Advertisement
Analisis | Seberapa Melambat Ekonomi Indonesia saat Resesi Melanda Dunia? - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Seberapa Melambat Ekonomi Indonesia saat Resesi Melanda Dunia?

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Ekonomi dunia diramal jatuh ke jurang resesi tahun depan, di saat negara-negara belum pulih sepenuhnya dari resesi akibat pandemi COVID-19. Pengalaman menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat ketika resesi global terjadi.
Dzulfiqar Fathur Rahman
5 Oktober 2022, 16.35

Ancaman resesi tengah membayang-bayangi dunia. Sejumlah lembaga internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Indonesia juga dapat terseret perlambatan ekonomi pada tahun depan. Padahal, baru saja melewati resesi akibat pandemi Covid-19.

Laporan Bank Dunia “Is a Global Recession Imminent?” yang dirilis September 2022 memproyeksikan skenario pertumbuhan ekonomi dunia. Bank Dunia menyebut ada potensi perlambatan dan kemungkinan ekonomi global jatuh ke resesi pada 2023. Mereka mengukur resesi dengan kontraksi tahunan dalam produk domestik bruto (PDB) per kapita.

Dalam skenario resesi, PDB per kapita global diproyeksikan berkontraksi 0,4% pada 2023 dari tahun sebelumnya. Untuk negara maju, kontraksi tahunannya diproyeksikan lebih dalam lagi, yaitu 0,8%. Di sisi lain, pertumbuhan di negara-negara berkembang diproyeksikan melambat.

Ancaman resesi ini muncul ketika negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, masih berusaha pulih dari resesi mereka masing-masing yang dipicu oleh pandemi Covid-19.

(Baca: Badai Resesi Global Segera Tiba, Apakah Indonesia Bisa Selamat?)

Grafik garis yang menunjukkan proyeksi pertumbuhan PDB per kapita dunia antara 2022 dan
 2023, berdasarkan data dari Bank Dunia

Kekhawatiran akan terjadinya resesi global timbul menyusul kemerosotan prospek pertumbuhan ekonomi, terutama di Amerika Serikat, Tiongkok, dan wilayah Euro. Sementara pemerintah di berbagai negara juga sedang mengetatkan kebijakan, baik fiskal maupun moneter, untuk mengendalikan lonjakan harga barang dan jasa konsumen.

Jika pengetatan kebijakan moneter tidak cukup mengendalikan inflasi, Bank Dunia memperkirakan perlu ada pengetatan lanjutan. “Ini dapat menambah tekanan keuangan yang signifikan dan memicu resesi global pada 2023,” tulis Bank Dunia.

(Baca: Era Suku Bunga BI Rendah Berlalu, Selamat Datang Musim Inflasi)

Sejak 1970, dunia telah mengalami setidaknya lima resesi, yaitu pada 1975, 1982, 1991, 2009, dan 2020. Ada berbagai faktor yang terjadi baik secara bersamaan atau sebelumnya. Faktor-faktor ini termasuk krisis keuangan, perubahan besar dalam kebijakan, pergerakan tajam dalam harga minyak, serta pandemi.

Setiap kali dunia jatuh ke dalam resesi, pertumbuhan PDB Indonesia cenderung melambat (lihat grafik). Ketika resesi global 1975, misalnya, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% dari tahun sebelumnya. Ini lebih lambat 1,62 poin dari realisasi pada 1974. 

Dalam “Reforms for Recovery” yang dirilis September 2022, Bank Dunia telah memproyeksikan pertumbuhan tahunan PDB Indonesia sebesar 5,1% untuk 2022 dan 2023. Namun, tidak ada keterangan apakah ini telah mempertimbangkan potensi resesi global pada 2023.

Dalam skenario resesi, pengetatan kondisi keuangan global akan memukul keras negara-negara berkembang yang memiliki defisit transaksi berjalan yang besar dan sangat bergantung pada arus masuk modal asing. Negara-negara dengan beban utang jangka pendek atau dalam mata uang asing, baik publik ataupun swasta, juga akan terpukul keras.

Indonesia tampaknya tidak menunjukkan ciri-ciri tersebut. Indonesia masih mencatat surplus transaksi berjalan yang diperkirakan setara 1,14% dari PDB pada periode April-Juni 2022. Porsi kepemilikan asing dalam surat berharga negara (SBN) yang dapat diperdagangkan hanya 14,23% per Senin 3 Oktober 2022.

Namun, Bank Dunia memproyeksikan, pertumbuhan perdagangan dunia dapat melambat drastis dalam skenario resesi global. Perdagangan global diproyeksikan akan tumbuh 1,2% pada 2023, lebih lambat dari 5,4% pada 2022.

(Baca: Berkah Krisis Energi bagi Emiten Batu Bara)

Bank Dunia menambahkan bahwa perlambatan dalam permintaan dari luar negeri dapat menambah tekanan ke negara berkembang pengekspor komoditas. Ini terutama akibat merosotnya harga komoditas.

Ini membayang-bayangi Indonesia, yang ekspor barangnya tumbuh dua digit secara tahunan di tengah ledakan komoditas. Performa ekspor pada paruh kedua 2022 bisa melemah jika permintaan eksternal melemah, menurut ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman. Walaupun demikian, Indonesia tetap diproyeksikan akan mencatat surplus transaksi berjalan hingga 0,45% dari PDB pada tahun ini.

Editor: Aria W. Yudhistira