IMF memprediksi defisit anggaran APBN Indonesia akan melebar pada 2025 dan 2026, dengan rekomendasi untuk pengelolaan anggaran yang lebih cermat dan efisien.
Volatilitas pasar keuangan global juga masih menjadi momok. Dengan proyeksi volatilitas tinggi pada aliran modal asing, kita harus siap menghadapi ketidakpastian ekonomi.
DPR setujui penggunaan SAL untuk APBN 2024 atas permintaan Sri Mulyani, tindakan ini bertujuan mengurangi penerbitan utang dan menjaga stabilitas fiskal.
Menyikapi potensi defisit APBN yang meningkat, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperoleh persetujuan untuk menggunakan SAL sebesar Rp 85,6 triliun demi mengurangi ketergantungan pada surat utang.
Penerimaan negara 2025 diperkirakan hanya sebesar Rp 2.865,5 triliun, tidak mencapai target APBN, menyebabkan defisit diperkirakan mencapai Rp 662 triliun atau 2,78% dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan defisit APBN pada 2025 akan meningkat menjadi Rp 662 triliun, dengan penerimaan negara diperkirakan hanya mencapai 95,4% dari target awal.
Menteri Keruangan Sri Mulyani mengumumkan bahwa APBN 2025 mencatat surplus Rp 4,3 triliun di April, menunjukkan pemulihan setelah defisit di bulan-bulan sebelumnya.
Wamenkeu Anggito Abimanyu mengatakan pemerintah berkomtimen menjaga defisit APBN di level 2,5% meski ada program baru dan ambisius dari Presiden Prabowo Subianto.
Indonesia berencana tingkatkan impor dari AS sebagai tanggapan kebijakan tarif impor Presiden Trump untuk menyinkronkan neraca perdagangan dan defisit.