KPK Akan Lanjutkan Penyelidikan Kasus Dugaan Korupsi LNG Pertamina

Kejaksaan Agung dan KPK telah melakukan penyelidikan kasus LNG Pertamina ini secara simultan sejak 2019. Kini kewenangan itu sepenuhnya di tangan KPK.
Image title
5 Oktober 2021, 16:19
Pertamina
Katadata

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan sudah membidik kasus dugaan korupsi LNG Pertamina sejak 2019 dan akan segera menindaklanjuti kasus tersebut.

Ketua KPK Firli Bahu mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan Kejaksaan Agung yang melimpahkan perkara tersebut kepada KPK. Menurutnya, saat mulai menyidik kasus tersebut pada 2019, KPK sudah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan yang rupanya juga menaruh perhatian dalam kasus tersebut.

“Selanjutnya Plt Deputi Korsup dan Deputi penindakan KPK yang menindaklanjuti," ucap Firli, Selasa (5/10).

Sebelumnya, Kejaksaan Agung memilih untuk melimpahkan penyelidikan kasus dugaan korupsi LNG Pertamina ke KPK. Alasannya, lembaga anti-rasuah itu juga sedang menyelidiki kasus yang sama. Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung) Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan Jampidsus telah menyelesaikan penyelidikan sehingga sudah bisa masuk ke tahap penyidikan.

“Agar penanganan perkara ini tidak tumpang tindih,” ujarnya, Senin (4/10).

Sementara itu, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) meminta KPK segera menuntaskan kasus dugaan indikasi fraud dan penyalahgunaan kewenangan dalam kebijakan pengelolaan LNG Portofolio di PT Pertamina (Persero). Ia bahkan memberi tenggat waktu hingga satu bulan untuk menetapkan tersangka.

“Bulan November atau maksimal Desember akan saya gugat praperadilan," kata Boyamin, dikutip dari Antara, Selasa (5/10).

Boyamin menegaskan KPK harus mengungkap baik aspek kerugian negara oleh pihak internal dan dan eksternal Pertamina. Ia juga menyebut KPK harus menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang untuk mengembalikan kerugian negara yang ditaksir Rp 2,2 triliun.

Kasus ini bermula ketika Pertamina menandatangani perjanjian jual beli LNG dengan Anadarko Petroleum Corporation pada Februari 2019. Isinya berupa komitmen Pertamina mengimpor 1 juta metrik ton per tahun (MTPA) dari Mozambique LNG1 Company Pte Ltd selama 20 tahun. Anak usaha Anadarko ini memiliki lapangan gas raksasa di lepas pantai Blok Mozambique Area 1.

Pertamina beralasan membeli gas tersebut untuk kebutuhan domestik. Termasuk di dalamnya bahan bakar pembangkit listrik dan proyek pengembangan atau RDMP Kilang Cilacap. Selain itu, perusahaan membeli LNG dari Mozambique karena harganya yang murah. Namun, proyeksi Pertamina meleset. Pasokan LNG dalam negeri saat ini justru berlebih. Pandemi Covid-19 juga membuat harga komoditas ini anjlok cukup signifikan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait