Advertisement
Analisis | Berkah Krisis Energi bagi Emiten Batu Bara - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Berkah Krisis Energi bagi Emiten Batu Bara

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Krisis energi menyebabkan batu bara kembali naik daun. Harganya melonjak seiring kenaikan harga minyak dan gas bumi serta dampak perang Rusia dan Ukraina. Emiten batu bara ikut meraup untung, hingga harga sahamnya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Reza Pahlevi
27 September 2022, 06.00

Sudah empat bulan berturut-turut, harga batu bara acuan (HBA) konsisten di atas US$300 per ton. Pada September 2022, HBA tercatat mencapai level US$319,2 per ton. Kondisi ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ketika puncak harga komoditas pada 2011-2012 pun, HBA tidak menyentuh US$200 per ton.

Tingginya harga batu bara dimulai sejak pertengahan tahun lalu. Mulai normalnya aktivitas publik pasca-Covid 19, menyebabkan permintaan energi, termasuk minyak dan gas, meningkat. Situasi ini diperparah dengan meletusnya konflik Rusia-Ukraina.

Meski banyak negara mulai meninggalkan pembangkit listrik batu bara, krisis energi membuat permintaan batu bara kembali meningkat. “Batu bara tak ke mana-mana. Kita masih punya 20 tahun lagi bergantung pada batu bara. Suka atau tidak!” kata Chief Operating Officer (COO) Sanaman Coal, Ben Lawson, dikutip dari Reuters dalam acara Coaltrans 2022 di Bali, 20 September 2022.

Krisis Pembawa Berkah

Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia diuntungkan oleh krisis energi ini. Meski defisit minyak dan gas, Indonesia mendapat keuntungan besar dari ekspor emas hitam.

Pada kuartal II-2022, ekspor batu bara Indonesia mencapai US$13,55 miliar. Nilai ekspor ini melonjak 155% secara tahunan (year-on-year/ yoy).

Berkah dirasakan emiten-emiten batu bara besar seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Keenam emiten batu bara besar ini mencatatkan pertumbuhan baik di pos pendapatan maupun laba bersih. Adaro menjadi emiten dengan pendapatan sekaligus laba bersih terbesar.

(Baca: Perang Rusia-Ukraina Bisa Mengerek Harga Mi Instan dan Gorengan)

Presiden Direktur dan CEO Adaro Garibaldi “Boy” Thohir mengatakan, semester I-2022 membawa perusahaannya menyentuh rekor-rekor tertinggi dalam sejarahnya.

“Pendapatan, EBITDA dan laba bersih kami mencapai rekor tertinggi kinerja semester pertama sejak perusahaan pertama kali melantai di bursa 14 tahun lalu,” katanya pada 30 Agustus 2022 lalu.

Pertumbuhan pendapatan tertinggi dicatatkan oleh DSSA. Emiten batu bara di bawah grup Sinar Mas ini sudah mencatatkan pendapatan sebesar Rp38,6 triliun pada enam bulan pertama 2022. Emiten batu bara grup Bakrie, Bumi Resources, bahkan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9.143,3% secara tahunan.

Adaro dan Indo Tambangraya bahkan masuk dalam 10 emiten dengan laba bersih terbesar pada semester I-2022. Adaro berada di posisi keenam mengalahkan Telkom, sedangkan Indo Tambangraya berada di posisi ke-10.

Tambahan Modal Transisi Energi

Keuntungan besar tahun ini pun dimanfaatkan beberapa emiten sebagai tambahan modal untuk melakukan transfomasi bisnisnya. Seperti Adaro yang memanfaatkannya untuk investasi di sektor energi terbarukan, pengembangan kawasan industri hijau, serta diversifikasi batu bara termal.

Meski begitu, kata Sekretaris Perusahaan Adaro Mahardika Putranto, transformasi ini tidak membuat Adaro meninggalkan batu bara sepenuhnya. Maksud transformasi adalah Adaro akan lebih fokus ke bisnis pertambangan dan pengolahan mineral.

“Adaro Land ditugaskan untuk mengembangkan proyek penyerapan dan penyimpanan karbon, jika proyek-proyek itu bisa menghasilkan carbon credit,” katanya dalam paparan publik, 12 September 2022.

Sementara, Indika Energy juga terus melakukan diversifikasi usaha dari sektor non-batu bara untuk menuju netral karbon pada 2050. Indika menargetkan 50% pendapatan berasal dari sektor non-batu bara.

“Indika Energy semakin meningkatkan performa ESG dan memperkuat diversifikasi di sektor non-batu bara, termasuk dalam bidang energi baru dan terbarukan, kendaraan listrik, dan nature-based solutions,” kata Wakil Direktur Utama dan Group CEO Indika Azis Armand pada 5 Agustus 2022.

Editor: Aria W. Yudhistira