Analisis | Daya Tahan Industri Makanan dan Minuman di Masa Pandemi Covid-19 - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Daya Tahan Industri Makanan dan Minuman di Masa Pandemi Covid-19


Dimas Jarot Bayu

4 Agustus 2021, 06.45

Foto: Joshua Siringo Ringo/ Ilustrasi/ Katadata

Krisis kesehatan dan perlambatan ekonomi selama pandemi Covid-19 menyebabkan banyak sektor usaha terpuruk. Namun, beberapa industri, seperti industri makanan dan minuman masih punya daya tahan di tengah lesunya daya beli masyarakat. Apa saja penopang industri tersebut?


Tak banyak industri yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Krisis kesehatan dan perlambatan ekonomi telah menyebabkan sejumlah industri terpuruk.

Salah satu yang masih bertahan adalah industri makanan dan minuman (mamin). Kondisi ini terlihat dari kinerjanya yang masih tumbuh positif dalam setahun terakhir. Pada kuartal I-2021, pertumbuhan industri ini mencapai 2,45%, salah satu yang tertinggi di sektor industri pengolahan.

Industri mamin memang bukan satu-satunya yang mengalami pertumbuhan dalam setahun terakhir. Industri kimia, farmasi dan obat tradisional serta industri logam dasar juga mengalami kinerja positif selama pandemi corona.

Kedua sektor tersebut pun mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi selama setahun terakhir. Walau demikian, hanya industri mamin yang pertumbuhannya konsisten meningkat sejak kuartal II-2020.

Di samping itu, industri makanan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja sepanjang pandemi corona. Berdasarkan data BPS, proporsi tenaga kerja di industri makanan mencapai 3,75% pada 2020.

Proporsi tersebut tercatat meningkat 0,01 poin persen jika dibandingkan pada 2019 yang sebesar 3,74%. Hal tersebut menandakan bahwa industri mamin masih ekspansif, meski ada pandemi corona.

Ketahanan industri mamin juga terlihat dari besarnya investasi yang dapat mereka tampung sepanjang semester I-2021. Berdasarkan data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di sektor industri makanan sebesar Rp 36,6 triliun atau 8,3% dari totalnya yang mencapai Rp 442,76 triliun.

Nilai tersebut meningkat 23,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 29,6 triliun. “Industri makanan memang di era pandemi corona ini mengalami kenaikan,” kata Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam konferensi virtual pada Selasa, 26 Juli 2021.

Nilai investasi di industri makanan pun pun menjadi yang terbesar kelima dari seluruh sektor yang ada. Investasi tertinggi pada Januari-Juni 2021 berasal dari sektor  perumahan, kawasan industri dan perkantoran yang sebesar Rp 60,7 triliun.

Posisi kedua ditempati oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya sebesar Rp 57,6 triliun. Kemudian, investasi dari sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp 53,5 triliun. Sedangkan, penanaman modal di sektor listrik, gas, dan air tercatat sebesar Rp 44,3 triliun.

Selain itu, ketahanan industri mamin dapat terlihat dari utilisasinya yang masih tinggi selama pandemi. Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan, utilisasi industri mamin ada yang mencapai kisaran 89%.

Putu menyampaikan hal tersebut ketika meninjau PT Unilever Indonesia (Walls Factory) dan Mondelez Indonesia pada Sabtu, 31 Juli 2021. Menurut Putu, utilisasi yang tinggi menandakan bahwa produktivitas industri mamin tetap berjalan baik.

"Justru permintaannya semakin meningkat, baik di pasar domestik maupun mancanegara," kata Putu dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu, 31 Juli 2021.

Namun industri mamin menghadapi sejumlah tantangan untuk mendongkrak kinerjanya di masa pandemi. Salah satunya disebabkan daya beli masyarakat yang melemah seperti terlihat dari konsumsi rumah tangga yang mengalami kontraksi sejak kuartal II-2021. Ketika itu, pertumbuhannya anjlok hingga -5,52%. Konsumsi rumah tangga mulai membaik hingga kuartal I-2021, namun angkanya masih anjlok sebesar 2,23%.

Kinerja industri mamin masih mampu positif di tengah lemahnya daya beli masyarakat lantaran produk mereka masih menjadi prioritas selama pandemi corona. Laporan lembaga survei konsumen NielsenIQ menunjukkan, kontribusi pengeluaran konsumen Indonesia untuk belanja makanan mencapai 22% pada kuartal I-2021.

Persentase itu tercatat mengalami penurunan 1% dibandingkan pada kuartal I-2020. Meski demikian, angkanya tetap menjadi yang paling besar dibandingkan pengeluaran konsumen pada kategori lainnya.

Kontribusi pengeluaran konsumen untuk membeli barang konsumen yang bergerak cepat (fast moving consumer goods/FMCG) juga tercatat cukup besar, yakni hingga 12%. Posisinya berada di urutan keempat setelah menabung dan membayar utang (21%) serta liburan (13%).

FMCG adalah produk yang memiliki perputaran omzet cepat dengan biaya yang rendah. Produk tersebut biasanya memiliki masa simpan yang relatif singkat mengingat sifatnya lebih cepat rusak. Kategori produk FMCG salah satunya meliputi produk makanan instan dan minuman kemasan.

Lebih lanjut, permintaan produk mamin dari luar negeri juga masih tinggi. Ini terlihat dari nilai ekspornya yang tumbuh positif sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor industri makanan dan minuman tercatat mencapai US$ 31,2 miliar pada 2020. Jumlah itu meningkat 13,94% dibandingkan tahun 2019 yang mencapai US$ 27,4 miliar.

Peningkatan tersebut juga menjadi yang pertama kali sejak 2017. Sebelumnya, nilai ekspor industri makanan tercatat terus mengalami penurunan pada 2018 dan 2019.

Walau demikian, volume ekspor industri makanan dan minuman tercatat hanya 39,9 juta ton pada 2020. Jumlah itu turun 6,42% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 42,6 juta ton.

Prospek Cerah Industri Mamin

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman pun meyakini industri mamin bakal semakin cerah ke depannya. Dia memperkirakan bahwa kinerja industri mamin dapat tumbuh sekitar 5% hingga 7% sepanjang 2021.

Hal tersebut lantaran konsumsi rumah tangga yang sudah semakin pulih. Sebab, Adhi menilai masyarakat sudah mulai mengadaptasikan kebiasaan baru saat pandemi corona.

“Ini beda dengan 2020 di mana banyak perubahan yang tidak diantisipasi sama sekali oleh konsumen,” kata Adhi kepada Katadata.co.id pada Senin, 2 Agustus 2021.

Walau demikian, Adhi menilai masih ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh industri mamin selama pandemi corona. Salah satunya lantaran industri mamin kesulitan mencari kontainer dan kapal untuk mengekspor produk mereka.

Selain itu, terdapat krisis komoditas selama pandemi corona karena ketidakseimbangan permintaan dan pasokan di berbagai negara. Hal tersebut lantas membuat biaya untuk membeli bahan baku produksi industri mamin terus meningkat.

“Memang masalahnya di industrinya sendiri marginnya menurun, karena biaya (bahan baku) naik, tapi harga jual bagi lokal maupun ekspor tidak bisa meningkat,” kata Adhi.

Atas dasar itu, industri mamin terus melakukan adaptasi dan inovasi untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Inovasi dan adaptasi dilakukan mulai dari produk, proses produksi, logistik, pemasaran, saluran penjualan, hingga finansial.

“Kami harus bangun ekosistem yang baik untuk membangun industri makanan dan agro yang resilience, affordable, dan competitive,” kata dia.

Editor: Aria W. Yudhistira