Demonstrasi di Kendari Berakhir Ricuh, Satu Mahasiswa Meninggal

Jenazah Randi saat ini sedang diotopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
26 September 2019, 18:43
Demonstrasi, Kendari, Mahasiswa Meninggal.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Polisi melontarkan water canon saat kericuhan dalam unjuk rasa di depan kompleks Parlemen di Jakarta, Selasa (24/9/2019). Aksi demonstrasi di Kendari, Kamis (26/9) berakhir ricuh dan mengakibatkan satu orang mahasiswa Universitas Halu Oleo bernama Randi (21) meninggal dunia.

Demonstrasi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara berakhir ricuh dan mengakibatkan seorang mahasiswa bernama Randi (21) tewas. Mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo itu meninggal usai mendapat luka di dada sebelah kanan saat kericuhan pecah di sekitar Gedung DPRD Sultra.

Randi meninggal pukul 16.18 WITA usai menjalani perawatan selama lima menit di Rumah Sakit TNI AD dr Ismoyo.  Saat ini jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk dilakukan autopsi.

“Kami belum bisa pastikan apakah penyebab kematiannya terkena peluru tajam atau peluru karet,” kata Danrem 143/HO Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto di Kendari, Kamis (26/9).

(Baca: Polisi Sebut 265 Mahasiswa Dirawat Usai Demonstrasi di Gedung DPR)

Selain Randi, ada tiga mahasiswa lain yang mengalami luka akibat kekerasan. Bahkan satu korban saat ini terluka parah dan dirujuk Rumah Sakit Bahteramas. Sedangkan dua orang lainnya masih di rawat di RS Korem.

Kabidhumas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt menjelaskan awalnya mahasiswa berorasi pada pukul 11.30 WITA untuk menolak berbagai RUU yang dibahas pemerintah. Pukul 12.15 WITA, pimpinan DPRD Sultra keluar untuk menawari mahasiswa audiensi pukul 13.00 WITA.

Situasi mulai memanas saat suara mahasiswa terbelah antara menerima dan menolak tawaran. Pukul 13.30 WITA, massa mulai melempari dan berusaha menduduki Gedung DPRD. “Sampai pukul 16.00 WITA,” kata Harry dikutip dari siaran Tv One, Kamis (26/9).

Harry sempat mendengar informasi bahwa luka yang diterima Randi berasal dari barang yang mirip peluru. Namun ia memastikan aparat saat menjaga Gedung DPRD hanya menggunakan gas air mata serta water cannon.

(Baca: Istana Bakal Beri Sanksi Bagi Polisi yang Represif Tangani Demonstran)

“Semua personel ditempatkan di dalam pagar DPRD saja,” ujar dia.

Reporter: Antara

Video Pilihan

Artikel Terkait