Seandainya Piala Dunia U-20 jadi dilaksanakan di tanah air, untuk pertama kalinya tim nasional (Timnas) sepak bola Indonesia berlaga di ajang level dunia. Namun ini hanya mimpi yang tak terwujud. FIFA mencabut Indonesia sebagai penyelenggara lantaran isu politik yang menolak tim Israel.
Batalnya penyelenggaraan Piala Dunia, otomatis Timnas U-20 juga gagal unjuk gigi di kejuaraan tersebut. Pasalnya, Indonesia mendapat tiket ke perhelatan FIFA itu karena didapuk sebagai tuan rumah, bukan karena lolos kualifikasi.
Tim Merah Putih memang belum punya prestasi membanggakan di kejuaraan sepak bola level dunia, terutama sepanjang era 2000an. Timnas Indonesia biasanya kalah di babak kualifikasi, sehingga tidak bisa meneruskan ke putaran final kejuaraan tingkat dunia.
Setali tiga uang di Piala Asia. Timnas senior maupun kelompok umur baru mencapai fase grup atau perempat final dalam 20 tahun terakhir. Adapun, Timnas U-20 pernah keluar sebagai juara Piala Asia pada 1961. Mereka dua kali menjadi runner up pada 1967 dan 1970.
Di level regional yang lebih kecil, timnas kelompok umur berhasil menorehkan sejumlah prestasi. Pencapaian ini jauh lebih baik dari timnas senior di ajang yang sama.
Misalnya, Timnas U-19 dinobatkan sebagai tim paling perkasa se-Asia Tenggara di Kejuaraan AFF pada 2013. Prestasi ini diikuti Timnas U-23 dengan menjadi pemenang Kejuaraan AFF pada 2019.
Tak hanya itu, Timnas U-16 bahkan sudah dua kali mencicipi gelar juara di ajang yang sama untuk usia mereka, yakni pada 2018 dan 2022.
Sedangkan, Tim Garuda alias timnas senior belum pernah merasakan podium tertinggi Kejuaraan AFF sejak diselenggarakan pada 1996. Mereka harus berpuas diri menempati posisi ketiga pada 1998, lalu enam kali menjadi runner up pada tahun-tahun berikutnya.
Tim Garuda pun mendapat julukan “spesialis runner up AFF” lantaran paling sering gagal di babak final dibandingkan negara-negara di kawasan itu.
Mengapa tim Garuda Muda lebih berprestasi dibandingkan timnas senior? Mengapa pula timnas senior belum mampu menembus kejuaraan sepak bola level dunia?
Banyak Konsumsi Makanan Minim Gizi
Mantan pelatih timnas Alfred Riedl, dalam wawancaranya dengan Tempo pada 2016, mengatakan para pemain Indonesia mulai tidak disiplin serta tidak menjaga pola makan dan asupan gizi ketika memasuki level senior.
“Bayangkan, pemain kita makan kerupuk atau kentang goreng, yang jelas-jelas tak bergizi,” kata Riedl.
Mantan pelatih fisik Timnas Indonesia Lee Jae-hong memiliki pendapat serupa. Menurutnya, pemain Indonesia kerap menyantap gorengan, sementara porsi dan jumlah gizi dalam konsumsi harian mereka belum sesuai kebutuhan, seperti dikutip dari YouTube PSSI TV.
Karena itu, kekuatan dan daya tahan tubuh Tim Merah Putih masih sangat kurang memadai, “apalagi untuk bertahan bermain selama 90 menit.”
Menurut ahli gizi Rita Ramayulis, seorang atlet sepak bola harus mengonsumsi karbohidrat kompleks dalam makanan utamanya, seperti dilansir dari YouTube PSSI TV. Karbohidrat ini meliputi nasi, kentang, dan roti, yang bisa menjadi sumber energi.
Konsumsi karbohidrat kompleks harus dibarengi dengan mikronutrien agar bisa cepat diolah menjadi energi siap pakai. Mikronutrien B1, B3, B6, dan, B12 bisa ditemukan pada lauk-pauk rendah lemak, sementara magnesium pada sayur-sayuran.
“Lauk yang biasa dikonsumsi, kalau tinggi lemak, itu justru memperlambat penyerapan karbohidrat ini sebagai energi,” jelas Rita.
Atlet sepak bola juga harus mengonsumsi makanan yang mengandung mineral, seperti buah-buahan, sebagai makanan selingan. Makanan ini bisa dikonsumsi beberapa kali dalam sehari dengan porsi yang proporsional.
Ketika akan bertanding, makanan utama dan selingan tersebut dikombinasi dan dikonsumsi beberapa jam sebelum pertandingan secara bertahap. Kemudian, ditambah dengan konsumsi cairan agar atlet selalu dalam kondisi hidrasi.
Selain itu, Rita menegaskan sejumlah makanan yang “haram” dimakan atlet sepak bola profesional. Pertama, makanan ekstrem yang sangat pedas, sangat asam, dan sangat manis. Sebab, makanan ini menstimulasi asam lambung secara berlebihan sehingga memengaruhi kesehatan pencernaan atlet.
Kedua, makanan yang digoreng dalam minyak banyak dan suhu tinggi. Ketiga, makanan bersantan. Dua jenis makanan ini mengandung lemak jenuh yang sulit dicerna tubuh. Dampaknya, tubuh jadi tidak bertenaga, bahkan bisa mengganggu sirkulasi darah dan jantung.
Lemah dalam Mengeksekusi Taktik
Selain asupan gizi dan kondisi fisik, pemahaman dan eksekusi taktik pemain Timnas Indonesia dinilai belum sempurna. Misalnya, lini depan masih menjadi masalah bagi timnas senior.
Berdasarkan statistik pertandingan Indonesia vs Vietnam di leg kedua semifinal Kejuaraan AFF 2022 pada 9 Januari 2023, Indonesia sama sekali tidak melakukan tembakan ke arah gawang lawan (shot on target). Sementara, Vietnam melakukan lima tembakan yang mengarah ke gawang tim Garuda.
Padahal, penguasaan bola Indonesia sedikit lebih baik dari Vietnam, yakni 52,5% berbanding 47,5%. Indonesia pun sebetulnya memiliki banyak kesempatan mencetak gol melalui tujuh kali tendangan sudut dan 12 kali tendangan bebas.
Artinya, pemain depan Indonesia belum cukup tajam dan belum mampu berkreasi mengombinasikan taktik untuk menjebloskan bola ke gawang lawan.
Melansir Tirto, mantan analis performa Timnas U-19 Rochmat Setiawan berpendapat, taktik menjadi masalah karena sejak muda, pemain lebih banyak didorong untuk berprestasi ketimbang fokus pada pengembangan. Alhasil, latihan fisik lebih diutamakan daripada pemahaman taktik.
Pendekatan itu mungkin bukan soal bagi timnas muda, bahkan ketahanan fisik bisa jadi keunggulan. Namun, dampaknya terlihat ketika mereka masuk ke level senior. Taktik lebih kompleks dan bervariasi, pemain juga harus cepat mengambil keputusan dalam pertandingan. Pemahaman taktik yang kurang mumpuni akan berakibat pada lemahnya permainan dan prestasi timnas sendiri.
Tidak hanya itu, juru taktik alias pelatih yang sering berganti berpengaruh terhadap pemahaman taktik para pemain Timnas Indonesia. Sebab, mereka harus terus beradaptasi dengan taktik baru, bukannya menyerap, mengimplementasikan, dan berkreasi dengan taktik tersebut.
Timnas senior, misalnya, memiliki 17 pelatih berbeda sejak era Reformasi. Artinya, hampir setiap tahun timnas dilatih oleh juru taktik baru.
Pentingnya Pembinaan Usia Dini dan Perbaikan PSSI
Minimnya prestasi timnas senior berakar dari kurangnya pembinaan pemain muda. Seorang atlet sepak bola profesional memang tidak lahir dari latihan dan kompetisi dalam satu malam saja.
Pembinaan dilakukan mulai dari akademi, sekolah sepak bola (SSB), atau diklat. Kemudian, perlu diadakan kompetisi berjenjang sesuai kelompok umur. Tujuannya, membentuk dan melatih pola hidup, teknik permainan, dan mentalitas para pemain.
Namun, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Raden Isnanta mengatakan jumlah Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar (PPLP) milik pemerintah baru ada sebanyak tujuh diklat pada 2020, seperti dikutip dari Tempo.co.
“Ini (penambahan PPLP) yang belum kita lakukan karena cost-nya tinggi. Seharusnya di 34 provinsi ini ada diklat, semua daerah punya potensi,” kata Isnanta.
Sementara, Kemenpora dan PSSI belum menyajikan data jumlah akademi dan SSB di seluruh Indonesia. Adapun, keduanya bisa berada di bawah naungan klub sepak bola profesional dalam dan luar negeri (seperti Akademi Persib dan SSI Arsenal) atau berdiri mandiri (seperti Jakarta Football Academy).
Selanjutnya, kompetisi sepak bola untuk kelompok umur masih terbilang jarang diadakan di tanah air. Di laman PSSI, misalnya, cuma ada satu kompetisi yang menyasar pemain muda, yakni Piala Soeratin bagi U-15 dan U-17.
Di samping itu, ekosistem dan para stakeholder yang memungkinkan adanya pembinaan pemain muda itu sendiri juga perlu dibenahi. Sebab, menurut Andy Fuller (2015) dalam artikel “Approaching football in Indonesia” di jurnal Soccer & Society, sepak bola kerap dipolitisasi di Indonesia.
Pernyataan itu setidaknya terlihat dalam kepengurusan PSSI, asosiasi sepak bola tertinggi di Indonesia. Ketua umumnya tidak jarang berstatus politisi, lalu sejumlah kasus penyalahgunaan dana dan jabatan telah mencoreng citra organisasi tersebut dalam 20 tahun terakhir.
Salah satunya, mantan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono yang terlibat kasus pengaturan skor Liga 1 pada 2019. Dia terbukti bersalah merusak dan menghilangkan barang bukti terkait kasus itu dan divonis 18 bulan penjara.
Ekosistem dan stakeholder sepak bola Indonesia yang bobrok di tingkat atas bisa jadi menjalar hingga ke tingkat bawah. Hal itu berdampak pada minimnya kuantitas dan kualitas fasilitas sepak bola, pembinaan pemain muda, dan prestasi Tim Merah Putih di kejuaraan sepak bola.
Editor: Aria W. Yudhistira
