Total E&P Kembalikan 8 Blok Migas Kepada Pemerintah

Dikembalikan pada umumnya karena setelah dibor sumur eksplorasi tidak ditemukan kandungan hidrokarbon dalam jumlah yang ekonomis
Safrezi Fitra
21 September 2015, 17:06
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Perusahan minyak dn gas bumi (migas) asal Perancis, Total E&P Indonesie akan mengembalikan delapan blok migas yang dikelolanya kepada Pemerintah. Alasannya delapan blok migas ini dinilai tidak menguntungkan.

Media Relations Department Head Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi mengatakan delapan blok migas tersebut adalah Southeast Mahakam, Kutai Timur, Kutai II (gas metana batubara /CBM), Sadang, Sageri, Amborip VI, Arafura Sea, dan Southwest Birdhead Papua. Delapan blok tersebut masih dalam tahap eksplorasi.

Empat blok migas yakni telah dikembalikan sebelumnya kepada pemerintah, yaitu Kutai Timur, Kutai II, Sadang, dan Sageri. Menyusul empat blok lagi yang sedang proses pengembaliannya, yakni Southeast Mahakam, Southwest Bird Head Papua, Amborip VI, dan Arafura Sea.

(Baca: Total Hentikan Eksplorasi Blok South Sageri)

Delapan blok tersebut statusnya masih tahap eksplorasi. Menurut Kristanto pihaknya tidak menemukan adanya kandungan hidro karbon yang besar pada blok-blok migas tersebut. Akan sia-sia, jika pengembangan eksplorasi terus dilakukan.

"Dikembalikan pada umumnya karena setelah dibor sumur eksplorasi, tidak ditemukan kandungan hidrokarbon dalam jumlah yang ekonomis," kata dia kepada Katadata, beberapa waktu lalu.

Dengan pengembalian delapan blok tersebut, Total hanya akan memiliki tujuh blok migas yang dikelolanya saat ini. Ketujuh blok migas tersebut adalah Blok Tengah, Blok Telen, south Mandar, South Sageri, Blok Sebuku, Blok Bengkulu I Mentawai dan Blok Mahakam. Blok Mahakam juga paska berakhir kontrak 2017 akan diserahkan ke PT Pertamina (Persero).

(Baca: Total E&P Cari Mitra Untuk Kelola Tiga Blok Migas

Harga Minyak yang rendah memang membuat beberapa kontraktor migas menghitung kembali portofolionya.  Ada beberapa kontraktor yang memilih hengkang seperti Murphy Oil.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait