Pengusaha Keluhkan Rendahnya Harga Jual Gas

Harga jual bahan bakar gas BBG saat ini Rp 3100 per liter sementara harga keekonomiannya mencapai Rp 4500
Safrezi Fitra
19 Maret 2015, 15:46
SPBG KATADATA | Agung Samosir
SPBG KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Pengusaha stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) mengeluhkan rendahnya harga jualbahan bakar gas. Hal ini dikhawatirkan dapat mengurangi minat investor membangun SPBG dan menghambat program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke BBG.

Presiden Direktur PT Gagas Energi Indonesia Danny Praditya mengatakan harga jual BBG ke konsumen di Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) sebesar Rp 3.100 per liter setara premium (lsp), masih belum ekonomis. Harga keekonomian BBG saat ini adalah sebesar Rp 4.500 per lsp.

"Harga gas saat ini memang belum pada harga keekonomian. Kalau belum mencapai harga keekonomian, maka swasta belum akan tertarik ikut membangun SPBG," kata dia di Jakarta, Kamis (19/3).

Atas dasar inilah pengusaha SPBG meminta pemerintah untuk mengevaluasi harga BBG, untuk menarik investor swasta masuk ke bisnis ini. Penyediaan SPBG untuk mendukung konversi BBM ke BBG tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

Advertisement

Keterlibatan swasta untuk membangun SPBG dibutuhkan, mengingat keterbatasan Pertamina dan PGN. Makanya pemerintah perlu segera memformulasikan harga jual BBG agar bisa member keuntungan bagi pihak swasta. Selain itu, untuk menarik pihak swasta ikut membangun SPBG pemerintah seharusnya bisa  memberikan alokasi gas yang sama dengan alokasi yang diberikan kepada perusahaan negara.

Tahun ini, Gagas Energy Indonesia sudah menganggarkan dana sebesar US$ 32 juta untuk pembangunan infrastruktur gas. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk membangun 15 SPBG di seluruh Indonesia.

Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmadja mengakui harga BBG masih terlalu murah. Ini membuat margin keuntungan yang didapat pelaku usaha berkurang. Namun, harga tersebut sengaja ditetapkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Menanggapi keluhan pengusaha, pemerintah sedang membahas kemungkinan pemberian insentif bagi pengusaha tersebut. "Ini masih kami diskusikan. Insentif seperti apa yang bisa kami berikan," ujar dia.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait