Indef Ragu Pemerintah Mampu Capai Target Subtitusi Impor 35%

Image title
25 Agustus 2020, 06:00
impor, subtitusi impor, tkdn, utilisasi produksi, tingkat kandungan dalam negeri, pandemi corona, industri, kementerian perindustrian
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Ilustrasi. Pemerintah akan mendorong subtitusi impor antara lain dengan meningkatkan utilisasi produksi di Tanah Air mencapai 85% pada 2022.

Kementerian Perindustrian membidik target substitusi impor mencapai 35% pada 2022 sebagai bagian dari langkah pemulihan ekonomi nasional. Namun, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance atau Indef Tauhid Ahmad meragukan target tersebut lantaran industri dalam negeri masih tertatih-tatih akibat pukulan pandemi corona. 

Pandemi membuat industri cenderung bertahan lantaran permintaan pasar yang tengah menurun. Sementara ketergantungan bahan baku hingga saat ini masih mencapai 70%. "Kalau ada perkembangan postif itu sangat baik, tapi pemerintah perlu realistis," kata Tauhid kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).

Selain permintaan pasar yang tengah lesu, upaya untuk mengganti bahan baku impor dengan produksi dalam negeri tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang panjang. Apalagi investasi untuk sektor produksi bahan baku akan sangat minim di tengah masih merebaknya wabah mirip flu ini. 

Tak hanya itu,  pemerintah perlu meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang dihasilkan dari industri dalam negeri. "Jadi situasi ini tidak mudah bagi kita," kata dia.

Adapun untuk mengejar target subtitusi impor terdapat beberapa hal yang harus dilakuukan pemerintah. Salah satunya,  mendorong investasi bahan baku terutama bagi industri baja, petrokimia, serta makanan dan minuman. Pemerintah perlu membuka kesempatan seluas-luasnya untuk kerja sama dalam bentuk kemitraan dengan produsen bahan baku yang melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah. 

Pemerintah perlu memberikan lebih banyak lagi insentif bagi perusahaan yang mau menanamkan modalnya mengembangkan bahan baku dalam bentuk pengurangan pajak. "Upaya ini agar melindungi industri yang memiliki keterkaitan luas bisa menggantikan produk impor tersebut," kata dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia Sutrisno Iwantono. Menurut Sutrisno,  pemerintah harus bekerja keras untuk mencapai target tersebut. Kendati demikian, kondisi saat ini dinilai dapat menjadi peluang yang sangat baik untuk mengurangi ketergantungan impor, khususnya bahan baku.

Pandemi covid-19 membuat aktivitas perdagangan luar negeri menjadi lebih terbatas.  Kondisi kian diperburuk dengan adanya pembatasan perjalanan internasional yang membuat negosiasi bisnis turut terhambat.

"Saya tidak optimistis, tapi harus dilakukan karena kondisinya memaksa kita mengurangi ketergantungan ekspor negara lain," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan untuk mencapai target tersebut telah dilakukan pemetaan terhadap sektor-sektor industri tertentu yang harus dipacu untuk memenuhi target. Beberapa sektor industri yang menjadi target Kemenperin untuk dipacu substitusi impor antara lain industri mesin, kimia, logam, elektronik, dan kendaraan bermotor. 

Agus menjelaskan langkah mendorong industri substitusi akan dijalankan secara simultan, antara lain dengan upaya peningkatan utilitas produksi dengan target mencapai 85% pada 2022. “Kondisi pandemi virus corona membuat kita menyadari perlunya pendalaman struktur industri. Sehingga perlu upaya tepat untuk mengatasi ketergantungan impor,” kata Agus dalam siaran pers, Jumat (21/8).

Meski demikian ia menegaskan bahwa Indonesia tidak anti impor, sebab pemerintah pun menyadari ada beberapa barang atau produk yang belum bisa dihasilkan di daam negeri. Agus mencontohkan, beberapa produk seperti bahan baku dan barang modal, masih boleh dipasok dari luar negeri.

Advertisement

 

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait