- Adopsi teknologi cloud di Indonesia naik hingga 10% tahun lalu.
- Amazon, Google, Alibaba bersaing di bisnis cloud dan pusat data di Indonesia.
- Menteri Luhut pernah mengungkapkan peluang Indonesia menjadi hub pusat data di Asia.
Adopsi komputasi awan (cloud) meningkat, seiring banyaknya perusahaan yang mendigitalisasikan bisnis saat pandemi corona. Raksasa teknologi seperti Google, Alibaba, dan Amazon pun berbondong-bondong masuk ke bisnis cloud dan pusat data di Tanah Air. Indonesia bahkan disebut-sebut berpeluang menjadi hub pusat data di Asia.
IBM mencatat, penggunaan cloud meningkat 5-10% secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun lalu. “Industri yang banyak mengadopsi yakni perbankan dan telekomunikasi,” kata Country Manager Partner Ecosystem IBM Indonesia Novan Adian saat media briefing virtual, Rabu (10/2).
Ia menjelaskan, peningkatan terjadi karena masyarakat beralih ke layanan digital. Perusahaan juga mengubah sistem kerjanya, guna menyesuaikan dengan protokol kesehatan terkait Covid-19.
Selain itu, jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertambah menjadi hampir 200 juta. Secara rinci dapat dilihat pada Databoks berikut:
“Trafik pengguna internet meningkat. Jadi, tidak ada opsi lagi (selain beralih ke digital),” kata Novan. “Maka, penggunaan cloud meningkat.”
Namun, adopsi cloud di Nusantara bukan tanpa tantangan. Novan mengatakan, perusahaan mengkaji keamanan dan kemampuan teknologi mengakomodasi peningkatan transaksi.
Ia menilai bahwa kekhawatiran itu wajar, mengingat cloud merupakan teknologi baru di Tanah Air dan belum ada regulasi perlindungan data. “Mereka butuh dituntun. Memetakan apa yang menjadi prioritas masing-masing perusahaan. Tidak bisa langsung adopsi,” katanya.
Berdasarkan laporan tahunan Huawei bertajuk Global Connectivity Index (GCI) 2020, Indonesia masih berada di kelompok starter terkait adopsi teknologi. Namun skornya 39, atau termasuk tinggi untuk kategori ini.
Huawei melihat transformasi digital di Indonesia meningkat signifikan. Jika kualitas jaringan internet diperluas hingga ke perdesaan, raksasa teknologi Tiongkok itu memperkirakan Nusantara segera masuk ke kelompok adopter, bersama Vietnam dan Peru.
Survei terbaru Alibaba Cloud pun menunjukkan, 77% bisnis di Indonesia menggunakan solusi informasi teknologi berbasis cloud. Sebanyak 83% juga percaya bahwa perangkat ini membantu mereka memenuhi kebutuhan bisnis selama pagebluk virus corona.
Survei itu melibatkan 1.000 peserta di Hong Kong, Malaysia, Singapura, India, Indonesia, dan Filipina. Kuesioner disebar pada November tahun lalu.
Sebanyak 64% memilih pendekatan hybrid cloud, yakni layanan yang mendistribusikan komputasi awan untuk umum (public) dan terbatas (private). “Kami berencana memperkenalkan lebih banyak teknologi dan solusi hybrid cloud yang disesuaikan dengan berbagai industri di Indonesia,” kata General Manager, Alibaba Cloud Intelligence Indonesia Leon Chen dalam siaran pers, akhir pekan lalu (5/2).
Anak usaha Alibaba sudah membangun dua pusat data di Indonesia. Mereka juga tengah membuat yang ketiga, dan ditarget beroperasi tahun ini.
Beberapa perusahaan yang menggunakan layanan cloud Alibaba yakni startup fintech pembiayaan Indonesia, Investree, e-commerce asal Malaysia, PrestoMall, perusahaan gim Jepang Enish, platform hiburan dari Filipina, Kumu, dan banyak lagi.
Leon memprediksi penggunaan cloud tetap meningkat meski pandemi Covid-19 usai. “Ini karena teknologi tersebut akan mendukung banyak perusahaan bertransformasi digital secara cepat dengan hemat biaya,” kata dia kepada Katadata.co.id, Desember lalu (8/12/2020).
Hal senada disampaikan oleh Country Director Google Cloud Indonesia Megawaty Khie. “Aktivitas bekerja dan operasional bisnis jarak jauh membuat perusahaan besar dan kecil ramai-ramai beralih ke cloud,” kata dia dalam siaran pers, Senin lalu (8/2).
Sejak meluncurkan region Google Cloud Platform (GCP) di Jakarta, Juni 2020 lalu, perusahaan pun mencatatkan permintaan yang kuat atas layanan cloud. Megawaty menilai, ini karena bisnis melihat perubahan kebiasaan masyarakat.
Ia pun memprediksi tiga tren arah bisnis di Indonesia pada tahun ini. Pertama, hampir setiap industri membutuhkan platform digital. Dia mencontohkan penyedia layanan kesehatan yang beralih ke telemedicine atau perusahaan retail yang mengadopsi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan pengalaman berbelanja konsumen.
Kedua, AI dan mesin pembelajar (machine learning) menjadi pusat dari setiap strategi bisnis. Perbankan misalnya, berinvestasi di AI untuk mendukung personalisasi, memberikan insight terkait kesejahteraan finansial, dan mengelola risiko.
Terakhir, mengadopsi cara kerja baru, termasuk jarak jauh. Oleh karena itu, ia memprediksi bahwa permintaan cloud tetap tinggi meski pandemi corona usai.
Beberapa klian Google Cloud di Indonesia yakni Blue Bird, Link Net, Semen Indonesia, Tokopedia, BRI, XL Axiata, Gojek, Unilever, dan Ticket.com.
Peluang Indonesia Menjadi Hub Pusat Data di Asia
Meningkatnya kebutuhan solusi cloud mendorong raksasa teknologi global masuk Indonesia. Google Cloud sudah hadir di Tanah Air pada Juni tahun lalu.
Alibaba Cloud bahkan sudah membangun tiga pusat data di Tanah Air. Anak usaha Alibaba itu juga berencana mengoperasikan data scrubbing center pertama di Indonesia.
Fasilitas itu akan mendeteksi, menganalisis, dan menghapus volume traffic yang besar dan berbahaya pada tingkat Tbps. “Ini untuk bertahan dari serangan Distributed Denial of Service DDoS, terutama pada bisnis finansial dan gim,” kata General Manager, Alibaba Cloud Intelligence Indonesia Leon Chen kepada Katadata.co.id, Desember lalu (8/12/2020).
Ketika disinggung mengenai peluang Indonesia menjadi hub pusat data di Asia, Leon menyampaikan bahwa potensi bisnis di Tanah Air besar. “Potensinya besar. Maka, kami hadir,” kata dia. Namun, menurutnya adopsi komputasi awan di Nusantara tergolong baru.
Pertanyaan itu mengacu pada pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Ia mengklaim bahwa Google Cloud meminta Indonesia untuk menjadi hub pusat data di Asia.
“Tadi pagi saya berbicara dengan Google Cloud. Mereka akan minta Indonesia menjadi hub Google Cloud di Asia. Saya kira ini permintaan yang sangat wajar,” kata Luhut dalam webinar bertema ‘Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI)’, Juni tahun lalu (23/6/2020).
Katadata.co.id mengonfirmasi hal itu kepada CEO Google Cloud Thomas Kurian. Ia enggan berkomentar. Namun, dia menjelaskan bahwa pasar Indonesia memang potensial.
“Itu karena (hal-hal) yang menjanjikan di Indonesia dan ekonomi digital yang kami lihat berkembang pesat, kami menyediakan infrastruktur digital untuk menyatukan antarpulau,” kata Kurian saat round table VIP Next On Air, Juli tahun lalu (16/7/2020).
Hal senada juga disampaikan oleh CEO Google Sundar Pichai. “Indonesia merupakan salah satu negara paling kreatif, dinamis, dan berjiwa entrepreneur di Asia Tenggara,” katanya saat meluncurkan Google Cloud Region di Jakarta, medio tahun lalu (24/6/2020).
Pichai menilai, ekonomi digital di Indonesia berkembang paling cepat di regional. “Dan terus tumbuh di atas 40% setiap tahunnya,” kata dia.
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Amazon Web Service (AWS) pun membangun pusat data (data center) di Jawa Barat, Indonesia. Fasilitas ini ditarget rampung tahun ini.
Anak usaha Amazon itu menilai, Nusantara merupakan pasar potensial karena ada banyak startup dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Ini potensial bagi bisnis komputasi awan (cloud)," kata Head of Solutions Architect, ASEAN AWS Paul Chen dalam AWS Media Briefing ‘Prediksi Cloud dan Inovasi Teknologi Digital 2021’, pekan lalu (1/2).
Laporan The Future of Fintech in Southeast Asia oleh Dealroom, Finch Capital, dan MDI Ventures pada September 2020, Indonesia dan Singapura merupakan dua negara yang mempunyai ekosistem startup teknologi paling bernilai di Asia Tenggara. Secara rinci dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:
Indonesia juga memiliki empat unicorn yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan OVO. Selain itu, satu decacorn yaitu Gojek.
Selain startup, Amazon memprediksi ada banyak UMKM yang mengadopsi cloud pada tahun ini. Sebab, pelaku usaha beralih ke digital selama masa pandemi corona.
"Di Indonesia, UMKM menyumbang 99% dari bisnis di beberapa sektor kunci, terutama pariwisata dan ekonomi kreatif," kata Paul. "Penetrasi online di Indonesia juga sudah termasuk yang tertinggi di dunia."
Jumlah UMKM di Indonesia dapat dilihat pada Databoks berikut:
Namun, Country Manager Partner Ecosystem IBM Indonesia Novan Adian menilai bahwa tantangan Indonesia untuk menjadi pusat data di Asia yakni infrastruktur. “Keandalan infrastrukturnya perlu dibenahi,” kata dia. “Banyak perusahaan yang menggaet konsumen di Tanah Air tetapi tidak menempatkan pusat datanya di sini. Itu karena mereka tahu infrastrukturnya tak mendukung.”
Sedangkan Country Manager NetApp Indonesia Ana Sopia menilai, tantangan bisnis pusat data di Tanah Air yakni regulasi. “Peraturan yang berubah-ubah bisa menghambat,” kata dia dalam diskusi bertajuk ‘Tren Teknologi Disruptif bagi Bisnis untuk Tetap Unggul di Era Digital’ di Jakarta, Maret tahun lalu (12/3/2020). Selain itu, mereka mengharapkan iklim usaha yang stabil.