu, aksi mogok nasional juga dilakukan oleh serikat pekerja selama tiga hari, yaitu pada Selasa (6/10) hingga Kamis (8/10). Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyampaikan bahwa pihaknya bersama 32 federasi dan konfederasi serikat pekerja yang lain masih melanjutkan mogok nasional pada hari ini. 

Aksi ini dilakukan untuk mendesak agar pemerintah mencabut UU Cipta Kerja yang beberapa waktu lalu sudah disahkan. Seperti diketahui, KSPI mempermasalahkan pembahasan omnibus law yang terburu-buru  dan dinilai seperti "kejar tayang".

Di samping itu, ada berbagai permasalahan mendasar yang dinilai merugikan hak buruh dan berdampak pada kepastian kerja, kepastian pendapatan, dan jaminan sosial. 

Berdasarkan catatan KSPI, aksi pada Rabu (7/10) semakin membesar dengan jumlah elemen yang ikut turun ke jalan makin bertambah. Beberapa daerah yang melakukan pergerakan besar, antara lain terjadi di Tangerang, Jakarta, Bogor, Karawang, Bekasi, Purwakarta, Bandung, Subang, Lampung, Gresik, Surabaya, Batam, sebagainya.

"Tanggal 8 Oktober 2020 adalah hari terakhir mogok nasional KSPI dan KSPSI AGN serta 32 federasi serikat pekerja, sesuai hasil kesepakatan dan instruksi organisasi yang sudah diedarkan beberapa waktu lalu," kata Said Iqbal.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait