"Dalam progres sekarang sedang negosiasi harga gas, apa yang bisa diefisiensikan supaya hilir bisa menerima, hulu bisa ekonomis," kata Wiratmaja
Blok Cepu
Blok Cepu Katadata

Pemerintah berupaya untuk membuat harga gas pada proyek Jambaran Tiung Biru di Blok Cepu bisa ekonomis. Saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengevaluasi harga gas dari hulu hingga ke hilirnya.

Direktur Migas Kementerian ESDM I.G.N Wiratmaja Puja membenarkan perkembangan proyek Jambaran Tiung Biru masih dalam tahap negosiasi harga antara PT Pertamina (Persero) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) alias PLN. Dalam upaya negosiasi ini, pemerintah mencoba mengevaluasi agar harga gasnya  tetap bisa ekonomis, sehingga dapat diterima antar kedua belah pihak. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Dalam progres sekarang sedang negosiasi harga gas, apa yang bisa diefisiensikan supaya hilir bisa menerima, hulu bisa ekonomis," kata Wiratmaja di Jakarta, Kamis (13/7). 

(Baca: Tekan Biaya, SKK Migas Akan Periksa Proyek Jambaran Tiung Biru)

 Sementara Kepala Divisi Pengadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Gas Bumi PLN Chairani Rachmatullah mengatakan pihaknya akan mulai membicarakan mengenai proyek gas Jambaran Tiung Biru bersama Kementerian ESDM. Rencananya pembicaraan itu akan dilakukan dalam rapat hari ini, Jumat (14/7).

Namun, karena Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar masih berada di Balikpapan, Kalimantan Timur, rapat pun tertunda. "Penundaan rapat hari ini di ESDM karena Pak Wamen sibuk, geser ke minggu depan, pembahasan soal utilisasi Jambaran Tiung Biru," kata Chairani kepada Katadata.

Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Supangkat sebelumnya mengatakan harga yang diinginkan perusahaan listrik milik pemerintah itu yakni US$ 7 per mmbtu. Harga ini terhitung dari mulut sumur hingga pembangkit. Namun Pertamina menawarkan harga US$ 8 per mmbtu.

Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani pernah mengatakan harga jual gas dari proyek Tiung Biru masih mahal. Penyebabnya diduga karena biaya pengembangan proyek tersebut yang cukup tinggi. Makanya, harga gas yang dihasilkan dipatok tinggi, agar proyek tersebut bisa ekonomis.

Seharusnya, kata Fatar, harga gas dari Proyek Jambaran-Tiung Biru bisa turun menjadi US$ 7 per juta british thermal unit (mmbtu). Hal ini bisa terjadi jika biaya produksi bisa ditekan. Untuk itu perlu ada evaluasi mengenai biaya proyek. Saat ini SKK Migas sudah berencana untuk memeriksa proyek tersebut. 

Di sisi lain, Direktur Utama PEPC Adriansyah mengatakan dirinya belum mengetahui status terbaru dari proses negosiasi antara Pertamina dan PLN. Sebab proses negosiasi tersebut langsung berkaitan dengan induk perusahaan. "Saya belum dapat update status terakhir. Yang negosiasi langsung pertamina (Persero)," kata dia kepada Katadata, Jumat (14/7).

Saat ini Proyek Jambaran-Tiung Biru memang masih terkendala monetisasi harga gas bumi. Padahal proyek ini rencananya akan beroperasi pada 2020. Ketika berproduksi, proyek ini bisa menghasilkan 172 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Dari jumlah tersebut, rencananya PLN akan menyerap 100 mmscfd. 

(Baca: Jadi Proyek Strategis, Pertamina Ingin Gas Tiung Biru Cepat Laku)

 

Artikel Terkait
“Golongan yang besar akan membayar lebih mahal karena kilowatt hour (kWh) minimumnya jauh lebih banyak,” kata Pri Agung Rakhmanto.
“Kalau Rp 1 triliun dibandingkan Rp 300 triliun pendapatan PLN, ya kecil," kata Sofyan Basir.
"Umpamanya sampai seminggu lagi aturan tidak keluar, kami perpanjang," kata Dirjen Migas, Ego Syahrial.