Advertisement
Analisis | Orang Miskin dan Perempuan Lebih Sulit Keluar dari Krisis Ekonomi - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Orang Miskin dan Perempuan Lebih Sulit Keluar dari Krisis Ekonomi

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Indonesia dalam tahap pemulihan ekonomi imbas dari pandemi Covid-19. Meski demikian, pemulihan tidak merata. Kelompok masyarakat rentan dan perempuan paling terkena dampak pandemi. Mereka lebih sulit keluar dari penurunan pendapatan akibat krisis ekonomi.
Vika Azkiya Dihni
5 Januari 2023, 17.23

Tidak semua kelompok masyarakat merasakan dampak pemulihan ekonomi pasca- krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Kelompok masyarakat rentan, seperti rumah tangga miskin serta rumah tangga dengan anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas menghadapi tantangan yang lebih berat untuk bangkit dari pandemi.

Ini terlihat dari hasil survei UNICEF bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Kemitraan Australia-Indonesia untuk Pembangunan Ekonomi (Prospera), dan Lembaga Penelitian SMERU. Survei yang didukung Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Keuangan ini dilakukan terhadap 10.922 rumah tangga di 34 provinsi pada Februari-Maret 2022.

Hasil survei menunjukkan Indonesia mengalami pemulihan berbentuk “K” (k-shape recovery). Istilah ini menunjukkan bahwa ada kelompok ekonomi yang tumbuh dan pulih lebih cepat, tetapi ada juga yang masih terpuruk dan pulih lebih lama.

Seperti terlihat dari grafik di bawah, kelompok masyarakat yang tingkat pengeluarannya lebih tinggi mengalami pemulihan lebih cepat. Pada 20% rumah tangga teratas (kuintil 5) terdapat 19,7% yang mengalami peningkatan pendapatan antara November 2020 dan Februari 2022. Sedangkan pada kelompok rumah tangga terbawah (kuintil 1) hanya 14,9%.  

Begitu juga pada persentase rumah tangga yang mengalami penurunan pendapatan. Semakin tinggi pengeluaran yang artinya semakin sejahtera, lebih sedikit terkena dampak krisis. (Baca: Mengapa Dampak Krisis Ekonomi Lebih Parah di Pulau Jawa?)

Survei juga mencatat rumah tangga yang mengalami pemulihan lebih lambat adalah rumah tangga yang salah satu anggotanya disabilitas, rumah tangga dengan anak-anak, rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan, rumah tangga yang dipimpin oleh laki-laki atau perempuan yang latar belakang pendidikannya lebih rendah, dan rumah tangga lanjut usia (lansia)

(Baca: Rapuhnya Nasib Lansia Indonesia di Masa Pagebluk)

Proporsi rumah tangga yang mengalami penurunan pendapatan di kelompok rentan ini lebih tinggi di antara kelompok yang mengalami penurunan pendapatan. Demikian pula di antara mereka yang mengalami peningkatan pendapatan, proporsi kelompok-kelompok ini lebih rendah. (Baca: Cukupkah Upah Minimum Membiayai Hidup Berumah Tangga?)

“Survei ini membuktikan kekhawatiran kami terhadap rumah tangga rentan di Indonesia yang tetap berada dalam kondisi rentan. Mereka membutuhkan dukungan, terutama dalam menghadapi kenaikan harga pangan,” kata Sujala Pant, Wakil Residen UNDP di Indonesia, saat diskusi dan peluncuran hasil survei, pada 15 Desember 2022.

Hasil survei juga menemukan kelompok rentan ini cenderung menggunakan strategi koping negatif dalam menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Strategi ini meliputi meningkatkan utang, seperti meminjam uang dan menggadaikan atau menjual aset. Selain itu melakukan penghematan besar-besaran, seperti mengurangi pengeluaran untuk makan. 

Rumah tangga yang cenderung menggunakan mekanisme koping negatif kebanyakan adalah rumah tangga dengan anak-anak dan yang mengalami penurunan pendapatan.

Sementara mekanisme koping positif adalah langkah-langkah positif untuk mengatasi guncangan yang merugikan mata pencaharian mereka. Misalnya, mendirikan bisnis baru atau mengambil pekerjaan sampingan.

Kerawanan Pangan Tinggi di Kelompok Rentan

Imbas dari penurunan pendapatan memaksa rumah tangga mengurangi pengeluaran mereka untuk makanan. Kondisi ini membuat kerawanan pangan meningkat terutama pada rumah tangga termiskin. 

Kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk kesehatan, termasuk bisa meningkatkan penurunan berat badan anak (wasting) dan tinggi badan rendah (stunting).

Prevalensi kerawanan pangan lebih tinggi terjadi pada rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan, yang memiliki anggota keluarga lanjut usia, dan terdapat anak-anak.

Ketidaksetaraan Gender

Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan kemunduran perempuan di pasar tenaga kerja. Dengan kata lain, perempuan secara tidak proporsional dirugikan dalam pasar kerja karena pandemi.

Proporsi pekerja perempuan yang menyatakan berhenti pada 2022 dibandingkan 2019 (sebelum pandemi) empat kali lebih banyak dibandingkan proporsi pekerja laki-laki.

Alasan responden laki-laki yang tidak melanjutkan pekerjaan pada 2022 sebagian besar disebabkan oleh alasan terkait Covid-19. Sementara mayoritas perempuan yang tidak lagi bekerja pada 2022 dilaporkan karena memikul beban pekerjaan rumah tangga.

Salah satunya seiring pemberlakuan sekolah daring selama pandemi. Para ibu membantu anak-anak mereka mengerjakan tugas sekolah yang menjadi pekerjaan rumah tangga tambahan.

Tercatat sebanyak 65% anak mengandalkan ibu mereka untuk membantu selama sekolah daring, dibandingkan dengan 24,5% anak yang mengandalkan ayah. Kemudian sebanyak 69,9% keluarga juga menyerahkan tanggung jawab melakukan pekerjaan rumah tangga kepada perempuan. 

Memerangi Ketidaksetaraan Pemulihan

Athia Yumna, Wakil Direktur Bidang Penelitian dan Penjangkauan the SMERU Research Institute, mengungkapkan bahwa pemerintah perlu mengatasi ketimpangan ekonomi dengan meningkatkan program bantuan sosial.

“Program perlindungan sosial perlu diperluas dan ditingkatkan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat,” katanya.

Sementara Maniza Zaman, perwakilan UNICEF Indonesia, menambahkan pentingnya meningkatkan sistem perlindungan sosial. Di samping juga mengatasi krisis pembelajaran dan memastikan pendidikan anak-anak penyandang disabilitas tidak tertinggal saat negara pulih dari Covid-19 dan menghadapi dampak krisis global. 

“Ini merupakan kunci Indonesia untuk menjadi salah satu dari 10 ekonomi terbesar dunia pada 2030, mencapai status berpenghasilan tinggi, dan mengurangi kemiskinan hingga mendekati nol.”

Editor: Aria W. Yudhistira