Kecewa Tarif Tak Naik, Sebagian Pengemudi Grab Ancam Pindah ke Go-Jek

Beberapa pengemudi ojek online juga merencanakan unjuk rasa susulan karena aplikator enggan menaikkan tarif.
Desy Setyowati
9 April 2018, 19:40
Grab Taksi
Arief Kamaludin|KATADATA

Pengemudi GrabBike mengaku kecewa karena manajemen perusahaannya enggan menaikkan tarif. Sebagian bahkan mengancam akan pindah ke aplikator pesaing, yakni Go-Jek.

Bachrul Lesmono, misalnya, menyatakan pendapatannya turun sekitar 50% dibandingkan saat awal bergabung dengan Grab, 1,5 tahun lalu. Penyebabnya, jumlah pengemudi ojek online terus meningkat, sementara insentif dari perusahaan justru semakin sulit didapat.

Bachrul yang pernah bekerja di percetakan itu kini memperoleh Rp 100-200 ribu per hari, sebelum dipotong 20% dari perusahaan dan biaya bahan bakar. Ia pun berniat bergabung dengan Go-Jek. "Semenjak Maret 2017, pendapatan berasa sekali turunnya," kata Bahrul kepada Katadata dalam perjalanan di Jakarta, Senin (9/4).

Pengemudi Grab lainnya, Nuzul Ramadhan, bahkan sudah pernah mendaftar pada Go-Jek. Hanya, ia gagal karena pendaftaran yang dibuka beberapa hari lalu itu dikhususkan untuk mantan pengemudi Uber. "Katanya nanti mau buka (pendaftaran) untuk umum. Saya mau coba lagi," ujarnya.

(Baca juga:  Grab Tolak Tuntutan Pengemudi untuk Naikkan Tarif)

Nuzul mendapat informasi, insentif pengemudi Go-Jek bisa mencapai Rp 200 ribu per hari. Sementara di Grab, mitra pengemudi hanya mendapat insentif sebesar Rp 70 ribu setelah menjalankan order senilai Rp 150 ribu per hari. Target ini sulit dicapainya karena Grab masih sering menerapkan tarif promo.

"Soalnya berdasarkan tarif, sementara tarifnya turun terus. Jam sibuk malah lebih murah dibanding non sibuk," tuturnya.

Advertisement

Keluhan serupa disampaikan oleh Yasir Arafat yang mengaku pendapatannya tak sampai Rp 100 ribu per hari. Belum lagi, adanya potongan 20% untuk setiap transaksi membuatnya seringkali gagal mencapai capai target untuk dapat insentif. Namun, berbeda dengan dua rekannya, ia tak berencana pindah ke Go-Jek. "(Go-Jek) Tarifnya mahal, nanti sepi penumpang. Sama saja," ujarnya.

Sementara Julian Andreas, pengemudi Grab lain, menyatakan bisa mendapat penghasilan antara Rp 250-300 ribu, termasuk insentif Rp 70 ribu per hari. Meski diakuinya untuk mencapai jumlah itu, ia harus bekerja keras. “Tergantung diri sendiri mengatur uang dan rajin cari orderan," tuturnya.

(Baca juga:  Grab dan Go-Jek Kini Berebut Mantan Pengemudi Uber)

Menurutnya, beberapa pengemudi ojek online bakal menggelar unjuk rasa susulan untuk menuntut kenaikan tarif di Gedung MPR DPR, besok (10/4). Namun, belum diketahui jumlah pengemudi yang bakal ikut berunjuk rasa.

Sebelumnya, Country Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan, perusahannya tidak akan memenuhi tuntutan mitra pengemudinya untuk menaikan tarif. Sebab, ia khawatir kenaikan tarif malah akan menurunkan jumlah penumpang, sehingga mengurangi pendapatan pengemudi.

"Ada persepsi yang salah yang jadi fokus protes (pengemudi) ini adalah kenaikan tarif. Semestinya yang jadi fokus adalah kenaikan pendapatan," katanya.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait