Analisis | Daerah Mana Paling Tertekan Lonjakan Harga Minyak Goreng? - Analisis Data Katadata
ANALISIS DATA

Daerah Mana Paling Tertekan Lonjakan Harga Minyak Goreng?


Dzulfiqar Fathur Rahman

18 April 2022, 10.36

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata

Masyarakat menanggung beban berat lonjakan harga minyak goreng. Bantuan Langsung Tunai (BLT) dapat membantu daya beli, namun dampaknya tak merata. Masyarakat di wilayah timur hanya bisa membeli setengah dari penduduk di Jawa dan Sumatera.


Kelangkaan minyak goreng adalah ironi karena Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar dunia. Harga minyak goreng curah, kemasan sederhana, hingga kemasan premium meroket. Kenaikan harga terjadi di semua daerah, memukul konsumen di Papua lebih keras dari yang lain.

Ketika Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mencabut harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan pada 16 Maret 2022, harganya langsung melambung. Hingga 12 April, rata-rata mengalami kenaikan 43,79% ke Rp23.756,67 per liter. 

Sedangkan untuk minyak goreng kemasan premium, rata-rata harga juga mencatat tren serupa. Harganya meningkat 41,5% ke Rp26.264,71 per liter pada periode yang sama.

Sementara itu, rata-rata harga minyak goreng curah menunjukkan tren peningkatan yang lebih lambat dari minyak goreng kemasan. Sebagian karena pemerintah mempertahankan HET produk tersebut, yaitu Rp14.000 per liter.

Per 12 April 2022, rata-rata harga minyak goreng curah tercatat sebesar Rp18.287,5 per liter. Angka ini lebih tinggi 30,62% dari HET.

Walaupun masih ada kenaikan harga pada awal bulan April, ketiga jenis minyak goreng ini mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan harga yang lebih lambat. Ini setidaknya beberapa hari memasuki bulan Ramadan. 

Indeks rata-rata harga minyak goreng kemasan premium yang mengacu pada harga per 16 Maret 2022 mulai turun. Pada 12 April, tercatat indeks sebesar 141,5 sedikit lebih rendah dari 142,23 pada 5 April 2022.

Kendati demikian, inflasi April diperkirakan tetap meningkat. Ini mengingat harga-harga cenderung lebih tinggi pada Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Pada Maret, inflasi harga konsumen secara tahunan mulai meningkat ke 2,64% dari 2,06% sebulan sebelumnya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

(Baca: Survei BI: Harga Barang Eceran Diprediksi Naik pada Mei 2022)

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, pada hari Kamis 14 April bahwa stok minyak goreng dipastikan tersedia. Meskipun harganya diperkirakan bergerak stabil di atas HET.

Namun, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) berpendapat sebaliknya. Masih terjadi kelangkaan minyak goreng dan pemerintah belum menegakan HET minyak goreng curah dengan baik.

“Kami melihat fakta bahwa (harga) minyak goreng curah masih tembus (HET). Lebih dari Rp18.000 sampai Rp 20.000 per liter di berbagai daerah, bahkan masih terjadi kelangkaan di mana-mana. Artinya pemerintah belum konsisten dalam pemerataan kebijakan dan tidak fokus dalam penyelesaian persoalan di dalam negeri,” kata Miftahudin, Ketua Ikappi DKI Jakarta, dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada 12 April 2022.

Sebelum 21 April 2022, pemerintah berencana memberikan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 300.000 kepada 20,65 juta keluarga penerima program Kartu Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH), serta 2,5 juta pedagang kaki lima.

(Baca: Anggaran BLT Minyak Goreng Capai Rp6,4 Triliun, Ini Rinciannya)

Walaupun dibayar sekaligus pada bulan April, BLT dimaksudkan untuk membantu keluarga penerima selama tiga bulan hingga bulan Juni. Akan tetapi disparitas harga menyebabkan daya beli dari dana BLT tidak sama di setiap daerah. 

Minyak goreng curah misalnya, bantuan ini diperkirakan mampu membeli 21 liter di Aceh. Namun di Papua Barat, hanya cukup setengahnya.

Begitu pula untuk minyak goreng kemasan. BLT tersebut bisa membeli kira-kira 13 liter minyak goreng kemasan premium di Jambi atau DKI Jakarta, tetapi hanya 8 liter di Sulawesi Tenggara.

Sedangkan untuk minyak goreng kemasan sederhana, penerima bisa menggunakan BLT membeli 16 liter di DKI Jakarta dan 11 liter di Kalimantan Barat.

Konsumsi minyak goreng masyarakat Indonesia juga berbeda di setiap daerah. Di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, konsumsi minyak goreng tercatat sebesar 0,72 liter per rumah tangga per minggu pada tahun 2021, menurut data BPS. Di Sorong, Papua Barat, konsumsinya mencapai 1,31 liter per keluarga per pekan.

Pengeluaran minyak goreng berbanding lurus dengan konsumsinya secara umum. Pengeluaran minyak goreng tercatat sebesar Rp8.982,48 per rumah tangga per minggu di Cirebon dan Rp18.959,45 per rumah tangga per minggu di Sorong.

Namun, pengeluaran di beberapa kota dan kabupaten di Papua dan Papua Barat tercatat jauh lebih tinggi dari pengeluaran yang diharapkan mengingat tingkat konsumsinya. 

Di Jayawijaya, Papua, misalnya, pengeluaran minyak goreng tercatat Rp26.067,07 per rumah tangga per minggu. Dengan konsumsi sebesar 0,74 liter per keluarga per pekan, pengeluaran tersebut lebih tinggi kira-kira 2,5 kali lipat dari yang diharapkan.

Josua Pardede, kepala ekonom Bank Permata, mengatakan bahwa harga minyak goreng lebih rendah di Jawa dan Sumatera karena banyak pabrik yang berlokasi di dua pulau ini. Jarak yang semakin jauh antara lokasi produksi dan tujuan pasar di Indonesia bagian timur meningkatkan ongkos logistiknya.

“Untuk (meminimalkan) disparitas harga akibat biaya logistik ini, pemerintah perlu memaksimalkan program yang (meminimalkan) biaya transportasi. Sebagai contoh, program tol laut dapat membantu menurunkan biaya logistik tersebut,” kata Josua kepada Katadata.co.id melalui pesan singkat pada hari Kamis 12 April 2022.

Editor: Aria W. Yudhistira