Analisis | Bahaya Lingkungan di Balik Maraknya Belanja Online - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Bahaya Lingkungan di Balik Maraknya Belanja Online


Annissa Mutia

17 September 2021, 08.26

Foto: Joshua Siringo Ringo/ Ilustrasi/ Katadata

Belanja online semakin berkembang seiring pembatasan aktivitas akibat pandemi Covid-19. Namun sejalan dengan maraknya belanja online, muncul dampak negatif yang membahayakan lingkungan. Mengapa?


Belanja online telah menjadi kebiasaan baru masyarakat. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas di luar rumah. Fenomena ini tak hanya di Indonesia, melainkan juga di berbagai negara. Banyak perusahaan perintis (start-up) lokapasar atau e-commerce kemudian bermunculan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik adalah pasar terbesar industri ini, terutama di Tiongkok. Dengan 855 juta konsumen digital, negara panda tersebut memiliki pasar terbesar dan pertumbuhan tercepat di dunia. Penjualan ritel daring di negara itu menyumbang 3,2% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Laporan Google, Temasek, dan Bain dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2020 menyebutkan, sebagian besar pertumbuhan e-commerce di Asia Pasifik didorong oleh penetrasi internet dan tingkat kepemilikan telepon pintar yang tinggi. Itu juga yang menyebabkan adopsi e-commerce di Asia Tenggara semakin tinggi. 

Transaksi bruto alias gross merchandise value (GMV) lokapasar di Asia Tenggara melonjak 63% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 62 miliar tahun lalu. Angkanya diprediksi naik 23% menjadi US$ 172 miliar pada 2025. 

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara mencapai US$ 105 miliar atau sekitar Rp 1.475 triliun pada tahun lalu. Sebanyak US$ 44 miliar atau Rp 619 triliun di antaranya disumbang oleh Indonesia. 

Tren pengguna e-commerce di Indonesia pun tumbuh cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan diprediksi masih akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan. 

Statista mencatat jumlah pengguna e-commerce di Indonesia pada 2017 mencapai 139 juta pengguna, kemudian naik 10,8% menjadi 154,1 juta pengguna di 2018. Tahun ini diproyeksikan akan mencapai 193,2  juta pengguna dan 212,2 juta pada 2023.

Pandemi Covid-19 yang menyebar di seluruh dunia, dan hampir semua negara memberlakukan pembatasan wilayah, mempercepat pertumbuhan pasar daring ini. Di Asia Tenggara, dua layanan online yang paling banyak dicari adalah pengiriman makanan dan bahan makanan.

Kemudian, perlahan-lahan jual beli fisik beralih ke daring. Selain makanan, pembelian kecantikan dan pakaian juga meningkat selama pandemi. 

Dampak E-Commerce terhadap Lingkungan

Tidak dapat dipungkiri kehadiran e-commerce menumbuhkan ekonomi Indonesia dan terutama membantu pelaku usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Sepintas, berbelanja di lokapasar memang terlihat lebih efisien dan ramah lingkungan karena pembeli tidak harus bepergian ke luar rumah. Secara teori hal itu benar. Namun, di sisi lain, belanja online juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pertama, sampah yang dihasilkan oleh sektor perdagangan daring menjadi masalah yang menggunung karena banyaknya kemasan yang digunakan untuk pengiriman. Banyak penjual di e-commerce menggunakan kemasan plastik sekali pakai, sementara para pembeli tidak punya pilihan kemasan yang lebih ramah lingkungan. 

Merujuk hasil studi LIPI, aktivitas belanja online masyarakat berbentuk paket selama pandemi meningkat 62% di DKI Jakarta. Paket belanja tersebut 96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, bungkus plastik, dan plastik gelembung merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan.  

Sebuah laporan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada 2020 menemukan bahwa Indonesia adalah salah satu konsumen kemasan plastik terbanyak di Asia berdasarkan data 2016. Konsumsi plastik Indonesia sebanyak 12.5 kg per kapita. 

Berdasarkan komposisinya, sampah plastik di Indonesia sebanyak 17,1% dan mayoritas atau 37% persennya merupakan sampah plastik dalam bentuk karung pengiriman, tas belanja, dan selotip. McKinsey Global Institute memperkirakan peningkatan plastik limbah kemasan meningkat menjadi 7.5 juta ton pada 2030 dari 5.3 ton di 2019.


Dampak lingkungan lainnya adalah jejak karbon atau carboon footprint yang dihasilkan dari pengiriman paket belanja online menggunakan transportasi pesawat, mobil, dan motor. Jejak karbon adalah jumlah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia sehari-hari, termasuk karbon dioksida, metana, dinitrogen oksida, gas fluorocarbon, yang dapat menyebabkan pemanasan global.

Seperti dilansir pada situs nature.org, rata-rata jejak karbon per orang secara global adalah mendekati 4 ton per tahun. Sedangkan rata-rata untuk satu orang di Indonesia diperkirakan mencapai 2.5 ton per tahun.  

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan total emisi karbon dioksida (CO2) mencapai 33,9 gigaton (Gt) sepanjang 2020. Sebanyak 13,5 Gt di antaranya berasal dari listrik dan pemanas, menjadi yang paling banyak dibandingkan sumber lainnya.

Industri menyumbang 8,5 Gt emisi karbon pada tahun lalu, diikuti transportasi sebesar 7,2 Gt. Gedung-gedung juga menghasilkan 2,9 Gt emisi karbon. Sedangkan, sebanyak 1,9 Gt emisi karbon berasal dari sumber-sumber lain.

Dari laporan tersebut, dapat disimpulkan selama pandemi Covid-19 pengiriman belanja online juga berkontribusi terhadap sumber emisi karbon global melalui industri dan transportasi.

Respon E-commerce terhadap Dampak Lingkungan

Aktivis lingkungan yang tergabung dalam gerakan Pawai Bebas Plastik 2021 pada Juli lalu mendorong pelaku usaha e-commerce untuk benar-benar mewujudkan gaya hidup tanpa plastik sekali pakai dan meminimalisasi dampak lingkungan lainnya.

Merespons hal itu, Tokopedia dan Bukalapak mengaku sudah berupaya meminimalkan penggunaan plastik. External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menjelaskan, Tokopedia merupakan marketplace yang kegiatan pengemasan barang dilakukan oleh mitra penjual (merchant).

Namun, perusahaan tetap berupaya agar mitra menjual produk dengan cara yang ramah lingkungan. Unicorn Tanah Air itu juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan ulang kantong plastik atau kardus yang didapat saat memesan produk di e-commmerce

Sementara itu, Lazada kolaborasi bersama Grab untuk inisiatif pertama yang akan mempromosikan pengiriman paket dengan lebih ramah lingkungan pada Maret 2021 lalu. Lazada Logistics, divisi logistik Lazada menyewa sepeda motor listrik dari Grab untuk mengurangi karbon emisi pengiriman barangnya ke konsumen Lazada.

Editor: Aria W. Yudhistira