Harga minyak acuan dunia naik tipis di awal perdagangan pagi ini, Rabu (3/6), seiring meningkatnya pesimisme akan prospek kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Amerika Serikat (AS) mengeklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada akhir pekan kemarin, yang langsung dibalas Teheran dengan serangan ke pangkalan militer AS.
Eskalasi di Timur Tengah yang kembali terjadi mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran pasar hingga membuat tiga bursa utama Wall Street memerah.
Kurs rupiah mencapai level terlemahnya sepanjang masa di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah. Nilai tukarnya tembus Rp17.300 per dolar AS pagi ini, Kamis, 30 April, terendah sejak krisis 1998.
Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) Doug Burgum mengatakan sejumlah negara Asia ingin membeli lebih banyak pasokan energi dari Amerika Serikat (AS).
Dubes UEA temui Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno untuk memperkuat kerja sama bilateral, dengan fokus utama pada perluasan investasi di bidang energi terbarukan seperti PLTS Cirata.
Meski beras tidak terdampak perang di Timur Tengah, konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran ini tetap memiliki efek pada sejumlah sektor di Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia telah mengalihkan sumber impor LPG yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah ke sejumlah negara seperti AS dan Australia.
Pasokan bahan baku plastik yang berasal dari Timur Tengah dapat dikirim sekitar 10 hingga 15 hari. Namun kini, dengan peralihan sumber impor ke luar kawasan tersebut, durasi jadi lebih panjang.
Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan pada akhir kuartal I-2026, seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan bahan baku dan harga material.
Gejolak geopolitik di sekitar Selat Hormuz mengancam stabilitas energi global, yang berdampak pada komposisi dan keamanan pasokan minyak mentah serta olahan Indonesia.
Ancaman pasokan energi global tidak hanya muncul dari penutupan Selat Hormuz. Kerusakan di sejumlah aset energi vital di Timur Tengah berpotensi membatasi suplai global, termasuk Asia.
Polyester berasal dari rantai bahan baku petrokimia yang berhubungan langsung dengan minyak bumi, sehingga ketika harga minyak naik akibat konflik geopolitik, harga polyester juga ikut naik.