Dua Rencana Unjuk Rasa Ojek Online Tuntut Kenaikan Tarif

Ada dua kelompok yang merencanakan unjuk rasa, salah satunya bakal digelar saat pembukaan Asian Games 2018.
Desy Setyowati
23 Juli 2018, 18:33
demonstrasi ojek online
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah pengemudi ojek berdemo di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/3/2018)

Pengemudi ojek online berencana menggelar unjuk rasa dalam dua sesi; yang pertama pada 29 Juli 2018 dan yang kedua pada 18 Agustus 2018, saat pembukaan Asian Games 2018. Kedua aksi unjuk rasa tersebut dilakukan oleh kelompok berbeda yakni Suara Kami dan Garda.

Kelompok Suara Kami yang merupakan kumpulan pengemudi taksi dan ojek online semula akan menggelar unjuk rasa pada hari ini (23/7). Namun, rencana itu terpaksa ditunda hingga Ahad, 29 Juli 2018 karena kurang persiapan.

"Karena waktu yang singkat, beberapa hal penting dalam aksi tidak selesai tepat waktu," ujar Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Christiansen FW kepada Katadata, Senin (23/7). ADO merupakan bagian dari organisasi Suara Kami.

Adapun tuntutan yang hendak disampaikan adalah tarif yang layak dan kesejahteraan bagi pengemudi taksi dan ojek online.

Advertisement

Demonstrasi oleh Suara Kami bakal digelar di Kantor Pusat Grab di Gedung Lippo, Kuningan, dan Kantor Pusat Gojek di Pasaraya Blok M. Selain itu, mereka juga akan berunjuk rasa di depan Istana Negara.

(Baca juga: Usul Kemenhub Agar Pengemudi Ojek Online Tak Demo Saat Asian Games)

Sementara kelompok Garda berencana menggelar unjuk rasa pada pembukaan Asian Games 2018, 18 Agustus mendatang. Unjuk rasa rencananya bakal digelar di kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, dan Jakabaring, Palembang.

Sama seperti Suara Kami, pengemudi ojek online yang tergabung dalam Garda juga menuntut kenaikan tarif. Selain itu, mereka juga menuntut pengakuan pemerintah dan payung hukum untuk keberadaan ojek online.

Sementara, seorang pengemudi Go-Jek, Yopi menyatakan bahwa sebagian mitra pengemudi tetap berunjuk rasa di depan Kantor Go-Jek hari ini untuk menuntut kenaikan tariff. Yopi sendiri mengaku bergabung dengan Go-Jek sejak 2015 lalu.

Saat itu, menurut Yopi, tarif Go-Jek sebesar Rp 4 ribu per kilometer (km). Namun, kini tarifnya hanya Rp 1.500 per km. Sementara pengemudi Go-Jek lainnya yakni Ridwan mengaku tidak mengetahui adanya rencana demonstrasi. Meski, ia juga mengeluhkan tarif Go-Jek yang rendah. "Saya setuju kalau aksinya menuntut tarif. Karena dari terakhir (kali) unjuk rasa, tarif malah turun," kata dia.

(Baca juga: Diancam Demo Saat Asian Games, Grab Tetap Tolak Naikkan Tarif)

Di pihak lain, Triono yang merupakan mitra pengemudi Grab juga mengakui penurunan tarif dari Rp 3 ribu per km menjadi Rp 1.200 per km saat ini. Meski, ia menyadari tuntutan kenaikan tarif itu akan terwujud. "Tapi kami itu kan mitra, sulit kalau menuntut tarif naik," ujarnya.

Toh, dengan tarif yang sekarang ini ia masih bisa menutup pengeluaran. Bila bekerja dari pagi hingga sore, ia bisa mendapat Rp 200 ribu per hari. Sementara pengeluaran untuk bensin hanya Rp 50 ribu.

Toh ia menolak rencana unjuk rasa yang akan dilakukan pada saat Asian Games 2018. Sebab, menurutnya tuntutan mengenai tarif semestinya diajukan kepada aplikator, sementara gelaran Asian Games melibatkan banyak pihak. "Jadi jangan saat Asian Games 2018," kata dia.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait